Udara dini hari di Bandar Lampung merayap pelan, menyusup melalui celah-celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter yang menjadi istana sederhana bagi Arham dan Humaira. Lampu neon jalanan di luar memantulkan bias kekuningan yang menerobos tirai kain kusam, menciptakan bayangan samar di dinding kamar yang bercat putih pudar. Suara jangkrik bersahutan dari kebun kosong sebelah, menyatu dengan deru angin malam yang membawa hawa dingin sisa hujan sore kemarin. Di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai, Arham terjaga dalam diam. Pikirannya berkecamuk bukan lagi karena kecemasan finansial seperti minggu-minggu pertama pernikahan mereka, melainkan karena rasa syukur yang begitu mendalam atas kelapangan rezeki yang kini mulai mereka rasakan. Matanya menatap langit-langit eternit, sementara di sampingnya, Humaira tertidur pulas dalam balutan selimut rajut berwarna krem, napasnya teratur membawa ketenangan yang menyejukkan jiwa. Arham perlahan bangkit dari pembaringan, berhati-hati agar tidak membangunkan sang istri yang tampak begitu lelah setelah seharian membereskan rumah dan membantu menyortir berkas desain pesanan klien. Ia berjalan mengendap-endap ke sudut ruangan, lalu mengambil sebuah buku catatan kecil bersampul cokelat yang terselip di atas meja kayu.
"Mas... belum tidur?" suara Humaira terdengar serak khas orang baru bangun tidur, mengalun lembut membelah sunyi ruangan. Ia mengubah posisi tidurnya, lalu menatap punggung suaminya yang bersila di dekat meja.
Arham menoleh ke belakang dengan senyim hangat yang tersungging di bibirnya. "Belum, Humaira. Ada beberapa ayat dan catatan hadis yang tadi sore kubaca, jadi terbangun mau merenungkannya sebentar. Maaf ya kalau gerakannya bikin kamu kebangun."
Humaira bangkit dari posisinya, menyandarkan punggungnya ke dinding, lalu menarik selimut rajutnya menutupi bahu. "Kenapa, Mas? Cerita sama aku. Tadi sore aku lihat kamu senyum-senyum sendiri waktu baca buku itu. Ada hal menarik apa?"
Arham kembali berjalan mendekati tempat tidur, lalu duduk bersila di tepi kasur busa. Ia menatap mata istrinya yang jernih dalam temaram lampu tidur berwarna merah redup. "Bukan apa-apa, Humaira. Aku cuma sedang merenungkan bagaimana cara Rasulullah sallallahu alaihi wasallam memuliakan dan mencintai istri-istrinya melalui panggilan-panggilan penuh kasih sayang yang begitu indah."
Humaira mengerjap pelan, rasa penasarannya terpancar jelas di balik sorot matanya yang teduh. "Panggilan penuh kasih sayang seperti apa, Mas? Maksudnya panggilan khusus gitu?"
"Iya, Sayang," jawab Arham dengan nada suara yang begitu lembut, sengaja menyematkan kata panggilan istimewa itu. "Rasulullah dulu memanggil Sayyidah Aisyah dengan sebutan Humaira, yang artinya si pipi kemerahan karena rona wajahnya yang cerah. Beliau juga sering memanggilnya dengan panggilan kesayangan Ya Aisy sebagai bentuk kelembutan hati."
Humaira tersenyum manis, pipinya seketika merona merah jambu mendengar cara suaminya menyebut kata panggilan tersebut. "Wah, jadi namaku ini ternyata punya sejarah panggilan cinta yang indah sekali ya dari suri teladan kita."
"Tentu saja, Humaira. Dan aku ingin mulai hari ini dan seterusnya, kita tidak hanya sekadar saling memanggil dengan nama biasa, tapi memuliakan satu sama lain dengan panggilan-panggilan cinta yang diajarkan oleh sunnah, sebagai wujud syukur atas ibadah terpanjang yang sedang kita jalani ini," ucap Arham tulus sambil merengkuh jemari istrinya.
❖ ❖ ❖
Cahaya matahari pagi mulai merangsek masuk melalui celah jendela kontrakan, membawa kehangatan yang perlahan mengusir sisa dingin subuh. Di atas meja kayu kecil, secangkir teh tawar dan sepiring kecil ubi rebus mengepulkan asap tipis. Tujuan utama mereka hari ini sederhana namun penuh makna: merajut keharmonisan rumah tangga dengan membiasakan bahasa cinta yang bernilai ibadah, di mana setiap kata yang keluar dari lisan bukan sekadar komunikasi harian, melainkan bentuk penghormatan tertinggi seorang suami kepada istrinya. Arham bertekad untuk menjadikan rumah kontrakan mereka sebagai taman surga kecil yang dipenuhi oleh kelembutan tutur kata, melupakan segala kepenatan masa lalu ketika dompet mereka masih tipis dan kecemasan sempat merajai hari-hari awal pernikahan.
"Humaira, hari ini aku mau coba buatkan sarapan spesial buat kamu sebelum berangkat ke kantor," ucap Arham riang sambil beranjak menuju dapur mungil mereka.
Humaira merapikan sapu ijuk di sudut ruangan, lalu tersenyum lebar menatap suaminya. "Wah, seorang Arham yang biasanya sibuk dengan laptop sekarang mau turun tangan ke dapur? Ini mukjizat pagi apa lagi, Mas?"
"Ini namanya wujud nyata dari bahasa cinta, istriku tercinta," balas Arham sambil tertawa kecil, mulai memotong beberapa siung bawang di atas talenan kayu kecil. "Rasulullah itu tidak pernah segan membantu pekerjaan rumah tangga istrinya. Beliau menjahit pakaiannya sendiri, memperbaiki sandalnya, dan selalu bersikap lembut di dalam rumah."
Humaira mendekat, lalu berdiri di samping suaminya sambil memperhatikan gerakannya yang mulai terbiasa dengan urusan dapur. "Aku senang sekali dengar kamu bilang begitu, Mas. Terkadang, kemuliaan dalam rumah tangga itu bukan diukur dari seberapa mewah rumah kita, tapi dari seberapa lembut lisan dan tangan suami yang memuliakan istrinya."
"Mulai sekarang, aku ingin membiasakan memanggilmu dengan sebutan-sebutan penuh kasih sayang yang membuatmu merasa dimuliakan, Humaira. Karena bagiku, kamu adalah amanah terindah yang dititipkan Allah untuk kujaga kehormatannya," tutur Arham sungguh-sungguh, menatap lekat mata istrinya tanpa ada keraguan sedikit pun.
Humaira merasakan dadanya bergemuruh hebat oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Air mata bahagianya nyaris menetes di sudut mata, namun ia segera menahannya dengan senyuman paling manis yang ia miliki. "Terima kasih, Mas... panggilan terindah itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini."
"Sama-sama, Humaira-ku. Sekarang, bantu aku ambilkan piring di rak atas ya, sebentar lagi telurnya matang," pinta Arham dengan nada manja yang membuat suasana pagi itu terasa begitu romantis dan penuh berkah.
❖ ❖ ❖
Transisi dari kehangatan pagi menuju kesibukan siang hari dirasakan betul ketika Arham bersiap-siap mengenakan kemeja kerjanya yang kini tampak jauh lebih rapi dan bersih dibanding bulan lalu. Di luar kontrakan, deru kendaraan bermotor mulai memadati jalanan aspal kompleks perumahan. Arham berdiri di depan cermin kecil, merapikan kerah bajunya sambil sesekali melirik ke arah Humaira yang sedang melipat sisa pakaian bersih di atas kasur busa. Perubahan suasana dari obrolan spiritual subuh tadi menuju rutinitas dunia kerja di siang hari menuntut keseimbangan batin yang matang, di mana nilai-nilai kasih sayang yang baru saja mereka diskusikan harus dibawa serta keluar rumah untuk menghadapi dinamika pekerjaan dan interaksi sosial yang terkadang melelahkan.
"Mas, dokumen laporan keuangan untuk klien agensi di Jakarta yang semalam kamu kerjakan sudah dimasukkan ke dalam tas kerja belum?" tanya Humaira mengingatkan tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan pakaian.
Arham meraba tas kerjanya di atas kursi, lalu mengangguk mantap. "Sudah beres semua, Humaira. Tinggal dibawa ke kantor buat dikirimkan lewat surel utama siang ini."