Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #35

Merawat Orang Tua

Langit sore di atas kawasan Pasar Sentral meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik yang melintang semrawut. Udara terasa lembap, membawa aroma khas kayu manis, beras curah, dan peluh manusia yang berlalu-lalang menyelesaikan transaksi terakhir hari itu. Di sudut lorong blok B, los sembako milik Arham tampak lebih lengang dibanding biasanya, namun di dalam toko kecil itu kini terselip nuansa yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Di balik meja timbangan kuningan yang mengkilap, Arham berdiri sambil melipat kertas pembungkus, sementara matanya sesekali melirik ke arah bilik belakang tempat ibunya baru saja merebahkan diri karena kelelahan setelah perjalanan panjang dari kampung.

Humaira keluar dari bilik kecil tersebut dengan langkah pelan, membawa nampan berisi segelas air hangat dan handuk kecil. Perempuan itu mengenakan jilbab abu-abu gelap yang senada dengan gamis kerjanya, wajahnya menyiratkan kelelahan fisik namun tetap memancarkan kelembutan yang tulus. Ia mendekati Arham yang sedang merapikan karung-karung beras di sudut ruangan.

"Bagaimana kondisi Ibu di dalam, Mai? Apakah beliau sudah bisa tidur lelap setelah perjalanan jauh tadi?" tanya Arham dengan nada cemas yang tertahan di balik senyum tipisnya.

Humaira meletakkan nampan di atas meja kasir, lalu menghela napas pendek untuk mengusir rasa penat di punggungnya. "Alhamdulillah, tadi setelah minum air hangat dan meminum obat penurun tensinya, beliau sudah mulai pulsa tidurnya, Kang. Tapi napasnya masih agak tersengal karena kelelahan di bus kemarin."

Arham menghentikan pekerjaannya, menatap istrinya dengan sorot mata penuh rasa terima kasih yang mendalam. "Terima kasih banyak ya, Mai. Aku tahu kehadiran Ibu yang mendadak untuk tinggal bersama kita sementara waktu ini pasti menambah beban pikiran dan fisikmu, terutama di tengah kesibukan toko kita yang sedang padat."

Humaira menggeleng pelan, meraih tangan suaminya dan meremasnya lembut untuk memberikan ketenangan. "Jangan bicara begitu, Kang. Ibu adalah ibu kita juga. Sudah kewajiban kita merawat beliau di masa tua dan saat kesehatannya sedang menurun. Memang melelahkan secara fisik, tapi aku ikhlas menjalaninya demi mencari ridha Allah dan baktimu pada beliau."

Mendengar ketulusan itu, dada Arham terasa hangat, menghapus separuh kekhawatiran yang sejak kemarin menggelayuti pikirannya tentang bagaimana menyelaraskan antara tanggung jawab sebagai suami, pedagang pasar, dan seorang anak yang berbakti. "Kamu selalu tahu cara membuat hatiku tenteram, Mai. Aku hanya takut kalau nanti sikap Ibu yang kadang sensitif malah membuatmu tertekan."

"Namanya juga orang tua yang sedang sakit dan jauh dari suasana kampung halamannya, Kang. Wajar kalau beliau merasa asing atau mudah tersinggung. Kita hadapi pelan-pelan dengan kepala dingin dan kesabaran ekstra," balas Humaira menenangkan, meski di dalam lubuk hatinya ia tahu ujian baru dalam rumah tangga mereka baru saja dimulai.

❖ ❖ ❖

Suasana malam semakin larut, deru kendaraan dari jalan raya utama mulai mereda, menyisakan suara geritan pintu rolling door toko-toko tetangga yang mulai ditutup rapat. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini adalah merapikan pembukuan mingguan serta menyiapkan segala keperluan khusus untuk ibunya Arham yang akan tinggal bersama mereka selama beberapa pekan ke depan untuk menjalani pengobatan rawat jalan di kota. Di atas meja kayu, buku catatan bersampul tebal terbuka lebar di bawah sorotan lampu belajar portabel, berdampingan dengan kantong-kantong obat resep dokter.

Humaira memegang pulpen, jemarinya menari di atas baris-baris angka anggaran belanja bulanan yang kini harus dibagi dengan pos pengeluaran medis tambahan. "Kang, kalau kita hitung biaya pembelian obat rutin Ibu setiap minggu ditambah ongkos transportasi bolak-balik ke rumah sakit nanti, anggaran kita akan sangat pas-pasan."

Arham menghentikan aktivitasnya melipat nota, lalu menatap lembaran keuangan itu dengan kerutan di keningnya. "Iya, Mai. Mau tidak mau kita harus lebih berhemat lagi untuk urusan konsumsi harian. Mungkin kita kurangi sedikit belanja kebutuhan yang sifatnya sekunder di toko."

"Aku setuju, Kang. Kesehatan Ibu adalah prioritas utama sekarang. Soal makanan di rumah, kita bisa masak yang sederhana saja, yang penting gizinya cukup untuk Ibu," ujar Humaira tegas tanpa ada nada keberatan sedikit pun dalam suaranya.

Namun di tengah perbincangan itu, tiba-tiba terdengar suara ketukan pelan dari arah pintu bilik belakang, disusul suara parau ibunya Arham memanggil dari dalam kamar. "Arham... Arham, tolong ambilkan air minum di kendi, dada Ibu terasa agak sesak."

Mendengar panggilan itu, Arham dan Humaira langsung bergegas menghentikan kegiatan mereka. Humaira mendahului langkah suaminya, mengambil gelas berisi air hangat dari termos, lalu membukakan pintu bilik dengan senyuman santun.

"Ini airnya, Bu. Pelan-pelan minumnya ya, Bu," ucap Humaira lembut sambil membantu mertuanya duduk bersandar di bantal.

Ibu Arham, perempuan paruh baya berkerudung putih tipis dengan wajah pucat, meneguk air itu sedikit demi sedikit. Setelah itu, ia menatap Humaira dengan tatapan tajam dan mengkritik. "Kamu ini kalau bikin teh atau air hangat jangan terlalu panas, Humaira. Tenggorokan orang tua jadi sakit rasanya. Lain kali diingat."

Humaira mengangguk sabar, menyembunyikan rasa perih sesaat di dadanya. "Ibu, maafkan saya. Nanti saya buatkan yang suhunya pas di lidah Ibu."

Arham yang berdiri di ambang pintu merasa tidak enak hati melihat kejadian itu, namun ibunya langsung mengalihkan pandangan ke arahnya. "Arham, kamupun jangan terlalu malam bekerja di luar toko. Udara malam di kota ini tidak bagus untuk paru-paru orang tua sepertiku, bikin sesak terus."

"Iya, Bu. Ini tinggal merapikan sedikit catatan saja, setelah itu kami langsung istirahat," jawab Arham dengan nada sabar yang teramat sangat.

❖ ❖ ❖

Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di balik deretan ruko bertingkat, memantulkan kilau keemasan pada lantai lorong Pasar Sentral. Arham sudah membuka separuh rolling door tokonya, sementara Humaira sibuk di dapur kecil belakang menyiapkan sarapan bubur beras merah khusus untuk ibu mertuanya sesuai anjuran dokter gizi. Di tengah kesibukan pagi itu, transisi kehidupan mereka benar-benar diuji oleh ritme baru yang menuntut pengorbanan waktu dan tenaga yang tidak sedikit.

Pak Mardani, pedagang kelontong tetangga lorong, lewat sambil membawa kantong sampah kecil dan menyapa Arham dengan ramah. "Pagi, Arham! Wah, kudengar dari tetangga sebelah ibumu datang dari kampung ya? Selamat datang ya buat beliau di pasar ini."

Arham tersenyum ramah, menyeka keringat di dahinya. "Pagi, Pak Mardani. Alhamdulillah iya, Pak, sedang berobat jalan di kota sekalian istirahat di sini."

"Baguslah kalau begitu, saatnya berbakti sama orang tua. Tapi kamu harus siap-siap mental ya, Ham, merawat orang tua yang sedang sakit di tempat usaha itu tidak mudah. Butuh kesabaran seluas samudra," nasihat Pak Mardani setengah berseloroh namun mengandung kebenaran nyata.

"Insya Allah, Pak. Mohon doanya saja dari tetangga sekalian agar kami diberi kekuatan dan kesabaran," balas Arham tulus.

Tidak lama kemudian, Humaira keluar dari bilik belakang membawa mangkuk bubur hangat di atas nampan kecil. Wajahnya tampak sedikit pucat karena kurang tidur, namun ia tetap berusaha menampilkan senyuman terbaiknya saat berpapasan dengan beberapa pelanggan pagi yang mulai berdatangan ke toko.

Lihat selengkapnya