Matahari sore baru saja meredup di balik gugusan awan kelabu yang menggantung rendah di atas langit kota, menyisakan bias cahaya jingga kemerahan yang menyusup lembut melalui celah jendela kaca nako ruang tengah kontrakan Arham dan Humaira. Di atas lantai semen yang telah dilapisi tikar gulung bermotif bunga usang, Arham duduk bersila sambil memegang sehelai mushaf Al-Qur'an berukuran sedang dengan sampul kulit sintetis yang mulai mengelupas di bagian sudutnya. Di sampingnya, Humaira duduk bersimpuh rapi mengenakan mukena putih bersih berenda halus, menemani sang suami mengulang hafalan surah-surah pendek selepas menunaikan shalat ashar berjamaah. Suasana di dalam rumah petak berukuran minimalis itu terasa begitu damai dan syahdu, jauh dari ingar-bingar kebisingan kendaraan bermotor di jalan raya luar gang, seolah dunia luar dengan segala hiruk-pikuknya berhenti berputar untuk sesaat demi memberikan ruang bagi ketulusan cinta dan keimanan yang bersemi di dalam dinding-dinding sederhana tersebut.
"Sampai di ayat berapa tadi hafalan surat Al-Mulk kita, May?" tanya Arham lembut sambil mendongakkan kepalanya, menatap wajah istrinya yang tampak tenang dengan bias cahaya lampu neon putih melekat di pipinya.
Humaira merapikan letak mukena di bawah dagunya, lalu tersenyum tipis seraya melirik ayat pada mushaf di pangkuan suaminya. "Kemarin kita baru sampai di ayat dua puluh sembilan, Mas. Coba mari kita ulang dari ayat tersebut biar semakin lancar."
"Baiklah, bismillah ya," balas Arham mantap, menarik napas dalam-dalam sebelum mulai melantunkan ayat suci dengan suara baritonnya yang tenang, merambat memenuhi setiap sudut ruangan kecil itu.
Suara bacaan Al-Qur'an yang bergantian meluncur dari bibir Arham dan Humaira menciptakan harmoni ritmis yang sangat menenangkan jiwa, menghapuskan segala penat dan sisa-sisa beban mental akibat badai ujian hidup yang silih berganti mendera rumah tangga mereka selama beberapa bulan terakhir.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari kebersamaan mereka di sore hari ini bukanlah sekadar mengisi waktu luang atau mengejar target khatam bacaan semata, melainkan merajut harmoni tiga jiwa—melibatkan kehadiran sang buah hati tercinta yang kini mulai aktif bergerak di dalam kandungan Humaira yang menginjak usia tujuh bulan. Di tengah keterbatasan ekonomi dan himpitan hidup di kota besar, Arham dan Humaira bertekad bulat untuk membangun fondasi mental dan spiritual yang sangat kuat bagi anak pertama mereka sejak dari dalam kandungan, melalui kebiasaan melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an setiap hari. Mereka ingin rumah kecil ini tidak hanya sekadar tempat berteduh dari panas dan hujan, melainkan sebuah madrasah pertama yang dipenuhi keberkahan, zikir, dan cinta kasih karena Allah Swt. Arham ingin memastikan bahwa darah daging yang kelak lahir ke dunia ini tumbuh dalam dekapan nilai-nilai kejujuran dan ketulusan iman yang selama ini ia dan istrinya pertahankan mati-matian.
"Mas, dedek bayi dari tadi sepertinya nendang-nendang pelan pas kamu baca ayat tentang air yang mengalir di ayat tiga puluh," bisik Humaira antusias sambil menuntun tangan kanan Arham perlahan untuk diletakkan di atas permukaan perutnya yang membuncit.
Arham merasakan sentuhan kecil dan lembut dari dalam perut istrinya, membuat senyuman lebar langsung mengembang di wajah lelahnya seketika. "Wah, benar, May! Anak Abi rupanya ikut menyimak bacaan Al-Qur'an ya dari dalam sana," ucap Arham dengan nada suara gemetar penuh haru, menatap perut istrinya dengan tatapan penuh cinta kasih yang teramat dalam.
Humaira tertawa kecil melihat ekspresi suaminya yang selalu tampak takjub setiap kali merasakan gerakan janin mereka. "Iya, Mas. Setiap kali kita ngaji bareng, gerakannya selalu aktif, seolah dia juga pengen ikut melantunkan ayat sucinya."
Arham mengangguk pelan, kembali merengkuh tangan istrinya dengan lembut seraya mengecup punggung tangan tersebut penuh rasa syukur.
❖ ❖ ❖
Transisi dari momen keintiman spiritual menuju aktivitas sore hari berjalan begitu cair tatkala azan maghrib mulai berkumandang bersahut-sahutan dari menara masjid terdekat, memecah keheningan senja dengan seruan agung keesaan Sang Pencipta. Arham segera menutup mushaf di pangkuannya dengan hati-hati, meletakkannya di atas rak kayu gantung di dinding, lalu bangkit berdiri untuk merapikan sajadah bersama sang istri tercinta. Suasana rumah berubah sedikit sibuk ketika Humaira bergegas menuju dapur kecil untuk menyiapkan menu berbuka puasa sunnah senin-kamis yang telah ia siapkan sejak siang hari—hanya berupa sepiring tahu goreng hangat, sayur bening bayam, dan sebakul nasi putih mengepul. Arham menyusul ke dapur untuk membantu membawakan nampan berisi teko air putih hangat ke atas meja makan kecil di sudut ruangan, menikmati setiap detik kebersamaan sederhana yang terasa jauh lebih mewah daripada pesta megah mana pun di dunia ini.
"Alhamdulillah, menu hari ini walau sederhana tapi kelihatannya sedap banget, May," puji Arham tulus saat melihat hidangan tersaji rapi di hadapannya.
Humaira menuangkan air putih hangat ke dalam cangkir suaminya dengan senyuman manis di bibirnya. "Sederhana tapi kalau dinikmati bareng suami tercinta rasanya jadi istimewa, Mas."