Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #38

Nasihat Bijak Sang Ibu

Deru angin sore di Kota Bandar Lampung berembus lembut, membawa aroma basah tanah yang tersiram hujan sesaat sebelum senja membenturkan warna jingga keemasan di ufuk barat. Di dalam ruang tamu kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter yang kini telah tertata jauh lebih rapi, Arham duduk bersila di atas karpet tipis bersama sang ibu—Ibu Siti—yang baru saja tiba dari desa menaiki bus antarkota siang tadi. Suasana di dalam ruangan mendadak terasa hangat oleh kehadiran sosok wanita paruh baya berkerudung abu-abu tua yang membawa serta bungkusan rantang berisi makanan khas rumahan. Di hadapan mereka, Humaira tampak sibuk menyiapkan cangkir teh hangat dengan gerakan cekatan, sementara senyuman ramah terus menghiasi bibirnya untuk menyambut sang ibu mertua yang sudah lama dinantikan kedatangannya.

"Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa sampai sini dengan selamat setelah perjalanan jauh dari kampung, Bu," ucap Arham sambil mencium takzim tangan ibunya yang terasa lembut dan berkerut dimakan usia.

Ibu Siti tersenyum lebar, menepuk pelan pundak anak laki-lakinya itu dengan penuh rasa rindu. "Iya, Nak. Perjalanan lancar, meski tadi sempat agak tersendat macet dekat terminal Rajabasa. Ibu kangen sekali sama kalian berdua, makanya sengaja datang untuk nengok keadaan rumah tangga kalian di bulan-bulan pertama ini."

Humaira mendekat membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat dan sepiring ubi goreng buatan tangannya, lalu meletakkannya dengan hati-hati di atas meja kayu kecil. "Silakan diminum tehnya, Bu. Maaf kalau penyambutannya sangat sederhana di kontrakan kami yang sempit ini."

Ibu Siti meraih cangkir tersebut, lalu menatap Humaira dengan sorot mata penuh kasih sayang keibuan. "Jangan ngomong begitu, Humaira. Rumah sekecil apa pun kalau dipenuhi dengan cinta dan ketulusan, rasanya akan jauh lebih luas daripada istana megah. Ibu senang melihat kalian berdua tampak rukun dan bahagia."

"Terima kasih banyak, Bu. Kehadiran Ibu di sini sudah menjadi berkah yang luar biasa bagi kami," balas Humaira lembut sambil duduk bersimpuh di samping suaminya.

Arham mengangguk setuju, matanya berbinar menatap sang ibu dan istrinya dalam satu bingkai kehangatan keluarga kecil yang baru mereka rintis bersama dengan penuh perjuangan.

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam sepenuhnya, menyisakan temaram lampu neon di dalam ruangan yang mulai menerangi sudut-sudut kontrakan. Di atas meja makan sederhana, aroma masakan rumahan yang dibawa oleh Ibu Siti berpadu harum dengan uap teh melati. Tujuan utama kunjungan sang ibu malam ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan untuk memberikan pengarahan, restu, serta bimbingan langsung kepada Arham dan Humaira dalam mengarungi bahtera rumah tangga yang masih seumur jagung. Ibu Siti tahu betul bahwa kehidupan pernikahan di awal-awal bulan sering kali diwarnai oleh penyesuaian karakter yang tidak mudah, gesekan-gesekan kecil akibat perbedaan kebiasaan, serta ujian mental yang menuntut kedewasaan bersikap dari kedua belah pihak.

"Arham, Humaira... Ibu sengaja datang karena ingin melihat langsung bagaimana kalian menyesuaikan diri setelah resmi menjadi suami istri," ucap Ibu Siti memulai pembicaraan serius namun bernada penuh kelembutan sambil meletakkan cangkirnya di atas meja.

Arham dan Humaira saling berpandangan sejenak sebelum kembali menatap lurus ke arah ibu mertua sekaligus ibu kandung mereka tersebut.

"Ada hal yang ingin Ibu sampaikan atau nasihatkan khusus buat kami berdua, Bu?" tanya Arham dengan nada penasaran yang dibalut rasa hormat.

Ibu Siti tersenyum bijak, menarik napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. "Ibu cuma mau mengingatkan kalian, bahwa hidup berumah tangga itu tidak selamanya lurus dan indah seperti di dalam dongeng. Pasti akan ada masa di mana kalian menemukan tabiat asli pasangan kalian yang kadang membuat kening berkerut atau bahkan memancing emosi."

Humaira menyimak dengan saksama, jemarinya meremas pelan ujung jilbabnya. "Iya, Bu. Kadang kami juga masih harus banyak belajar memahami ego masing-masing yang berbeda latar belakang."

"Nah, itulah kuncinya, Humaira," sambung Ibu Siti tegas namun penuh kasih. "Rumah tangga itu butuh kesabaran ekstra. Suami harus belajar memahami kelemahan istri dengan kelembutan, begitu juga sebaliknya. Jangan pernah jadikan kekurangan pasangan sebagai bahan celaan saat kalian sedang berselisih paham."

❖ ❖ ❖

Transisi malam semakin larut, membawa keheningan yang syahdu di luar lingkungan kompleks perumahan sederhana tempat mereka tinggal. Suara jangkrik bersahutan dari kebun kosong di sebelah kontrakan, berpadu dengan deru kendaraan yang mulai berkurang di jalan raya utama. Arham membantu ibunya membereskan sisa piring makan malam, sementara Humaira merapikan tikar dan bantal di ruang tengah yang akan digunakan sebagai tempat istirahat sang ibu malam ini. Transisi dari obrolan ringan sore hari menuju nasihat mendalam malam ini memberikan keheningan batin yang kontras bagi Arham dan Humaira, menyadarkan mereka bahwa petuah orang tua adalah kompas terbaik dalam mengarungi bahtera rumah tangga agar tidak mudah oleng diterpa badai kesalahpahaman kecil.

"Bu, istirahatlah di kamar dalam sama Humaira ya. Biar nanti kasur busanya dibagi dua dengan nyaman," tawar Arham sambil membawa mangkuk kotor ke arah dapur kecil.

Ibu Siti menggeleng pelan sambil tersenyum menolak tawaran tersebut. "Tidak usah repot-repot, Arham. Ibu tidur di ruang tengah sini saja pakai tikar dan selimut tipis juga sudah sangat nyaman. Kalian berdua istirahatlah di kamar, besok pagi masih harus siap-siap buat kerja."

Humaira mendekati Ibu Siti, lalu merapikan letak bantal di sudut ruangan. "Biar Humaira temani ya, Bu, kalau ada apa-apa malam nanti tinggal panggil saja."

Lihat selengkapnya