Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #40

Malam Penuh Syukur

Langit malam di atas kawasan Pasar Sentral membentang luas tanpa bintang, menyisakan kelam yang pekat namun menenangkan setelah deru bising aktivitas perdagangan seharian penuh mereda. Udara malam membawa sisa-sisa aroma debu jalanan dan uap basah dari selokan pasar, namun di dalam los sembako milik Arham, suasana justru terasa begitu kontras. Lampu neon 15 watt memancarkan cahaya temaram kekuningan yang menyinari dinding-dinding kayu tempat karung beras tersusun rapi. Di balik meja timbangan kuningan yang berkilau bersih, Arham duduk bersandar di kursi kayunya, merilekskan otot-otot bahunya yang terasa kaku setelah seharian berdiri melayani para pelanggan setia.

Humaira melangkah keluar dari bilik kecil di bagian belakang toko, membawa nampan berisi dua cangkir teh manis hangat dan seiring piring kecil berisi singkong rebus buatan tangannya sendiri. Perempuan itu mengenakan jilbab rumahannya yang longgar berwarna hijau lumut, wajahnya tampak lelah namun dihiasi oleh senyuman tulus yang memancarkan kedamaian batin yang luar biasa setelah melewati berbagai badai ujian hidup yang panjang.

"Minum dulu, Kang. Malam ini udaranya agak dingin, pas sekali kalau kita nikmati teh hangat sambil melepas penat," ujar Humaira pelan sambil meletakkan nampan itu di atas meja kasir.

Arham menegakkan tubuhnya, menyambut uluran cangkir teh yang disodorkan istrinya dengan tatapan penuh kasih sayang. "Terima kasih, Mai. Kamu selalu tahu apa yang kubutuhkan setelah hari yang melelahkan begini. Singkong rebusnya juga terlihat pulen sekali."

Humaira menarik kursi plastik kecil, duduk tepat di sebelah suaminya dengan posisi yang sangat dekat. "Iya, tadi siang ibu sempat mengajarkan cara merebus singkong agar empuk dan merekah sempurna seperti buatan beliau di kampung. Katanya rahasianya ada di sedikit garam yang dicelupkan sejak air pertama mendidih."

Arham tersenyum hangat, menyeruput teh manisnya yang perlahan menghangatkan kerongkongannya. "Ibu memang paling tahu soal urusan dapur tradisional. Senang rasanya melihat beliau sudah bisa tertawa lepas dan beraktivitas ringan bersama kita di sini, jauh berbeda dari ketegangan minggu-minggu pertama kedatangannya."

"Alhamdulillah, Kang. Semua itu berkat kesabaran dan keikhlasanmu juga dalam membimbing suasana rumah kita," balas Humaira lembut, matanya berbinar menatap lurus ke dalam mata suaminya yang menyiratkan keteduhan jiwa.

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam los sembako itu semakin larut semakin senyap, menyisakan detak jarum jam dinding tua dan suara jangkrik dari kebun kecil di belakang gedung pasar. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini bukanlah lagi menghitung keuntungan finansial yang melimpah atau merisaukan naik turunnya harga sembako di distributor, melainkan merajut kembali ketenangan batin dan mensyukuri setiap jengkal napas serta rezeki halal yang telah dianugerahkan kepada keluarga kecil mereka. Di atas meja kayu, buku catatan keuangan harian ditutup rapat, digantikan oleh keheningan yang menyatukan hati keduanya dalam rasa syukur yang mendalam.

"Mai, kalau dipikir-pikir kembali perjalanan hidup kita selama berdagang di Pasar Sentral ini, rasanya seperti menaiki perahu di tengah lautan yang penuh badai," ucap Arham lirih, memecah keheningan malam sambil menatap kepulan uap tipis dari cangkirnya.

Humaira mengangguk pelan, jemarinya meremas lembut ujung jilbabnya sendiri. "Iya, Kang. Dari fitnah keji soal beras beracun, teror penagih utang fiktif, sampai ketegangan saat awal kedatangan Ibu... semuanya datang silih berganti menguji ketahanan mental kita."

"Tapi tahukah kamu apa hal paling berharga yang kusadari malam ini?" tanya Arham sambil menoleh menatap istrinya lekat-lekat.

"Apa itu, Kang?" tanya Humaira penasaran, menyamankan posisinya menghadap suaminya.

"Bahwa harta duniawi, seberapapun banyaknya, tidak akan pernah bisa membeli ketenteraman batin yang sedang kita rasakan saat ini. Dulu aku sempat berpikir bahwa kebahagiaan itu terletak pada omset toko yang besar dan pujian dari orang banyak. Tapi ternyata, kebahagiaan sejati adalah saat kita bisa duduk berdua dalam kesederhanaan seperti ini, berdampingan dengan hati yang bersih dari rasa benci dan dengki," tutur Arham bijak dengan suara yang sarat akan makna mendalam.

Humaira tersenyum lebar, air matanya tiba-tiba menggenang di pelupuk mata bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa haru yang teramat sangat atas kedewasaan rohani suaminya. "Aku sangat setuju, Kang. Kekayaan yang sebenarnya bukanlah seberapa banyak uang yang tersimpan di laci kasir, tapi seberapa ikhlas hati kita menerima ketentuan Allah dan seberapa besar rasa cinta yang terus tumbuh di antara kita berdua meski di tengah keterbatasan."

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya