Matahari pagi menyembul perlahan dari balik perbukitan hijau di pinggiran kota, memantulkan pendar cahaya keemasan yang menembus tirai tipis jendela kamar kontrakan Arham dan Humaira. Udara dingin sisa embun malam masih terasa menusuk kulit, berpadu dengan aroma minyak zaitun hangat yang diusapkan secara perlahan oleh Arham di telapak kaki istrinya yang mulai bengkak seiring bertambahnya usia kandungan. Di atas ranjang kayu sederhana berbalut seprai katun putih polos, Humaira berbaring miring ke kanan dengan mata terpejam tenang, sementara kedua tangannya mendekap erat sebuah mushaf Al-Qur'an kecil berlapis kain beledu hijau di dadanya. Suasana di dalam kamar begitu hening, hanya diiringi suara desau angin pagi yang menderu pelan di luar jendela dan detak jarum jam dinding tua yang berputar ritmis, menciptakan sebuah ruang kontemplasi yang penuh kedamaian batin bagi pasangan suami istri tersebut.
"Gimana rasanya, May? Kaki kamu masih terasa kram atau sudah agak longgar?" tanya Arham lembut sambil merapikan selimut tipis menutupi kaki istrinya dengan penuh kehati-hatian.
Humaira membuka matanya perlahan, menyunggingkan senyuman tipis yang menenangkan di bibirnya yang pucat. "Alhamdulillah, sudah jauh lebih enakan, Mas. Kerutan di telapak kaki tadi malam langsung reda setelah kamu urut pakai minyak zaitun."
Arham menghela napas lega, lalu mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil merapikan sehelai kerudung katun yang tersampir di dekat bantal istrinya. "Baguslah kalau begitu. Ingat pesanan bidan kemarin, jangan banyak capek dulu, apalagi usia kandunganmu sudah masuk trimester akhir begini."
"Iya, Mas. Aku tahu batasan fisikku kok," jawab Humaira lembut seraya merapatkan posisi duduknya, menyandarkan punggungnya pada tumpukan bantal empuk di kepala ranjang. "Lagian, hari ini aku punya niat khusus untuk fokus memperbanyak tilawah, terutama mengamalkan surah Maryam dan surah Yusuf."
Arham menatap lekat-lekat bola mata istrinya yang jernih, menangkap binar ketulusan rohani yang luar biasa dalam dari pancaran wajah perempuan yang telah menemaninya melewati berbagai badai ujian hidup tersebut.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama dari rutinitas harian Humaira yang kini dikhususkan untuk melantunkan surah Maryam dan Yusuf bukan sekadar mengejar pahala bacaan semata, melainkan sebuah ikhtiar batiniah yang mendalam untuk menjaga kesehatan fisik, mental, dan spiritual sang buah hati di dalam kandungan. Di tengah riuhnya tekanan ekonomi dan bayang-bayang kecemasan masa lalu yang sempat menguji keimanan rumah tangga mereka, Humaira ingin membentengi janinnya dengan energi ilahiah yang memancar dari kisah-kisah agung di dalam Al-Qur'an. Ia berharap kelak anaknya tumbuh menjadi pribadi yang sabar, teguh pendirian, dan memiliki ketampanan akhlak seperti Nabi Yusuf, serta ketabahan hati yang luar biasa seperti Siti Maryam dalam menghadapi fitnah dunia. Arham sepenuhnya mendukung niat mulia istrinya itu, menyadari bahwa pendidikan karakter seorang anak harus dimulai bahkan sejak ia masih bernapas di dalam rahim ibunya.
"Kenapa khusus surah Maryam dan Yusuf yang jadi pilihan utama bacaanmu hari ini, May?" tanya Arham penasaran sambil membelai lembut puncak kepala istrinya.
Humaira merapikan lembaran mushaf di pangkuannya, lalu mendongak menatap suaminya dengan senyuman hangat. "Karena aku ingin anak kita kelak, laki-laki ataupun perempuan, memiliki ketegaran hati yang luar biasa dalam menjaga kehormatan dan keimanan, seperti kisah surah Maryam dan Yusuf, Mas."
Arham mengangguk khidmat, meresapi setiap kata yang meluncur dari bibir istrinya dengan dada yang bergemuruh penuh haru. "Pilihan yang sangat indah, Sayang. Mari kita niatkan semua ini agar Allah menjaga anak kita lahir dengan sempurna, sehat, dan menjadi penyejuk pandangan mata kita."
"Aamiin ya Rabbal 'alamin," ucap Humaira lirih, mengangkat kedua tangannya sejenak mengamini doa tulus suaminya sebelum ia kembali membuka lembaran surah Maryam dengan penuh kehusyukan.
❖ ❖ ❖
Transisi dari percakapan pagi yang penuh kehangatan menuju keheningan ibadah harian berjalan begitu syahdu tatkala Arham berpamitan sejenak untuk bersiap berangkat bekerja ke kantor pusat. Arham merapikan kemeja kerjanya di depan cermin kecil, mengenakan jas abu-abu tua kesayangannya, lalu melangkah kembali mendekati ranjang tempat istrinya mulai melantunkan ayat-ayat suci dengan suara parau yang lembut. Alunan surah Maryam mengalun pelan memenuhi ruangan kamar petak itu, merambat menembus dinding-dinding kayu dan menyentuh relung jiwa Arham yang hendak melangkah keluar pintu rumah. Suara merdu sang istri yang membaca ayat demi ayat dengan tartil seolah menjadi perisai gaib yang mengusir segala bentuk keraguan, ketakutan, dan rasa cemas akan masa depan finansial keluarga kecil mereka yang baru saja merangkak pulih.
"Mas berangkat dulu ya, May. Jangan lupa sarapan bubur kacang hijau yang kubeli tadi di depan gang," pesan Arham lembut sambil mencium kening istrinya penuh kasih sayang.