Udara malam Kota Bandar Lampung berembus pelan, membawa sisa kesejukan angin pegunungan yang menyelinap masuk melalui celah-celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter. Di dalam ruangan yang kini tampak semakin rapi dan hangat itu, jam dinding menunjukkan tepat pukul dua belas lewat lima belas menit dini hari. Lampu utama telah dipadamkan, menyisakan temaram cahaya kuning kekuningan dari lampu tidur kecil di sudut ruangan yang memantulkan bayangan samar di dinding putih. Arham terlelap dalam posisi miring ke kanan, napasnya terdengar teratur setelah seharian bergelut dengan setumpuk berkas desain grafis dan laporan proyek agensi yang menumpuk di kantor. Namun, ketenangan malam itu tiba-tiba terusik oleh pergerakan gelisah dari sisi sebelah kasur busa tempat Humaira berbaring.
Humaira merintih tertahan, sebelah tangannya meremas selimut rajut berwarna krem sambil membolak-balikkan posisinya karena merasa tidak nyaman. Perutnya yang kini sudah mulai tampak membuncit kecil menandakan usia kehamilan pertamanya yang telah memasuki bulan keempat. Rasa mual ringan yang biasa ia rasakan di pagi hari kini berubah menjadi sensasi aneh yang mendesak, memicu rasa ingin yang tiba-tiba melanda batinnya di tengah kepekatan malam.
"Mas... Arham..." panggil Humaira dengan suara sangat pelan, setengah berbisik karena tidak enak hati harus membangunkan suaminya yang tampak begitu kelelahan.
Arham yang memang memiliki tidur yang tidak terlalu pulas langsung membuka matanya perlahan. Ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan temaram lampu tidur, lalu mengubah posisinya menjadi duduk bersila di atas kasur.
"Iya, Humaira? Kamu belum tidur? Ada yang sakit atau mual lagi rasanya?" tanya Arham dengan suara serak khas orang baru terbangun, nada khawatirnya langsung terpancar jelas di wajahnya.
Humaira mendudukkan dirinya perlahan, menarik selimut menutupi pundaknya sambil tersenyum kecil penuh rasa bersalah. "Maaf banget ya, Mas, sudah bikin kamu kebangun tengah malam begini. Aku beneran nggak enak mau bilang, tapi dari jam sebelas tadi rasanya kepalaku pening kalau belum kesampaian."
Arham menyalakan lampu kecil di samping tempat tidur, lalu merapikan helai rambut Humaira yang sedikit berantakan menutupi kening. "Jangan ngomong begitu, Humaira. Namanya juga hamil, wajar kalau ada hal-hal aneh yang dirasa. Cerita sama aku, apa yang sedang kamu pengen sekarang?"
Humaira menunduk sejenak, memainkan ujung selimutnya dengan jemari yang sedikit gemetar. "Aku lagi pengen banget makan rujak buah mangga muda, Mas. Tapi bukan mangga biasa yang dibeli di pasar dekat rumah, melainkan mangga kueni mentah yang ditumbuk kasar bersama sambal terasi buatan Mak Siti di ujung kompleks sebelah pasar tradisional. Rasanya harus pedas asam manis gurih gitu."
Arham tertegun sejenak mendengar permintaan tengah malam yang cukup spesifik itu. Kompleks sebelah pasar tradisional jaraknya hampir tiga kilometer dari kontrakan mereka, dan jam sudah menunjukkan pukul setengah satu pagi. Namun, melihat sorot mata penuh harap sekaligus rasa bersalah dari sang istri, Arham sama sekali tidak merasakan secercah pun rasa kesal di dalam dadanya.
❖ ❖ ❖
Mata Arham mengerjap perlahan untuk mengusir sisa kantuk yang masih menggelayut, sementara tujuannya malam ini sangat jelas: memenuhi keinginan ngidam unik sang istri tercinta tanpa sedikit pun keluhan. Di atas meja kecil dekat pintu, Arham mengenakan jaket parasut tebalnya, lalu merapikan dompet dan kunci motor bebek tuanya. Tujuan utama mereka di jam-jam rawan malam ini bukan sekadar mencari buah mangga kueni mentah di warung yang mungkin sudah tutup sejak jam sepuluh malam tadi, melainkan memastikan bahwa istri dan calon buah hati mereka merasa bahagia dan dicintai sepenuhnya melalui kesabaran sang kepala rumah tangga. Arham menyadari bahwa fase kehamilan ini adalah ladang pahala baginya untuk melayani dan memuliakan Humaira dengan sepenuh hati, meneruskan nilai-nilai ketulusan dan bahasa cinta ilahi yang selalu mereka pegang teguh.
"Kamu beneran mau keluar jam segini, Mas? Cari mangga kueni tengah malam gini kan susah banget, apalagi warung Mak Siti pasti sudah lama tutup," ucap Humaira dengan nada ragu, merasa tidak enak hati melihat suaminya harus repot mengenakan jaket di jam istirahat.
Arham tersenyum hangat, lalu mengancingkan jaketnya hingga ke leher untuk menahan udara dingin malam yang mulai menusuk kulit. "Kenapa harus ragu, Humaira? Ini kan titipan dari si kecil yang lagi ngidam di dalam perut ibunya. Kalau bukan ayahnya yang berusaha nyariin, siapa lagi?"
Humaira merona merah, senyuman manis terukir di bibirnya yang ranum. "Tapi kan bahaya jalan sendirian malam-malam begini, Mas. Kalau motormu mogok lagi kayak waktu itu gimana?"
"Tenang saja, motorku sudah diservis kemarin lusa, insya Allah aman terkendali," hibur Arham sambil mengelus lembut pucuk kepala istrinya yang berkerudung instan. "Kamu tunggu di rumah ya, kunci pintu dari dalam, dan jangan lupa baca doa biar aku cepat balik bawa mangga impianmu."
Humaira mengangguk pelan, matanya berbinar menatap penuh rasa syukur kepada suami yang begitu sabar menghadapi keunikannya. "Hati-hati di jalan ya, Mas. Jangan ngebut-ngebut, yang penting selamat sampai tujuan."
Arham membalas dengan anggukan mantap, lalu melangkah keluar membuka pintu kontrakan. Udara malam yang dingin langsung menyambut wajahnya, namun kehangatan cinta di dalam rumah membuat langkah kakinya terasa ringan saat menstarter sepeda motor bebek tuanya yang menderu pelan membelah kesunyian gang-gang perumahan.
❖ ❖ ❖
Transisi dari suasana hangat di dalam kontrakan menuju keheningan jalanan kota Bandar Lampung di dini hari memberikan sensasi tersendiri bagi Arham. Sepanjang perjalanan menyusuri jalan aspal yang lengang, lampu-lampu penerangan jalan berpendar kuning redup, menciptakan bayangan panjang dari kendaraan yang melintas sesekali. Arham mengendarai motornya dengan kecepatan sedang, matanya awas mengamati kanan dan kiri jalan kalau-kalau ada pedagang buah malam atau warung kelontong 24 jam yang masih membuka pintu rolling door mereka. Perubahan suasana dari kehangatan domestik rumah tangga menuju dinginnya malam kota menuntut ketahanan fisik dan mental tersendiri, namun Arham menikmati setiap detik perjalanan itu sebagai bentuk ibadah dan pengabdian tulus kepada istri tercinta yang sedang mengandung buah hati pertama mereka.