Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #45

Persiapan Ruang Bayi

Langit sore di atas kawasan Pasar Sentral meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik yang melintang semrawut. Udara terasa lembap, membawa aroma khas kayu manis, beras curah, dan peluh manusia yang berlalu-lalang menyelesaikan transaksi terakhir hari itu. Di sudut lorong blok B, los sembako milik Arham tampak lebih lengang dibanding biasanya, namun di balik meja timbangan kuningan yang mengkilap karena sering diseka, Arham berdiri sambil merapikan sisa-sisa karung beras dengan gerakan tangan yang tenang dan teratur. Di balik kesederhanaan kios tempat mereka mencari nafkah bertahun-tahun, terselip sebuah getaran kebahagiaan baru yang memenuhi ruang batin pasangan suami istri tersebut.

Humaira keluar dari bilik kecil di bagian belakang toko, membawa nampan berisi dua cangkir teh poci hangat yang mengepulkan uap tipis. Perempuan itu mengenakan jilbab abu-abu longgar yang senada dengan gamis khusus ibu hamil, tangannya dengan hati-hati memegang perutnya yang kini sudah terlihat membuncit indah, menandakan usia kandungan yang kian mendekati bulan-bulan kelahiran. Ia melangkah perlahan menuju meja kayu tempat biasa mereka beristirahat sejenak sebelum toko benar-benar ditutup rapat dari hiruk-pikuk pasar.

"Minum dulu, Kang. Udara rasanya agak gerah sore ini, tapi di dalam hati kok rasanya adem sekali ya," ujar Humaira pelan sambil meletakkan nampan tersebut dan tersenyum manis ke arah suaminya.

Arham menghentikan gerakannya, menatap cangkir teh yang menyebarkan aroma melati lembut sebelum pandangannya beralih pada wajah istrinya yang memancarkan cahaya keibuan. Ia tersenyum hangat, garis-garis di sudut matanya terlihat jelas di bawah temaram lampu bohlam 15 watt. "Alhamdulillah, Mai. Segar sekali rasanya. Kamu jangan terlalu lelah berdiri terus, duduklah dulu di kursi plastik itu."

Humaira menurut, menarik kursi plastik kecil lalu duduk perlahan sambil mendesah lega. "Aku tidak capek, Kang. Justru hatiku sangat bersemangat membayangkan rencana kita besok lusa. Apakah cat dinding warna pastel yang kita pesan kemarin sudah diantar oleh kurir toko bangunan?"

Arham ikut duduk di kursi sebelah istrinya, meraih cangkir tehnya lalu menyesapnya perlahan. "Sudah, Mai. Tadi siang sebelum zuhur, galon cat tembok warna hijau mint dan krem itu sudah dititipkan di pojok gudang belakang. Semuanya lengkap dengan kuas dan plakat pelapis anti-lembab yang kamu pilih sendiri."

"Baguslah kalau begitu," balas Humaira dengan mata berbinar penuh harap. "Aku ingin kamar kecil di rumah kita nanti benar-benar siap dengan suasana yang tenang dan menenangkan sebelum sang buah hati lahir ke dunia."

"Insya Allah, Mai. Kita akan kerjakan semuanya bersama-sama dengan penuh cinta dan doa," ucap Arham lembut seraya mengusap lembut punggung tangan istrinya yang terasa hangat.

❖ ❖ ❖

Suasana malam semakin larut, deru kendaraan dari jalan raya utama mulai mereda, menyisakan suara geritan pintu rolling door toko-toko tetangga yang mulai ditutup rapat. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini bukan lagi menghitung keuntungan penjualan beras atau mencatat daftar hutang distributor, melainkan menyusun rencana teknis yang sangat dinantikan: mempersiapkan ruang kecil di rumah mereka menjadi kamar bayi yang nyaman, bersih, dan penuh berkah. Di atas meja kayu los sembako yang bersih dari barang dagangan, selembar kertas sketsa kasar terbentang di bawah sorotan lampu belajar portabel.

Humaira memegang pulpen, mencoret-coret denah kecil tata letak tempat tidur bayi dan lemari pakaian mini di sudut ruangan rumah mereka. "Kang, kalau tempat tidur bayinya kita letakkan di dekat jendela ventilasi menghadap taman kecil belakang, sirkulasi udaranya pasti bagus, kan? Tidak terlalu pengap dan mendapat cahaya pagi yang cukup."

Arham mengamati sketsa itu dengan seksama, mengangguk setuju sambil mengetuk-ngetuk meja pelan. "Ide yang sangat cemerlang, Mai. Sinar matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan bayi yang baru lahir. Nanti kita pastikan juga dinding di sisi itu diberi cat warna hijau mint pastel agar kesannya sejuk dan menenangkan mata."

"Aku tidak sabar ingin segera mengecatnya, Kang. Rasanya setiap sudut rumah kita kini seperti dipenuhi oleh kehadiran malaikat kecil yang selama ini kita nantikan dalam doa-doa panjang kita," tutur Humaira dengan suara bergetar lembut, menahan haru yang membuncah di dadanya.

Arham merengkuh bahu istrinya dengan penuh kelembutan, merasakan debaran kebahagiaan yang sama bergelora di dalam dadanya. "Sabar ya, Sayang. Besok hari libur pasar, kita bisa mulai mengecat dinding kamar itu dari pagi sampai sore. Aku sudah siapkan cuti dua hari khusus untuk urusan ini agar kamu tidak perlu ikut lelah mencium bau cat."

"Tidak apa-apa, Kang. Aku ingin ikut menemani, meskipun hanya duduk di pojok ruangan sambil merapikan peralatan atau sekadar membawakan kuas," protes Humaira manja, menatap suaminya dengan sorot mata penuh cinta yang tak pernah luntur oleh waktu dan badai masalah masa lalu.

"Baiklah, kamu boleh ikut mengawasi mandor kecil kita nanti," canda Arham lembut yang langsung disambut tawa renyah dari bibir Humaira, memecah kesunyian malam pasar yang kian larut dalam kedamaian.

❖ ❖ ❖

Transisi hari bergulir cepat ketika matahari pagi menyembulkan sinarnya di balik ruko-ruko Pasar Sentral, membawa hari libur berkah yang sudah dinantikan oleh Arham dan Humaira. Rumah kecil mereka yang terletak tidak jauh dari kompleks pasar tampak lebih cerah pagi itu. Jendela-jendela dibiarkan terbuka lebar membiarkan angin pagi berhembus masuk, sementara di salah satu kamar tidur berukuran sedang yang kelak akan menjadi ruang bayi, kotak cat dinding warna pastel, kuas rol, dan koran bekas penutup lantai sudah tersusun rapi di dekat pintu.

Arham sudah mengenakan kaos katun putih polos dan celana training hitam yang siap untuk bekerja kotor. Ia sedang mengaduk cat tembok di dalam ember plastik kecil menggunakan sebatang kayu pipih ketika Humaira melangkah masuk membawa secangkir kopi hitam hangat dan piring kecil berisi pisang goreng buatan sendiri.

Lihat selengkapnya