Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #46

Kunjungan ke Dokter Kandungan

Matahari pagi di awal musim kemarau menyemburkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah jendela kaca klinik bersalin swasta di bilangan Jalan Diponegoro, Kota Bandar Lampung. Suasana di ruang tunggu bernuansa putih bersih itu terasa tenang, dipenuhi aroma terapi lavender yang menyejukkan serta alunan suara muratal Al-Qur'an pelan dari pengeras suara ruangan. Arham duduk bersandar di kursi tunggu berbalut kulit sintetis warna krem, mengenakan kemeja koko putih polos dan celana bahan hitam, sementara telapak tangannya dengan sabar menggenggam jemari Humaira yang duduk di sampingnya. Humaira, yang kini tengah memasuki usia kandungan trimester kedua, mengenakan gamis panjang berwarna abu-abu muda dan jilbab instan senada yang menutupi dada dengan anggun. Wajahnya tampak memancarkan rona kebahagiaan bercampur sedikit debar antisipasi yang wajar bagi seorang calon ibu.

"Bagaimana perasaanmu, Mai? Sudah mulai deg-degan mau masuk ke ruang periksa dokter?" suara lembut Arham memecah keheningan di antara mereka, nadanya penuh dengan kehangatan dan perhatian yang tulus.

Humaira menoleh, tersenyum simpul sambil merapikan letak tas tangan kecil di pangkuannya. "Sedikit campur aduk, Mas. Antara tidak sabar ingin melihat perkembangan si kecil di layar monitor USG, sama rasa cemas kalau-kalau ada apa-apa dengan pertumbuhannya."

"Insyaallah semuanya baik-baik saja, Sayang. Kamu sudah menjaga pola makan dan istirahat dengan sangat baik selama ini, ditambah doa-doa yang tidak pernah putus setiap malam," balas Arham menenangkan, mengusap lembut punggung tangan istrinya untuk meredakan ketegangan.

Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah melewati berbagai badai ujian keluarga besar—mulai dari kedatangan sanak saudara yang menumpang hingga dinamika pekerjaan—semakin hari semakin kokoh terpaut dalam ikatan spiritual yang kuat. Program satu hari satu ayat dan tilawah malam yang dulu mereka mulai berdua kini telah bertransformasi menjadi ruang komunikasi batin yang melibatkan pihak ketiga yang paling dinanti: jabang bayi di dalam rahim Humaira. Setiap pagi dan malam, rumah mungil mereka senantiasa bergeming oleh lantunan ayat-ayat suci yang sengaja diperdengarkan khusus untuk sang buah hati.

"Nomor antrean sembilan atas nama Ibu Humaira dipersilakan masuk ke ruang pemeriksaan dokter," suara seorang perawat berseragam rapi memanggil dari depan pintu ruang praktik kebidanan.

Arham dan Humaira langsung berdiri bersamaan, saling melempar senyuman penuh semangat sebelum melangkah masuk menyambut momen paling berharga di pekan ini.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama kunjungan rutin ke dokter kandungan pagi ini sangatlah jelas dan mendalam bagi Arham dan Humaira: memastikan kesehatan fisik janin berkembang secara sempurna sekaligus menyaksikan secara langsung tanda-tanda kebesaran ciptaan Allah melalui layar USG empat dimensi. Mereka memandang pemeriksaan medis ini bukan sekadar rutinitas administratif kehamilan, melainkan sebuah bentuk ikhtiar lahiriah yang disandingkan dengan tawakal total, di mana setiap detak jantung kecil yang kelak terdengar di ruang periksa adalah tasbih syukur atas nikmat kehidupan yang diamanahkan kepada mereka berdua.

Begitu mereka memasuki ruangan, dr. Rini, Sp.OG., seorang dokter spesialis kebidanan yang ramah dan berpengalaman, menyambut keduanya dengan senyuman hangat dari balik meja kerjanya.

"Selamat pagi, Pak Arham, Bu Humaira. Wah, wajah calon ibu ini kelihatan semakin berseri-seri saja ya bulan ini," sapa dr. Rini ramah mempersilakan mereka duduk di kursi pemeriksaan.

"Alhamdulillah sehat, Dok. Mohon bimbingannya hari ini, kami ingin melihat perkembangan si kecil setelah sebulan kemarin sempat ada sedikit keluhan kelelahan," jawab Arham sopan sambil mendampingi istrinya duduk.

"Baiklah, mari kita langsung cek ke ruang USG saja untuk melihat kondisi janinnya secara langsung," ajak dr. Rini sambil beranjak menuju alat USG modern di sudut ruangan.

Humaira dengan dibantu Arham berbaring di atas ranjang pemeriksaan medis yang dilapisi kain sterilisasi putih. Dokter Rini mulai mengoleskan gel transparan yang terasa dingin di permukaan perut Humaira yang kini sudah mulai membuncah indah, lalu menggerakkan probe transduser perlahan-lahan di atasnya. Di hadapan mereka, layar monitor besar seketika menampilkan bentuk bayangan hitam putih bertekstur lembut yang memperlihatkan sesosok makhluk kecil yang sedang meringkuk tenang di dalam rahim.

Arham dan Humaira terpaku menatap layar monitor dengan napas tertahan. Di dalam hati masing-masing, doa-doa pujian kepada Sang Pencipta terus bergemuruh tanpa henti menyaksikan keajaiban ciptaan Ilahi yang terpampang nyata di depan mata kepala mereka sendiri.

❖ ❖ ❖

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang penuh kekhusyukan di dalam ruangan ber-AC dingin tersebut. Dokter Rini tersenyum lebar sambil menunjuk ke arah bagian tengah layar monitor, memperlihatkan kerangka tubuh mungil yang mulai terbentuk sempurna dengan posisi kepala di bawah.

"Nah, lihat di sini, Bapak dan Ibu... Ini bagian kepala, tulang belakangnya tumbuh sangat lurus dan rapi, dan organ-organ dalamnya berfungsi dengan amat baik," jelas dr. Rini menunjuk detail-detail anatomis pada layar.

"Alhamdulillah..." gumam Arham dan Humaira bersamaan, suara mereka bergetar menahan haru yang teramat sangat. Air mata kebahagiaan spontan menetes di sudut mata Humaira, sementara Arham menggenggam erat tangan istrinya, merasakan gelombang emosi spiritual yang menghantam dada bidangnya.

Namun, momen paling magis dari pemeriksaan tersebut terjadi ketika dr. Rini menekan tombol pengeras suara pada mesin USG. Seketika itu juga, sebuah suara ketukan ritmis yang cepat dan bertenaga menggema mengisi seluruh penjuru ruangan pemeriksaan.

Dok-dok-dok... Dok-dok-dok...

Suara detak jantung jabang bayi yang berdenyut cepat dan teratur itu terdengar bagaikan alunan musik surgawi yang menenangkan jiwa siapa pun yang mendengarkannya. Arham memejamkan matanya sejenak, meresapi setiap ketukan kecil kehidupan yang bersumber dari darah dagingnya sendiri, sementara bibirnya tak henti-henti melafalkan kalimat tahmid dan takbir.

"Masyaallah... Detak jantungnya terdengar begitu kuat dan sehat, Dok?" tanya Arham memastikan dengan suara parau tertahan.

"Sangat kuat dan normal, Pak Arham. Frekuensinya di kisaran seratus empat puluh denyut per menit, menandakan bayi ini tumbuh dengan penuh energi dan gizi yang diserap dari ibunya sangat baik," jawab dr. Rini meyakinkan dengan senyuman puas.

Sesi USG berlanjut selama beberapa menit berikutnya dengan penjelasan seputar nutrisi, vitamin tambahan, serta jadwal kontrol berikutnya. Setiap patah kata yang disampaikan sang dokter diserap baik-baik oleh Arham dan Humaira, yang kini merasa beban kekhawatiran selama berminggu-minggu seolah diangkat begitu saja dari pundak mereka.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya