Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #47

Humaira mengalami anemia

Matahari sore baru saja meredup di balik gugusan awan kelabu yang menggantung rendah di atas langit kota, menyisakan bias cahaya jingga pucat yang menyusup malas melalui jendela kaca berjeruji besi di kamar kontrakan Arham. Di atas ranjang kayu sederhana berlapis seprai katun putih yang mulai kusam, Humaira berbaring lemah dengan wajah yang tampak begitu pucat pasi, nyaris kehilangan seluruh rona kemerahan di pipinya. Bibirnya yang kering merekah tipis, sementara napasnya terdengar memburu pelan di setiapembusan, menandakan keletihan fisik yang teramat sangat setelah berminggu-minggu menanggung beban kehamilan trimester akhir yang kian menghimpit tubuhnya. Arham duduk bersimpuh di sisi ranjang, menggenggam erat jemari istrinya yang terasa dingin dan basah oleh keringat dingin, sementara matanya menyiratkan kepedihan mendalam yang tak mampu ia sembunyikan lagi dari hadapan perempuan tercintanya itu.

"Gimana rasanya pusing di kepala kamu, May? Masih terasa berputar-putar hebat atau sudah agak mendingan setelah minum air hangat tadi?" tanya Arham dengan suara bergetar halus, mencoba menutupi rasa cemas luar biasa yang bergemuruh di dalam dadanya.

Humaira membuka matanya perlahan, menatap wajah suaminya yang tampak kian tirus dengan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya akibat kurang tidur dalam beberapa hari terakhir. "Masih agak pusing, Mas... rasanya kepala ini berat sekali, seolah-olah seluruh darah di tubuhku tersedot habis ke bawah."

Arham menghela napas berat, lalu merapikan helai rambut istrinya yang basah menempel di kening yang berkeringat dingin dengan penuh kelembutan. "Tadi hasil pemeriksaan bidan klinik bilang hemoglobin kamu turun drastis sampai angka tujuh gram per desi liter, May. Kamu kena anemia parah yang butuh penanganan ekstra dan istirahat total tanpa boleh bangun dari tempat tidur."

Humaira tersenyum tipis, mencoba menenangkan suaminya meski tenaganya sendiri nyaris tak bersisa di atas pembaringan. "Aku enggak apa-apa, Mas... cuma merasa lemas sedikit saja. Jangan terlalu cemas berlebihan ya, kasihan nanti kesehatanmu ikutan drop kalau stres mikirin aku terus."

"Bagaimana aku enggak cemas, Sayang? Kamu sedang berjuang mempertaruhkan nyawa membawa buah hati kita di dalam rahimmu, sementara kondisimu sekarang justru melemah drastis begini," ucap Arham parau, menahan air mata agar tidak tumpah di hadapan istrinya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham malam ini bukan sekadar meratapi kondisi fisik istrinya yang tengah drop akibat anemia parah, melainkan menetapkan siaga penuh untuk merawat dan menjaga Humaira secara total tanpa jeda. Di tengah kesibukan kantornya yang baru saja mereda pasca badai audit birokrasi, Arham memutuskan untuk mengambil cuti panjang darurat demi mendedikasikan seluruh waktu, tenaga, dan perhatiannya untuk mendampingi sang istri di rumah kontrakan mungil tersebut. Arham ingin memastikan bahwa setiap tetes obat penambah darah, setiap sendok makanan bergizi, dan setiap tetes air hangat yang dibutuhkan Humaira terpenuhi tepat waktu dengan tangannya sendiri. Ia bertekad untuk menjadi sandaran fisik sekaligus mental yang paling tangguh bagi istrinya, membuktikan bahwa ikatan suci pernikahan mereka bukan hanya tentang kebahagiaan di masa senang, kesetiaan sejati justru diuji di atas ranjang kesakitan seperti saat ini.

"Mulai hari ini, semua urusan cuci baju, masak, dan bersih-bersih rumah serahkan sama aku, May," tegas Arham mantap sambil menatap lurus ke dalam bola mata istrinya. "Tugasmu sekarang cuma satu: istirahat total, minum vitamin secara teratur, dan fokus memulihkan tenaga buat persiapan persalinan nanti."

Humaira menggeleng pelan, meski sorot matanya menyuratkan rasa haru yang teramat dalam atas pengorbanan suaminya. "Tapi kan pekerjaan kantormu gimana, Mas? Nanti kalau jatah cutimu habis dan bosmu marah bagaimana?"

"Kantor bisa diatur belakangan, kesehatanmu dan nyawa anak kita jauh lebih penting dari jabatan atau gaji bulanan mana pun di dunia ini," jawab Arham tegas namun lembut, menggenggam jemari istrinya semakin erat.

Humaira menghela napas lega, air mata bahagianya menetes perlahan di sudut matanya. "Terima kasih banyak ya, Mas... beruntung sekali aku punya suami sebaik dan sebesi sabar kamu."

Arham mengecup punggung tangan istrinya penuh takzim. "Aku cuma sedang menjalankan kewajibanku sebagai suami yang mencintaimu karena Allah, May."

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana cemas menuju kesiagaan penuh itu berjalan seiring dengan pergantian malam yang semakin larut dan senyap di perkampungan padat tersebut. Arham bangkit dari sisi ranjang, melangkah menuju dapur kecil untuk menyiapkan segelas susu hangat khusus ibu hamil yang diresepkan oleh bidan, lalu meracik menu makan malam ringan berupa bubur ayam halus kesukaan istrinya. Suara dentingan sendok beradu dengan mangkuk keramik di dapur mungil itu terdengar ritmis, memecah kesunyian malam di dalam rumah petak yang diterangi cahaya lampu neon putih gantung. Arham meracik semuanya dengan teliti dan penuh kehati-hatian, memastikan tak ada satupun instruksi medis yang terlewat demi keselamatan belahan jiwanya. Baginya, dapur sederhana ini mendadak berubah menjadi ruang pengabdian paling suci yang menuntut seluruh konsentrasi dan keikhlasan hatinya sebagai imam keluarga.

"Ini buburnya sudah siap, hangatnya pas kok, May. Coba mari kubantu duduk perlahan ya," ujar Arham ramah saat kembali ke kamar sambil membawa nampan kecil berisi mangkuk bubur dan segelas susu hangat.

Humaira mencoba mengangkat tubuhnya dibantu oleh kedua tangan suaminya yang menopang punggungnya dengan penuh kehati-hatian hingga ia bersandar nyaman pada tumpukan bantal. "Makasih, Mas... repot-repot kamu harus masak malam-malam begini setelah seharian ngurusin aku."

Lihat selengkapnya