Malam melingkupi sudut kota dengan keheningan yang pekat, menyisakan deru angin pelan yang mengetuk-ngetuk kaca jendela kamar utama rumah kontrakan mereka. Di dalam ruangan berukuran sedang yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram, udara malam membawa kesejukan sisa hujan sore tadi, berpadu dengan aroma lembut minyak wangi non-alkohol beraroma gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham duduk bersila di atas sajadah beludru hijau tua yang terbentang rapi di atas lantai kayu, mengenakan kemeja koko putih polos yang sedikit longgar, sementara matanya menatap lurus ke arah tempat tidur di mana Humaira berbaring memejamkan mata dengan napas yang terdengar sedikit berat. Kehamilan Humaira kini telah memasuki minggu-minggu paling krusial dan penuh ujian, membuat suasana rumah terasa begitu khusyuk, seolah dunia luar dengan segala kebisingannya berhenti berputar demi menyisakan ruang bagi ketenteraman batin yang diuji oleh ketidakpastian takdir.
"Humaira, kau belum bisa tidur? Apa rasa nyeri di punggung dan perut bagian bawahmu masih terasa mengganggu?" tanya Arham dengan suara berat yang bernada lembut, bangkit dari sajadah lalu melangkah mendekati tempat tidur istrinya.
Humaira membuka matanya perlahan, menyambut uluran tangan suaminya dengan senyuman tipis yang menyungging di bibirnya yang tampak pucat. "Alhamdulillah, nyerinya sedikit mereda dibanding tadi sore, Arham. Tapi jujur saja, pikiranku terus melayang pada bayangan persalinan nanti. Ada rasa cemas yang sulit kuhilangkan dari dadaku."
"Itu adalah perasaan yang sangat wajar bagi seorang calon ibu yang sedang menanti detik-detik kelahiran buah hatinya, Humaira," sahut Arham, ikut duduk bersila di tepi ranjang lalu meraih tangan kanan istrinya dan menggenggamnya erat. "Jangan pendam rasa cemas itu sendirian. Mari kita alihkan kecemasan itu dengan memperbanyak zikir dan doa kepada-Nya."
"Kau benar, Arham," balas Humaira, jemarinya membalas genggaman tangan suaminya dengan erat. "Setiap kali rasa cemas itu datang, aku selalu teringat pada kebiasaan baru kita yang tidak pernah melewatkan sujud malam di atas sajadah ini. Di sanalah tempat paling aman bagi kita untuk menumpahkan segala ketakutan."
"Dan di sanalah kita akan terus memohon keselamatan, perlindungan, serta takdir yang terbaik bagi ibu dan bayi kita," tambah Arham mantap, mencium punggung tangan istrinya dengan penuh takzim di tengah keheningan malam yang kian larut.
❖ ❖ ❖
"Humaira, apa yang paling sering kaudoakan ketika kita bersujud panjang di sepertiga malam tadi?" bisik Arham pelan, memecah jeda tenang di antara mereka sambil menatap lekat mata istrinya yang berbinar lembut di bawah temaram cahaya lampu tidur.
Humaira menunduk sejenak, menarik napas dalam-dalam sebelum kembali mengangkat pandangannya menatap sang suami dengan kesungguhan yang terpancar jelas di wajahnya. "Aku selalu memohon kepada Allah keselamatan mutlak bagi keselamatan nyawa kita berdua, Arham. Aku ingin proses persalinan nanti dilancarkan tanpa ada halangan suatu apa pun, dan bayi kita lahir dalam keadaan sehat walafiat tanpa kurang suatu apa."
Mendengar jawaban itu, Arham merasakan dadanya bergemuruh oleh rasa haru yang mendalam. Ia mengangguk pelan, mempererat genggaman tangannya. "Tujuan doa kita sangat sejalan, Humaira. Itulah mengapa aku selalu menegaskan pada diriku sendiri di setiap sujud malamku agar ikhlas dan pasrah sepenuhnya kepada ketetapan Allah."
"Selain itu," lanjut Humaira dengan suara yang sedikit bergetar karena rasa harap yang begitu besar, "doa terbesarku di ujung sajadah ini adalah memohon keikhlasan hati untuk menerima apa pun takdir terbaik yang telah digariskan-Nya bagi keluarga kecil kita."
"Aamiin, ya Rabbal 'alamin," ucap Arham penuh takzim, mengusap lembut puncak kepala istrinya. "Itu adalah tujuan utama ikhtiar batin kita, Humaira. Keselamatan adalah harapan utama, namun kepasrahan total kepada takdir-Nya adalah bentuk keimanan tertinggi yang harus kitapegang teguh."
"Dan untuk mencapai ketenangan jiwa itu, doa-doa yang tidak pernah putus di atas sajadah adalah satu-satunya benteng pertahanan kita," pungkas Humaira dengan senyuman penuh keyakinan, membuat Arham semakin mengagumi keteguhan iman wanita yang mendampingi hidupnya.
❖ ❖ ❖
Waktu merayap perlahan melewati pukul dua belas malam. Suara detak jam dinding kayu di ruang keluarga terdengar berdetak teratur, mengisi kekosongan udara kamar yang kian sunyi. Transisi dari perbincangan mendalam mengenai tujuan hidup menuju keheningan malam membawa gelombang perenungan baru bagi Arham. Ia melepaskan genggaman tangannya dari tangan Humaira, lalu bangkit berdiri dan kembali melangkah menuju sajadah beludru hijau yang terbentang di lantai.
"Mari kita lanjutkan sisa malam ini dengan memperbanyak doa keselamatan, Humaira," ucap Arham memecah keheningan malam, menoleh ke arah istrinya yang masih berbaring anggun di atas tempat tidur.
Humaira mengangguk setuju dengan gerakan kepala yang lembut. "Lakukanlah salat sunnah malam lebih panjang, Arham. Doakan aku dan bayi kita agar senantiasa berada dalam lindungan rahmat-Nya."
Transisi batin ini membawa kesadaran baru bahwa perjalanan hidup manusia tidak sepenuhnya berada di bawah kendali ikhtiar lahiriah semata. Betapa pun matangnya persiapan medis yang mereka lakukan, ujung dari segala urusan tetap berada di tangan Sang Pencipta semesta alam. Udara malam yang dingin di luar jendela seakan melebur bersama kehangatan zikir yang dilantunkan Arham dari atas sajadahnya.
"Bismillah, aku akan memanjatkan doa-doa keselamatan yang tidak pernah putus sepanjang malam ini," ucap Arham mantap, mengangkat kedua takbiratul ihram dan memulai rakaat pertamanya dengan penuh khusyuk.
Humaira memejamkan mata di tempat tidur, mendengarkan lantunan ayat suci yang dibirukan suaminya dengan suara lirih nan merdu, merasakan ketenteraman batin yang merambat pelan menyejukkan hatinya yang sempat cemas.
❖ ❖ ❖