Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #49

Detik-Detik Menuju Persalinan

Udara dini hari di Bandar Lampung merayap pelan, menyelusup melalui celah-celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter yang telah menjadi saksi bisu perjalanan hidup Arham dan Humaira selama hampir satu tahun terakhir. Jam dinding berdetak pelan, menunjukkan pukul dua belas lewat tiga puluh menit malam. Lampu utama kamar telah dipadamkan, menyisakan bias temaram dari lampu tidur kecil berwarna kuning redup di sudut ruangan. Di atas kasur busa tipis yang digelar langsung di lantai, Arham terlelap dalam posisi miring, napasnya terdengar teratur setelah seharian penuh membereskan berkas-berkas proyek kantor agensi periklanan tempat ia bekerja. Namun, ketenangan malam yang pekat itu seketika terusik oleh sebuah gerakan mendadak dari sisi sebelah kasur tempat Humaira berbaring.

Humaira terbangun dengan mata terbelalak lebar, kedua tangannya secara spontan meremas kuat seprai katun berwarna pudar di bawah tubuhnya. Sebuah sensasi kaku yang teramat sangat mendadak merambati bagian bawah perutnya, menjalar hingga ke area pinggang belakang dengan intensitas tajam yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Napasnya tercekat, dadanya terasa sesak seiring gelombang nyeri hebat yang menghantam tubuh mungilnya tanpa peringatan. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat untuk menahan jeritan tertahan agar tidak membangunkan suaminya yang terlihat sangat kelelahan.

"Mas... Arham..." panggil Humaira dengan suara bergetar lemah, napasnya memburu pendek-pendek seiring reda dan datangnya gelombang rasa sakit yang kedua kalinya.

Arham yang memiliki kepekaan tidur yang cukup tinggi langsung terjaga seketika. Ia mengerjap beberapa kali untuk mengusir sisa kantuk dari matanya, lalu cepat-cepat mengubah posisinya menjadi duduk bersila di samping sang istri. Sorot mata khawatirnya langsung terpancar jelas di balik temaram lampu tidur saat melihat dahi Humaira dipenuhi butiran keringat dingin.

"Ada apa, Humaira? Kamu kesakitan? Perutmu mual lagi atau kontraksi?" tanya Arham bertubi-tubi dengan nada panik tertahan, tangannya secara refleks meraih bahu istrinya yang bergetar.

Humaira merintih kecil, mencengkeram lengan baju Arham dengan tenaga yang tersisa. "Sakit banget, Mas... Perut bawahku kaku luar biasa, keras seperti batu, dan pinggangku rasanya mau copot. Ini... ini sepertinya bukan mual biasa."

Arham menelan ludah kelat, jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk. Usia kehamilan Humaira memang sudah memasuki minggu ke-38, yang artinya waktu persalinan bisa datang kapan saja. Namun, mendapati momen itu benar-benar terjadi di tengah malam yang sunyi membuat adrenalin Arham melonjak drastis.

"Ya Allah, Humaira... beneran ini kontraksi mau melahirkan?" tanya Arham memastikan, meski ia bisa melihat jelas ekspresi kesakitan di wajah istrinya.

Humaira mengangguk pelan di sela ringikannya, air matanya menetes perlahan membasahi pipi. "Iya, Mas... rasanya beda banget dari sebelumnya. Jaraknya... jaraknya kayaknya makin dekat."

❖ ❖ ❖

Mata Arham terbuka lebar sepenuhnya, rasa kantuk yang sempat menggelayut seketika menguap entah ke mana. Tujuan utamanya malam ini sangat jelas dan tidak boleh ditunda sedetik pun: mempersiapkan segala sesuatu untuk membawa Humaira menuju klinik bersalin terdekat dengan selamat, serta memastikan sang istri merasa tenang di tengah gelombang rasa sakit yang menderanya. Arham beranjak bangkit dari tempat tidur dengan gerakan cepat namun terarah. Ia menyalakan lampu utama ruangan, menyingkirkan meja kecil agar jalan menuju pintu keluar menjadi lebih longgar, lalu segera meraih tas persalinan bayi berwarna biru muda yang sudah sejak dua minggu lalu disiapkan rapi di dekat lemari pakaian.

"Tahan sebentar ya, Sayang. Tarik napas yang dalam lewat hidung, lalu hembuskan pelan-pelan lewat mulut seperti yang diajarkan bidan waktu senam hamil kemarin," instruksi Arham dengan suara lembut namun tegas, berusaha menyembunyikan kepanikannya sendiri di hadapan sang istri.

Humaira mengikuti arahan suaminya, memejamkan mata rapat-rapat sambil mengatur ritme pernapasannya di tengah hantaman kontraksi yang kembali datang melanda perutnya. "Huuuh... hahh... iya, Mas... sakit banget..."

"Bagus, Humaira. Terus atur napasnya. Sekarang aku ambilkan pakaian ganti dan jilbabmu, lalu kita langsung berangkat ke klinik bersalin Bu Bidan Sri ya. Jaraknya cuma sepuluh menit naik motor," tutur Arham sambil membuka lemari pakaian dan mengambil beberapa helai kain bersih dengan tangan yang sedikit bergemetar.

Humaira menggeleng pelan di atas kasur, meringis menahan nyeri. "Mas... motoran tengah malam begini? Kalau di jalan kontraksi susul-menyusul gimana? Nanti aku nggak kuat duduk di boncengan."

Arham tertegun sejenak. Pikiran rasionalnya langsung berputar cepat. Benar juga kata Humaira; mengendarai sepeda motor bebek di tengah malam dengan kondisi kontraksi aktif tentu sangat berisiko tinggi bagi keselamatan ibu dan bayi. Ia harus mencari alternatif transportasi lain yang jauh lebih aman dan nyaman.

"Kamu benar, Humaira. Naik motor terlalu berisiko buat kondisi kamu sekarang. Biar aku coba telepon Pak RT atau cari taksi daring terdekat lewat aplikasi di ponsel," putus Arham cepat, merogoh saku celananya untuk mencari ponsel.

❖ ❖ ❖

Transisi dari kepanikan awal menuju upaya pencarian solusi darurat di tengah malam buta memberikan ketegangan tersendiri bagi Arham. Di luar kontrakan, suasana kompleks perumahan tampak sangat sunyi dan gelap, hanya diterangi oleh sorot lampu jalan yang berpendar sayu. Arham mondar-mandir di ruang tengah sambil menatap layar ponselnya dengan cemas, mencoba memesan kendaraan melalui aplikasi transportasi daring, namun layar ponselnya menunjukkan pemberitahuan bahwa tidak ada pengemudi yang beroperasi di sekitar radius wilayah mereka pada jam dua pagi begini. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipis Arham; ia menyadari bahwa mengandalkan aplikasi daring di jam rawan ini adalah sebuah kesalahan perhitungan.

Lihat selengkapnya