Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #50

Tangisan Pertama Sang Buah Hati

Langit dini hari di atas kawasan Pasar Sentral membentang pekat tanpa bintang, menyisakan hawa dingin menusuk tulang yang menyusup di antara celah-celah rolling door toko yang tertutup rapat. Di dalam rumah mungil milik Arham yang terletak tidak jauh dari lorong blok B pasar, keheningan malam mendadak pecah oleh deru langkah kaki yang mondar-mandir dan napas memburu yang tertahan. Lampu neon putih di ruang tengah menyala terang, memantulkan bayangan gelisah di dinding-dinding pastel kamar bayi yang baru saja mereka cat beberapa waktu lalu. Arham berdiri mondar-mandir di depan pintu kamar utama, kedua tangannya saling meremas erat, sementara keringat dingin bercucuran di pelipisnya meski udara terasa begitu dingin.

Di dalam kamar, Humaira berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat pasi, menggigit bibirnya menahan gelombang kontraksi hebat yang datang silih berganti. Seorang bidan senior bersama perawat pembantunya sibuk mengatur peralatan medis darurat di atas meja kecil dekat tempat tidur.

"Tarik napas dalam-dalam lewat hidung, Bu Humaira, lalu hembuskan perlahan lewat mulut. Pintar... bagus sekali," instruksi Bidan Siti dengan suara tenang namun tegas, berusaha mengendalikan situasi yang mulai menegangkan.

Humaira menurut, meremas kuat seprai putih di bawah genggamannya sambil memejamkan mata erat-erat. "Sakit sekali, Bidan... Rasanya sudah tidak tahan..." rintih Humaira tertahan dengan suara parau.

Arham yang tidak lagi sanggup menahan diri, memberanikan diri membuka pintu kamar sedikit dan melongokkan kepalanya ke dalam dengan mata berkaca-kaca. "Bidan... bagaimana keadaan istri saya? Apakah saya boleh masuk mendampinginya sekarang?"

Bidan Siti menoleh sekilas, lalu mengangguk penuh pengertian. "Masuklah, Arham. Istrimu butuh kehadiranmu di sisinya sekarang. Dorongan kuatnya sudah semakin sering, bersiaplah."

Arham langsung melangkah cepat mendekati ranjang, mengabaikan segala rasa canggung atau gugupnya. Ia segera merengkuh tangan istrinya yang terasa dingin dan basah oleh keringat, lalu mencium punggung tangan itu penuh takzim. "Mai, aku di sini. Aku ada di sampingmu. Kuatlah, sayang... sebentar lagi perjuangan kita akan melihat titik terang."

Humaira membuka matanya yang sayu, menatap suaminya dengan sorot mata penuh permohonan dan cinta yang mendalam. "Kang... sakit sekali, rasanya badanku seperti mau terbelah dua..." bisiknya lemah.

"Aku tahu, Mai. Ingat Allah, terus berdzikir dalam hati. Aku akan terus memegang tanganmu, tidak akan kemana-mana," ucap Arham lembut sambil mengelus keringat di dahi istrinya dengan penuh kelembutan.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira di detik-detik yang menegangkan ini bukan lagi memikirkan urusan toko sembako, dagangan, atau badai masalah duniawi yang pernah menerpa hidup mereka, melainkan keselamatan jiwa sang istri dan buah hati tercinta yang sudah dinanti-nantikan kehadirannya selama bertahun-tahun dalam doa panjang. Di tengah kesakitan yang luar biasa, tekad Humaira untuk melihat bayi mereka lahir dengan selamat menjadi pusat dari seluruh tenaga dan sisa-sisa kesadarannya.

"Fokus pada aba-aba saya, Bu Humaira. Tarik napas yang panjang, kumpulkan seluruh tenaga, lalu dorong ke bawah saat kontraksi berikutnya datang," perintah Bidan Siti dengan penuh wibawa.

Humaira mengangguk lemah, menarik napas dalam-dalam hingga dadanya membusung, lalu mengerahkan seluruh sisa kekuatannya untuk mengejan sekuat tenaga. Suara rintihan tertahan lolos dari bibirnya, sementara genggaman tangannya pada telapak Arham mengerat hingga buku-buku jarinya memutih.

Arham ikut merasakan perih dan perjuangan itu di dalam dadanya, air matanya tumpah begitu saja membasahi pipinya tanpa ia sadari. "Ayo, Mai... sedikit lagi, sayang. Kamu pasti bisa. Allah bersama kita," bisik Arham penuh semangat sambil membacakan ayat kursi berulang-ulang di dekat telinga istrinya.

Bidan Siti mengamati proses persalinan dengan teliti, tangannya yang bersarung tangan medis bergerak cekatan memberikan arahan. "Bagus, Bu Humaira! Pintar sekali! Kepalanya sudah mulai terlihat jalan lahirnya. Sekali lagi, tahan napas dan dorong perlahan!"

Humaira kembali menarik napas panjang, mengerahkan seluruh tenaga terakhirnya dalam satu dorongan panjang yang menghabiskan sisa energinya. Ruangan kamar itu mendadak terasa begitu hening, seolah detik waktu berhenti berputar menunggu keajaiban tercipta di atas ranjang putih tersebut.

Lihat selengkapnya