Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #51

Wajah Baru Rumah Tangga

Matahari sore di penghujung musim kemarau menyemburkan bias cahaya jingga keemasan yang menembus celah-celah jendela kaca kamar tidur utama rumah mungil Arham dan Humaira di Kota Bandar Lampung. Suasana di dalam kamar terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai aroma minyak telon bayi yang lembut menguar di udara. Di atas tempat tidur berlapis sprei katun putih bersih, seorang bayi mungil berjenis kelamin laki-laki bernama Ibrahim—yang kini telah genap berusia sebulan—terlelap dengan pulasnya, mengenakan bedongan katun biru muda bergambar bintang kecil. Humaira duduk bersandar pada tumpukan bantal empuk, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau mint dengan jilbab instan longgar. Wajahnya tampak sedikit pucat karena kurang tidur selama beberapa minggu terakhir, namun binar kebahagiaan terpancar jelas dari manik matanya saat ia menatap wajah sang buah hati yang bernapas teratur.

"Mas... Coba lihat, Ibrahim tidurnya mangap sedikit begitu mirip sekali kalau kamu lagi kecapekan kerja di meja gambar," bisik Humaira pelan sambil tertawa kecil, melirik ke arah suaminya yang duduk di kursi sudut kamar.

Arham menoleh dari laptop kerjanya, tersenyum simpul sambil melepaskan kacamata baca yang bertengger di hidungnya. Ia mengenakan kaos polos abu-abu tua dan sarung tenun kesayangannya. "Ah, mana ada mirip. Kalau pas tidur begini jelas-jelas hidungnya mancung mirip mamanya, tidak ada mirip-miripnya sama tukang gambar bangunan," jawab Arham dengan nada suara setengah berbisik, takut membangunkan sang bayi.

Humaira mendengkus geli, merapikan selimut tipis di dada mungil Ibrahim. "Bisa saja ngelesnya. Tapi jujur ya, Mas, ritme hidup kita sekarang benar-benar jungkir balik total semenjak Ibrahim lahir ke dunia."

Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah berjalan lebih dari tiga tahun kini telah memasuki babak baru yang jauh lebih menantang sekaligus membahagiakan. Program satu hari satu ayat dan tilawah malam yang dulu rutin mereka lakukan tanpa gangguan kini harus disesuaikan dengan jadwal menyusui dan tangisan malam sang bayi. Meskipun waktu istirahat mereka terpangkas drastis, keduanya tidak pernah merasa terbebani; sebaliknya, kesibukan baru ini justru semakin mempererat ikatan cinta dan kerja sama tim di antara mereka berdua sebagai orang tua muda.

"Jungkir balik yang penuh berkah, Sayang," balas Arham lembut, beranjak dari kursinya lalu mendekati tempat tidur dan duduk di tepi ranjang. Ia mengecup kening istrinya penuh kasih sayang. "Kamu sudah istirahat cukup siang tadi waktu Ibrahim tidur?"

"Sudah sempat tidur sejam tadi pas Ibu gantian menggendong di ruang depan," jawab Humaira tersenyum tulus, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu suaminya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira menjalani ritme harian yang serba baru ini sangatlah jelas dan mendalam: menyesuaikan diri dengan tanggung jawab sebagai orang tua baru tanpa mengorbankan kualitas komunikasi suami istri serta keharmonisan spiritual di dalam rumah tangga. Mereka menyadari betul bahwa fase awal kehadiran bayi sering kali menjadi jurang pemisah bagi banyak pasutri muda akibat kelelahan fisik, kurang tidur, dan ketegangan mental. Oleh karena itu, sejak hari pertama Ibrahim lahir, Arham dan Humaira sepakat untuk membagi tugas secara adil dan transparan—menggantikan sistem lama yang kaku dengan fleksibilitas dan empati tingkat tinggi terhadap kondisi masing-masing.

"Malam ini giliran jadwal siapa yang siaga kalau Ibrahim bangun tengah malam nangis minta susu, Mas?" tanya Humaira sambil menatap suaminya dengan senyuman menggoda.

Arham mengangkat sebelah alisnya, tersenyum jenaka. "Wah, kalau berdasarkan jadwal piket mingguan yang kita buat di papan tulis dapur, malam ini giliran shift malam pertamaku sebagai 'satpam siaga' junior."

"Bagus kalau ingat jadwal. Awas ya kalau nanti Ibrahim nangis tengah malam, pura-pura tidur mendengkur kencang seperti minggu lalu," ledek Humaira lembut, mencubit pelan lengan suaminya.

Arham tertawa renyah, merangkul bahu istrinya erat-erat. "Itu kemarin bukan pura-pura tidur, Mai, tapi benar-benar kecapekan habis lembur revisi gambar struktur masjid sampai jam tiga pagi. Tapi janji, malam ini alarm HP-ku sudah di-setting paling kencang khusus buat menyambut jagoan kecil kita."

Bagi Arham, peran barunya sebagai ayah tidak membuatnya melepaskan tanggung jawab domestik rumah tangga. Ia sadar betul bahwa Humaira telah mempertaruhkan nyawa dan tenaganya saat melahirkan Ibrahim, sehingga sudah sepatutnya ia berdiri di garis depan untuk membantu mengganti popok, menenangkan bayi di tengah malam, hingga membantu pekerjaan dapur ringan. Mereka meyakini bahwa rumah tangga yang diridai Allah bukan diukur dari seberapa bersih rumah atau seberapa disiplin jadwal, melainkan dari seberapa besar kesabaran dan kerja sama yang ditunjukkan suami istri saat menghadapi masa-masa melelahkan bersama.

"Nanti selepas salat Isya, kita sempatkan tilawah tiga ayat saja ya, Mas, sebelum Ibrahim rewel minta nenen," usul Humaira sambil merapikan bantal bayinya.

"Setuju banget. Walau ritme tidur kita berubah, tilawah harian tidak boleh putus biar hati tetap tenang," balas Arham mantap menyetujui.

❖ ❖ ❖

Percakapan sore itu terhenti sejenak ketika suara tangisan kecil nan nyaring tiba-tiba terdengar dari arah boks bayi di sebelah tempat tidur. Ibrahim menggeliat kecil, merentangkan kedua tangan mungilnya ke udara, lalu kembali menangis tanda minta disusui.

Humaira langsung sigap bangkit dari posisinya, mengangkat tubuh mungil bayi itu dengan hati-hati ke dalam gendongannya. "Cup, cup, cup... Anak gantengnya Mama mau nenen ya? Sebentar ya sayang..." bujuk Humaira dengan nada suara lembut dan bernada merdu yang khas keibuan.

Arham tersenyum hangat, ikut mendekat dan mengusap-usap pipi merah mungil sang anak menggunakan ujung jari telunjuknya. "Wah, alarm perutnya tepat sekali begitu menjelang magrib. Pasti jagoan Papa ini sudah lapar berat."

Sambil Humaira menyusui bayinya di atas tempat tidur, Arham beranjak mengambilkan segelas air hangat dari termos meja kamar untuk istrinya. Kedekatan dan kebiasaan saling melayani di antara mereka semakin mencairkan segala kepenatan harian. Tidak ada rasa canggung atau sekat dalam pembagian peran; rumah mungil itu benar-benar menjelma menjadi sarang ketenangan yang dipenuhi limpahan rahmat.

"Mas, nanti tolong ingatkan aku buat menelepon Ibu di ruang depan ya, tadi siang beliau pesan ingin dibawakan popok kain tambahan buat stok cucian Ibrahim," ujar Humaira pelan sambil menatap suaminya yang berdiri di dekat jendela.

"Siap, nanti habis magrib aku yang sampaikan langsung ke Ibu sekaligus membawakan teh hangat beliau," jawab Arham sigap.

Azan magrib berkumandang bersahutan dari surau-surau kecil di sekitar kompleks perumahan Kota Bandar Lampung, mengakhiri percakapan sore dan mengalihkan fokus mereka pada kewajiban menghadap Sang Pencipta. Arham segera mengambil air wudu di kamar mandi, sementara Humaira dengan penuh kelembutan menidurkan kembali Ibrahim yang sudah kenyang dan kembali terlelap pulas di atas kasurnya.

Ritme harian yang kini berpusat pada tumbuh kembang sang bayi mengubah pola hidup mereka secara drastis, namun justru di situlah letak keindahan ujian rumah tangga yang sesungguhnya—di mana setiap tangisan bayi dan setiap lelah orang tua dihitung sebagai ladang amal saleh yang mendekatkan diri kepada surga-Nya.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya