Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #52

Begadang karena Lillah

Malam baru saja merangkak naik, meninggalkan sisa-sisa debu kesibukan kota yang berangsur senyap di balik dinding tipis kontrakan petak Arham dan Humaira. Di dalam kamar yang diterangi cahaya lampu tidur kuning temaram, sebuah keranjang bayi rotan kecil diletakkan tepat di sisi ranjang tempat Humaira berbaring memulihkan tenaga pascapersalinan. Udara malam berembus pelan menyusup melalui celah ventilasi kayu, membawa hawa dingin yang menusuk kulit, namun suasana di dalam ruangan itu justru terasa begitu hangat oleh dekapan cinta dan napas teratur sang buah hati yang baru berusia sepekan. Arham duduk bersila di atas sajadah tipis yang belum sempat dilipat, mengenakan sarung tenun usang dan kaus putih polos, sementara matanya menatap lekat-lekat ke arah bayinya yang mulai menggeliat kecil di dalam keranjang.

"Bayinya kayaknya mulai haus lagi, Mas. Coba tolong angkat sebentar ke sini biar aku susui," bisik Humaira lirih dengan suara serak khas kelelahan, mencoba mengangkat punggungnya yang masih terasa linu.

Arham segera beranjak sigap, menghentikan zikir malamnya lalu membungkuk perlahan untuk mengangkat bayi mungil berselimut flanel biru itu ke dalam dekapan tangannya yang kokoh. "Iya, Sayang, sebentar ya. Ini jagoan kecil Abi sudah mulai buka mata rupanya," ucap Arham lembut sambil menyerahkan sang buah hati ke pangkuan istrinya dengan penuh kehati-hatian.

Humaira menyambut buah hati mereka dengan senyuman simpul yang menghiasi bibirnya yang masih tampak pucat, lalu merapikan posisi bantal di belakang punggungnya. "Tadi sore dia sempat tidur lama banget, makanya malam ini polanya agak bergeser jadi sering bangun tengah malam begini."

"Enggak apa-apa, May. Namanya juga bayi baru lahir, wajar kalau jam tidurnya masih kebalik-balik antara siang dan malam," balas Arham menenangkan sambil merapikan selimut kecil di bahu istrinya.

Arham mengelus lembut rambut Humaira yang sedikit basah oleh keringat malam, merasakan gelombang cinta yang kian membuncah di dalam dadanya melihat ketulusan luar biasa dari perempuan yang kini resmi bergelar seorang ibu tersebut.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama dari kebersamaan mereka di sepertiga malam ini bukan sekadar melewati fase begadang merawat bayi yang rewel, melainkan menetapkan komitmen suci untuk membagi tugas malam secara adil demi menjaga agar ibadah shalat malam tetap terjaga. Di tengah keletihan fisik yang mendera akibat kurang tidur selama sepekan berturut-turut, Arham dan Humaira bertekad bulat untuk tidak menjadikan alasan mengurus anak sebagai penghalang untuk bermunajat kepada Allah Swt. Mereka ingin membuktikan bahwa ritme rumah tangga seorang mukmin sejati tetap berporos pada ketaatan spiritual, di mana lelahnya begadang malam diniatkan sepenuhnya karena lillah—mengharap rida Sang Pencipta semata. Arham mengatur jadwal shift jaga malam secara bergantian agar Humaira bisa mendapatkan waktu istirahat yang cukup untuk memulihkan anemia pascapersalinannya, sementara ia sendiri bersiap bangun qiyamul lail di waktu yang telah ditentukan.

"Sesuai kesepakatan kita tadi sore ya, May. Jam sepuluh sampai jam dua malam ini bagian tugas shift jampaku megang bayi kalau dia nangis," ujar Arham ramah sambil merapikan gelas air hangat di meja kecil. "Nanti jam dua pas, kamu gantian bangun buat gantiin aku shalat malam dan zikir, sementara aku istirahat sebentar sebelum subuh."

Humaira mengangguk pelan sambil tersenyum tulus menatap suaminya. "Iya, Mas. Tapi kalau bayinya rewel banget sebelum jam dua, kamu jangan ragu bangunin aku ya. Jangan ditahan sendiri capeknya."

"Tenang saja, fisikku masih kuat kok. Kamu fokus dulu buat susui dia sampai kenyang, biar aku temani sambil baca surah Al-Waqiah di samping kalian," timpal Arham mantap, lalu meraih Al-Qur'an saku dari atas meja.

Tekad bulat itu menjadi benteng kokoh yang mengubah rutinitas melelahkan menjadi sebuah ladang pahala yang menyejukkan jiwa di tengah keheningan malam kota.

❖ ❖ ❖

Transisi menuju keheningan malam yang panjang itu dimulai tatkala Humaira selesai menyusui sang buah hati, membuat bayi mungil tersebut kembali tertidur pulas dalam pelukan hangat ibunya. Humaira membaringkan kembali bayinya ke dalam keranjang rotan dengan gerakan sangat lambat agar tidak membangunkan sang anak, lalu menarik selimut tipis menutupi dadanya. Arham bergeser duduk mendekati meja kerja kecil di sudut kamar, membuka lembaran catatan tugas kantor sambil sesekali melirik jam dinding yang berdetak pelan menunjukkan pukul sebelas malam. Suasana rumah petak itu terasa begitu syahdu, diiringi suara jangkrik dari pekarangan luar dan desau angin malam yang menepuk-nepuk jendela kaca berjeruji. Arham merasakan ketenangan batin yang luar biasa dalam, menyadari bahwa setiap detik waktu yang ia habiskan dalam begadang ini bernilai ibadah di sisi Allah Swt.

"Mas, kalau ngantuk banget, tiduran dulu aja sebentar di karpet," tawar Humaira dari atas ranjang dengan nada suara penuh perhatian.

Arham menggeleng pelan sembari tersenyum ramah ke arah istrinya. "Belum ngantuk kok, May. Sebentar lagi aku mau lanjut shalat sunnah mutlak dua rakaat sambil nunggu pergantian jam jaga."

Lihat selengkapnya