Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #53

Kelelahan yang Berbuah Pahala

Udara sore di Bandar Lampung merayap pelan, menyusup melalui celah-celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter yang kini terasa jauh lebih hidup dan semarak. Di atas kasur busa tipis yang digelar di sudut ruangan, suara tangisan kecil nan renyah milik seorang bayi laki-laki berusia tiga bulan mengalun bersahutan dengan deru kipas angin plastik yang berputar pelan. Arham duduk bersila di dekat meja kayu kecil, kedua matanya tampak sayu menahan kantuk sementara tangannya sibuk merapikan berkas-berkas desain grafis pesanan klien yang menumpuk di atas layar laptop. Di sisi lain kasur, Humaira terlihat duduk bersandar ke dinding dengan mata terpejam rapat, napasnya terdengar lelah setelah seharian penuh menggendong, menyusui, dan menenangkan sang buah hati yang sejak siang tadi rewel karena hendak tumbuh gigi.

"Humaira... kamu kelihatan capek banget. Biar bayinya gantian aku yang gendong sebentar ya, mumpung revisi dari klien ini tinggal sedikit lagi beres," ucap Arham dengan suara baritonnya yang lembut, menoleh ke arah istrinya dengan sorot mata penuh iba.

Humaira membuka matanya perlahan, lalu menggeleng pelan sambil tersenyum tipis di balik wajahnya yang pucat. "Nggak apa-apa, Mas. Ini tadi si kecil baru saja ketiduran di pelukanku setelah hampir dua jam rewel nggak mau ditaruh. Kalau digendong pindah ke kamu, takutnya malah kebangun lagi nanti."

Arham menutup layar laptopnya perlahan, lalu bergeser mendekati sang istri dan buah hati mereka. Ia mengulurkan tangan kanannya untuk merapikan selimut kecil yang menutupi kaki bayi mungil tersebut. "Tapi badanmu panas, Humaira. Kamu semalaman juga kurang tidur karena harus bangun tiap dua jam sekali nyusuin. Jangan diporsis terus tenaganya, nanti kamu malah ikut tumbang."

"Namanya juga jadi ibu baru, Mas. Rasa capek dan kurang tidur ini sudah jadi makanan sehari-hari," jawab Humaira dengan nada suara yang terdengar serak namun menyiratkan ketulusan yang luar biasa. "Tapi setiap kali aku lihat wajah tenang anak kita pas lagi tidur pulas begini, semua rasa lelah itu rasanya langsung lenyap seketika."

Arham meraih tangan kanan istrinya yang terasa dingin, lalu menggenggamnya erat-erat penuh cinta. "Kamu benar, Sayang. Tapi ingat, pengorbananmu merawat anak ini bukan cuma lelah fisik biasa, melainkan ladang pahala yang besar di sisi Allah."

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala barat Bandar Lampung, menyisakan temaram jingga yang menembus tirai kusam jendela kontrakan. Tujuan utama Arham malam ini sangat jelas: ia ingin meringankan beban fisik dan mental istrinya dengan mengambil alih seluruh pekerjaan rumah tangga, sekaligus mengingatkan Humaira akan kemuliaan agung di balik setiap butir keringat dan rasa lelah dalam mengasuh anak. Arham sadar betul bahwa fase-fase awal membersamai tumbuh kembang bayi adalah masa paling menguras tenaga bagi seorang ibu muda, di mana kesabaran diuji tanpa kenal waktu siang maupun malam. Ia bertekad untuk memastikan rumah tangga mereka tetap menjadi taman surga yang penuh kasih sayang, bukan tempat di mana kelelahan memicu pertengkaran atau keluh kesah yang sia-sia.

"Humaira, sekarang giliran kamu istirahat total di kamar ya. Masak malam ini biar aku saja yang urus di dapur," ujar Arham mantap sambil bangkit dari posisinya di dekat kasur.

Humaira menatap suaminya dengan sorot mata terkejut sekaligus terharu. "Kamu mau masak apa malam-malam begini, Mas? Di dapur kan cuma ada sisa nasi kemarin sama sedikit telur dan sayur bayam."

"Tenang saja, istriku tercinta. Aku bisa buat nasi goreng spesial ala kadarnya yang penting perut kita kenyang, dan kamu bisa fokus tiduran atau salat isya dengan tenang tanpa harus mikirin pekerjaan rumah," balas Arham sambil tersenyum lebar mencoba mencairkan suasana.

Humaira menghela napas lega, senyuman manis terukir di bibirnya yang kering. "Kamu ini ada-ada saja, Mas. Tapi jujur, badanku rasanya remuk semua hari ini. Kalau kamu mau bantuin turun tangan ke dapur, aku terima dengan senang hati."

"Nah, begitu dong. Sebagai suami, membantu istri mengurus rumah dan anak bukan cuma tugas domestik, tapi bentuk nyata pengamalan sunnah Rasulullah sallallahu alaihi wasallam," tutur Arham sungguh-sungguh sambil melangkah menuju dapur mungil mereka.

Humaira merebahkan punggungnya perlahan di atas kasur busa, membiarkan matanya terpejam menikmati kelegaan batin yang mendalam karena memiliki pendamping hidup yang begitu pengertian dan penuh perhatian.

❖ ❖ ❖

Transisi dari suasana sore yang melelahkan menuju malam hari di dalam kontrakan petak itu dirasakan begitu kontras ketika suara gemerincing sendok dan piring kecil mulai terdengar dari arah dapur. Arham dengan cekatan menyalakan kompor gas portabel, memanaskan sisa nasi dengan sedikit irisan bawang dan cabai seadanya. Di luar kontrakan, suara jangkrik mulai bersahutan di kebun kosong sebelah, menemani keheningan malam yang perlahan merayap naik. Transisi ini menuntut penyesuaian mental bagi Arham yang harus beralih peran dari seorang pekerja profesional di depan laptop menjadi seorang pelayan rumah tangga yang sigap bagi istri dan anaknya, menyadari bahwa setiap peluh lelah yang menetes di dapur sempit ini bernilai ibadah di hadapan Sang Pencipta.

"Mas... nasinya jangan terlalu pedas ya, takutnya nanti berpengaruh ke ASI buat si kecil kalau aku makan," panggil Humaira pelan dari arah kasur tempat ia berbaring.

Arham menoleh ke belakang sambil memegang spatula kecil di tangan kanannya. "Siap, komandan! Cabainya cuma aku kasih sedikit saja buat pemancing selera makanmu malam ini."

Lihat selengkapnya