Langit sore di atas kawasan Pasar Sentral meredup perlahan, menyisakan bias jingga pucat yang tersangkut di antara kabel-kabel listrik yang melintang semrawut. Udara terasa lembap, membawa aroma khas kayu manis, beras curah, dan peluh manusia yang berlalu-lalang menyelesaikan transaksi terakhir hari itu. Di sudut lorong blok B, los sembako milik Arham tampak lebih semarak dibanding bulan-bulan sebelumnya, dipenuhi karung beras dan deretan galon minyak goreng yang tersusun rapi. Namun, pusat perhatian Arham saat ini bukanlah tumpukan barang dagangan tersebut, melainkan sosok Humaira yang duduk di kursi plastik kecil di sudut toko, menggendong bayi laki-laki mereka yang berusia beberapa bulan dengan penuh kelembutan.
Humaira mengenakan jilbab instan berwarna navy yang praktis, sementara gamis rumahan berenda tipis tampak sedikit kusut di bagian lengan karena sering dipakai menyusui. Wajahnya menyiratkan kelelahan fisik yang nyata—lingkaran hitam tipis membayang di bawah matanya akibat kurang tidur berminggu-minggu—namun senyum di bibirnya tetap merekah setiap kali sang buah hati menggeliat pelan dalam dekapan hangatnya.
"Sini, Mai, biar gantian aku yang gendong sebentar. Kamu istirahatlah barang sepuluh menit, minum teh poci hangat yang masih mengepul itu," ujar Arham lembut sambil melangkah mendekati istrinya dari balik meja timbangan kuningan yang mengkilap.
Humaira mendongak, menatap suaminya dengan sorot mata sayu namun penuh rasa terima kasih. "Boleh juga, Kang. Anak ini dari tadi siang rewel terus, mungkin kegerahan karena angin pasar hari ini agak tertahan di lorong blok B."
Arham dengan sigap mengambil alih bayi mungil itu ke dalam dekapannya, menepuk-nepuk punggung kecil sang anak dengan gerakan tangan yang sudah sangat terlatih. "Wah, jagoan Ayah hari ini pintar sekali ya menemani Ibu menjaga toko. Coba lihat, matanya sudah mulai mengantuk begitu mendengar suara Ayah."
Humaira tersenyum tipis melihat suaminya begitu telaten menenangkan bayi mereka. "Iya, dia memang paling cepat tenang kalau sudah dipeluk dan diajak bicara pelan-pelan oleh kamu, Kang."
"Tentu saja, karena dia anak yang tahu diri kalau ayahnya ini sangat mencintai ibunya," canda Arham hangat, membuat tawa kecil yang renyah lolos dari bibir Humaira, mengusir sejenak rasa penat yang menghimpit dada perempuan itu sepanjang hari.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham dan Humaira di tengah ritme kehidupan harian yang kini terbagi antara mengurus toko sembako dan merawat bayi adalah menjaga agar keintiman serta kehangatan rumah tangga mereka tidak luntur tergerus kelelahan mengasuh anak. Di balik kesibukan luar biasa dan kurangnya waktu tidur, Arham menyadari bahwa seorang istri tidak hanya butuh dibantu mengganti popok atau menidurkan anak, butuh juga pengakuan dan apresiasi tulus atas segala pengorbanan batin yang kerap luput dari pandangan mata.
"Mai, nanti malam setelah toko tutup dan bayi kita sudah tidur pulas di ayunan, aku ingin kita duduk berdua saja di ruang tengah sebentar," ucap Arham sambil terus menimang sang anak dengan penuh kesabaran.
Humaira merapikan ujung jilbabnya yang sedikit bergeser, menatap suaminya dengan alis terangkat penasaran. "Mau ngobrol apa lagi malam-malam, Kang? Biasanya jam sepuluh malam aku sudah langsung ambruk di atas kasur karena lelah."
"Tidak ngobrol yang berat-berat kok. Aku hanya ingin kita punya waktu khusus berdua, menikmati teh buatanmu tanpa ada interupsi tangisan bayi atau dering telepon dari distributor," jawab Arham dengan senyuman penuh arti yang membuat pipi Humaira mendadak merona tipis di balik kerudungnya.
"Ada-ada saja kamu ini, Kang. Seperti anak muda yang baru pacaran saja," balas Humaira malu-malu, merasa tersanjung sekaligus heran dengan perhatian suaminya di tengah kesibukan yang begitu padat.
"Kenapa memangnya? Menikah bertahun-tahun dan punya anak bukan berarti kita harus berhenti menjadi pasangan romantis, kan?" tegas Arham lembut, menatap istrinya dengan sorot mata penuh cinta yang tidak pernah berkurang sedikit pun sejak hari pertama pernikahan mereka.
❖ ❖ ❖
Transisi waktu menuju malam membawa suasana Pasar Sentral berangsur-angsur senyap dari hiruk-pikuk manusia. Rolling door toko-toko tetangga diturunkan satu persatu dengan suara berderit nyaring, meninggalkan keheningan malam yang menenangkan di rumah mungil Arham dan Humaira. Di dalam kamar utama, lampu tidur berona kuning temaram menyala lembut, memantulkan cahaya hangat di dinding berwarna hijau mint pastel yang mereka cat bersama beberapa waktu lalu. Bayi mungil mereka sudah terlelap pulas di dalam ayunan kain batik di sudut kamar, bernapas teratur dengan damai.