Sore menjelang malam menyelimuti kawasan kota dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan mereka yang kini tampak semakin rapi dan hangat, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh mengurus operasional tokonya di pasar tradisional. Ia meletakkan tas kerjanya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melonggarkan kancing atas kemeja koko putihnya yang sedikit kusut karena lelah. Di sudut ruangan, putra kecil mereka—Ibrahim—yang kini sudah berusia sepuluh bulan tengah merangkak lincah mengejar mainan bola kainnya, ditemani oleh tawa renyah yang mengisi keheningan rumah. Suasana rumah terasa begitu hidup, menyisakan ruang bagi kedamaian batin yang selalu dirindukan Arham setiap kali ia melangkah pulang setelah berjuang mencari rezeki halal di luar sana.
"Assalamu’alaikum, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bernada lelah namun hangat, melangkah perlahan menuju arah dapur kecil tempat istrinya sedang menyiapkan perlengkapan.
Humaira muncul dari balik tirai dapur, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut kepulangan sang suami. "Wa’alaikumussalam warahmatullah, Arham. Kau tampak sangat lelah hari ini. Duduklah dulu di sofa, aku sudah menyiapkan segelas air hangat dan sedikit camilan sore untukmu."
Arham tersenyum tipis, menuruti ajakan istrinya lalu mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing. "Alhamdulillah, hari ini toko memang sangat ramai pembeli, Humaira. Pengiriman barang dari distributor baru juga datang bersamaan, jadi tenagaku terkuras habis sejak pagi."
Humaira mendekat, membawa nampan kecil berisi segelas air putih hangat dan sepiring kecil kurma basah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan suaminya. "Minumlah dulu agar tenagamu pulih. Perjuanganmu selama ini tidak pernah sia-sia, Arham. Usaha kecil yang kita bangun dari nol perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang sangat stabil."
"Semua itu berkat doa dan kesabaranmu juga yang selalu mendampingiku di saat-saat sulit," balas Arham tulus, meraih gelas air hangat dan meminumnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
❖ ❖ ❖
"Ada sesuatu yang ingin kukomunikasikan kepadamu, Arham," kata Humaira dengan nada suara yang sedikit ragu-ragu namun penuh harap, duduk bersimpuh di dekat suaminya usai meletakkan nampan kecil di atas meja.
Arham mengangkat alisnya sebelah, menatap istrinya dengan rasa penasaran yang terpancar jelas di matanya. "Kira-kira apa hal penting yang ingin kausampaikan, Humaira? Katakan saja, tidak usah ragu begitu."
Humaira menarik napas dalam-dalam, menata kalimatnya agar terdengar tenang. "Besok pagi ada acara kajian khusus wanita muslimah di gedung majelis taklim dekat komplek kita. Pematerinya adalah seorang ustadzah yang membahas tema penting tentang ketegaran hati seorang ibu dalam mendidik anak. Aku sangat ingin menghadirinya untuk menyegarkan kembali ruhani dan mendapatkan ilmu baru."
Arham mengangguk pelan, menyimak setiap kata yang diucapkan istrinya dengan penuh perhatian. "Tentu saja boleh, Humaira. Menuntut ilmu agama dan menghadiri majelis taklim adalah hakmu juga untuk mendapatkan me time yang syar'i di tengah kesibukan mengurus rumah tangga."
"Benarkah kau mengizinkannya, Arham?" tanya Humaira dengan mata berbinar tak percaya, tersenyum lebar. "Aku tahu ibadah dan batasan me time seorang ibu harus tetap sejalan dengan tanggung jawab keluarga, makanya aku sempat ragu untuk meminta izin."
"Tentu saja aku izinkan," jawab Arham mantap, menggenggam tangan istrinya penuh kelembutan. "Tujuanku sederhana—aku ingin kau memiliki waktu sejenak untuk menenangkan jiwa dan mengisi kembali energi rohanimu di majelis ilmu, sementara aku akan tinggal di rumah menjaga Ibrahim dengan sepenuh hati."
❖ ❖ ❖
Suasana ruang tengah mendadak terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai oleh keheningan sesaat yang dipenuhi oleh pancaran cinta dan pengertian di antara kedua pasutri tersebut. Transisi dari perbincangan mengenai perizinan kajian menuju persiapan praktis membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.
Humaira meremas jemari suaminya pelan, rasa haru tiba-tiba menyeruak di dadanya. "Terima kasih banyak, Arham. Aku merasa sangat bersyukur dikaruniai suami yang sangat memahami kebutuhan ruhaniku sebagai seorang istri dan ibu."
"Sama-sama, Humaira," balas Arham tersenyum hangat, mengusap punggung tangan istrinya. "Sudah kewajibanku untuk mendukungmu mencari kebaikan, apalagi ini adalah majelis ilmu yang bermanfaat. Mari kita siapkan segala keperluan Ibrahim dari sekarang agar besok pagi semuanya berjalan lancar."
Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa me time bagi seorang ibu bukan sekadar jalan-jalan atau memanjakan fisik semata, melainkan perjalanan spiritual yang syar'i untuk mendekatkan diri kepada Allah sekaligus menjaga kesehatan mental agar kembali bugar dalam menjalankan peran domestik. Udara sore yang kian mendingin di luar jendela seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang keluarga kecil mereka.
"Aku akan menyiapkan pakaian gamis dan kerudung rapi yang akan kupakai besok pagi," ucap Humaira antusias, bangkit berdiri menuju kamar tidur.
❖ ❖ ❖