Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #60

Cinta yang Kian Matang

Udara senja di Bandar Lampung merayap pelan, membawa kehangatan jingga yang menyusup melalui celah ventilasi kontrakan petak berukuran tiga kali tiga meter. Di atas kasur busa tipis yang digelar di sudut ruangan, suara tawa renyah bayi laki-laki berusia hampir setahun mengalun riang, berpadu dengan deru kipas angin plastik yang berputar konstan. Arham duduk bersila di dekat meja kayu kecil, kedua matanya menatap lekat layar laptop sebelum beralih menatap pemandangan di hadapannya. Di sisi lain ruangan, Humaira terlihat duduk bersandar ke dinding, mengenakan jilbab instan sederhana sambil membimbing sang buah hati berdiri perlahan menggunakan pegangan tepi meja. Wajah Humaira tampak jauh lebih tenang dan dewasa dibanding bulan-bulan pertama pernikahan mereka dulu, menyisakan garis-garis kelembutan seorang ibu yang telah menempa batinnya melalui ribuan jam kurang tidur dan kesabaran tanpa batas.

"Mas... lihat deh, anak kita sekarang sudah berani melangkah sendiri tanpa harus dipegangin bajunya terus," ujar Humaira girang, senyuman manis terukir di bibirnya sambil menunjuk ke arah sang bayi yang tertatih-tatih mengambil dua langkah ke depan.

Arham segera menutup layar laptopnya, lalu bergeser mendekati istri dan anak mereka dengan binar mata penuh kekaguman. "Wah, jagoan Ayah sudah pintar ya! Cepat sekali rasanya tumbuh besar."

Humaira menyambut uluran tangan kecil sang anak, lalu mendongak menatap suaminya yang kini duduk di sampingnya. "Iya, Mas. Kalau diingat-ingat lagi masa-masa awal kita tinggal di kontrakan sempit ini sambil pusing mikirin dompet tipis dan cicilan, rasanya perjalanan kita sudah sejauh ini."

Arham meraih tangan kanan istrinya, lalu menggenggamnya erat-erat dengan penuh rasa syukur yang mendalam. "Perjalanan yang tidak mudah, Humaira. Tapi justru karena kita melewatinya bersama-sama dalam ketaatan, cinta kita sekarang rasanya jauh lebih kokoh dan matang dibanding dulu."

Humaira menunduk sejenak, meresapi kehangatan genggaman tangan suaminya. "Cinta karena Allah memang beda ya, Mas. Semakin banyak badai yang dihadapi, akarnya justru semakin menghujam kuat ke dalam hati."

❖ ❖ ❖

Matahari perlahan tenggelam di balik garis cakrawala kota, meninggalkan sisa warna keemasan yang perlahan memudar digantikan malam. Tujuan utama Arham dan Humaira malam ini bukan sekadar merayakan tumbuh kembang anak mereka, melainkan merenungkan kembali hakikat perjalanan rumah tangga yang telah mereka lalui selama setahun belakangan. Di tengah kesederhanaan hidup yang masih menggelayuti kontrakan petak tersebut, mereka menyadari bahwa fase pengasuhan awal yang melelahkan telah berhasil mendewasakan cara pandang mereka terhadap cinta. Arham bertekad untuk terus menjaga komitmen mulia ini, memastikan bahwa setiap langkah yang ia ambil sebagai kepala keluarga senantiasa dilandasi oleh niat beribadah kepada Sang Pencipta, menjadikan rumah tangga mereka sebagai wadah utama penyemaian kasih sayang ilahi.

"Humaira, malam ini aku ingin kita duduk berdua sebentar setelah si kecil tidur pulas," ucap Arham sungguh-sungguh sambil membantu merapikan mainan berserakan di lantai.

Humaira menoleh, sorot matanya menyiratkan persetujuan yang hangat. "Boleh, Mas. Aku juga dari tadi pengen ngobrol santai sama kamu tentang banyak hal. Rasanya sudah lama kita nggak punya waktu khusus buat sekadar merenung berdua tanpa terganggu kerewelan bayi."

"Nanti kalau dia sudah lelah dan tidur di ayunan, kita ngopi bareng ya di teras depan," ajak Arham sambil merapikan bantal kecil di dekat tempat tidur.

Humaira mengangguk pelan, mengusap lembut punggung anaknya yang mulai menguap menahan kantuk. "Iya, Mas. Aku siapkan kopi hangat buat kamu, dan teh chamomile buat aku."

Arham memandang istrinya dengan perasaan hangat yang membuncah di dada. Ia tahu, wanita di hadapannya ini adalah anugerah terindah yang dikirimkan Allah untuk menyempurnakan separuh agamanya, seorang pendamping setia yang tidak pernah mengeluh meski hidup dalam kesederhanaan.

❖ ❖ ❖

Transisi dari kesibukan sore hari menuju keheningan malam dirasakan begitu syahdu ketika sang buah hati akhirnya terlelap pulas di dalam ayunan kain batik. Arham dan Humaira duduk berdampingan di teras depan kontrakan, menikmati embun malam yang mulai turun membasahi halaman paving block. Suara jangkrik bersahutan dari kebun sebelah, menemani secangkir kopi hitam dan teh hangat yang mengepulkan uap tipis di atas meja kayu kecil. Transisi ini menuntut kedewasaan batin yang matang, di mana gelora cinta masa muda yang penuh api kini telah bertransformasi menjadi ketenangan jiwa yang mengakar kuat pada rasa saling percaya, pengertian, dan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

"Mas... apa yang paling kamu syukuri dari pernikahan kita selama setahun ini?" tanya Humaira pelan, memecah kesunyian malam sambil menatap langit malam yang bertabur bintang samar.

Lihat selengkapnya