Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #64

Kecemburuan Sosial: Munculnya fitnah

Sore menjelang malam menyelimuti kawasan pasar tradisional dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang toko grosir sembako dan produk herbal milik Arham yang kini tampak semakin rapi dan tertata, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja selesai merapikan pencatatan keuangan harian di atas meja kasir kayu jati miliknya, sementara di sudut lain toko, seorang pelanggan setia sedang memilih beberapa botol madu murni. Suasana pasar perlahan mulai sepi karena sebagian besar kios di sebelah sudah mulai menurunkan rolling door mereka masing-masing. Di tengah ketenangan yang seharusnya menjadi penutup hari yang melelahkan, sebuah atmosfer ketegangan tak kasat mata mulai merayap dari luar toko, membawa sinyal ancaman dari para pesaing bisnis yang merasa tersaingi oleh omzet stabil dan reputasi kejujuran Arham.

"Alhamdulillah, catatan pembukuan hari ini kembali menunjukkan hasil yang stabil dan berkah," ucap Arham pelan pada dirinya sendiri, menghela napas panjang sembari menutup buku besar bersampul cokelat tua di hadapannya.

Dari balik tirai penyekat ruangan belakang toko, Humaira muncul membawakan segelas teh hangat manis dan semangkuk kecil kue tradisional. Ia mengenakan gamis sederhana berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut sang suami yang tampak masih berfokus pada lembar pembukuan.

"Kau tampak sangat teliti sekali memeriksa catatan keuangan sore ini, Arham," ucap Humaira lembut, meletakkan nampan kecil itu di atas meja kasir. "Minumlah teh hangatnya dulu sebelum dingin. Kau sudah bekerja sangat keras seharian ini."

Arham mendongak, menyambut uluran gelas teh dari istrinya dengan senyuman lelah namun tulus. "Terima kasih, Humaira. Aku hanya ingin memastikan semua transaksi tercatat jujur tanpa ada selisih sedikit pun, terutama di tengah persaingan pasar yang akhir-akhir ini mulai terasa kurang sehat."

"Kurang sehat maksudmu?" tanya Humaira dengan kening sedikit berkerut, menatap lekat mata suaminya yang menyiratkan kecemasan tersembunyi. "Apakah ada hal buruk yang terjadi di pasar hari ini?"

❖ ❖ ❖

"Tidak ada kejadian langsung di dalam toko kita, Humaira, tapi beberapa pedagang senior di blok depan tadi sempat berpesan agar aku lebih berhati-hati," jawab Arham pelan, meneguk teh hangatnya perlahan sebelum kembali meletakkan gelas ke atas meja.

Humaira merapatkan duduknya di dekat meja kasir, menatap suaminya dengan sorot mata penuh perhatian dan kekhawatiran yang mulai merayap di dadanya. "Berhati-hati dari apa, Arham? Coba ceritakan padaku agar kita bisa menghadapinya bersama-sama."

Arham menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke arah jalanan pasar yang mulai lengang. "Tujuan mereka menebarkan desas-desus miring jelas untuk menjatuhkan reputasi toko kita, Humaira. Mereka merasa tersaingi karena pelanggan dari berbagai penjuru kota kini lebih memilih berbelanja di tempat kita yang mengedepankan prinsip kejujuran dan harga transparan."

"Jadi kecemburuan sosial itu benar-benar wujud nyata dari rasa iri mereka terhadap kesuksesan kecil yang kita bangun dari nol?" tanya Humaira dengan nada suara yang sedikit bergetar menahan rasa kesal.

"Benar sekali," sahut Arham tegas namun tetap tenang. "Tujuanku malam ini dan hari-hari ke depan adalah menjaga integritas usaha kita agar tidak terpancing emosi oleh fitnah murahan tersebut. Kita harus membuktikan bahwa kejujuran adalah mata uang terbaik dalam berniaga, bukan intrik kotor."

"Aku sangat mendukung prinsipmu itu, Arham," balas Humaira mantap, menggenggam jemari suaminya untuk menyalurkan kekuatan batin. "Biarlah mereka menebarkan fitnah di luar sana, karena Allah Maha Mengetahui niat tulus di balik setiap keringat halal yang kita cari."

❖ ❖ ❖

Suasana di dalam toko mendadak terasa begitu hening dan syahdu, diwarnai oleh keheningan malam yang mulai merayap turun dari langit kota. Transisi dari perbincangan mengenai kecemburuan sosial para pesaing menuju penguatan mental membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.

Humaira meremas jemari suaminya pelan, menatap lurus ke dalam manik mata Arham yang tampak memancarkan keteguhan luar biasa. "Jangan biarkan fitnah-fitnah itu merusak ketenangan batinmu, Arham. Kita sudah berjuang sejauh ini dengan cara yang diridaI Allah."

"Aku tidak merasa takut pada fitnah mereka secara pribadi, Humaira," ucap Arham jujur, merapikan letak kerudung istrinya dengan penuh kelembutan. "Yang aku khawatirkan adalah jika fitnah itu mulai mencuci otak para pelanggan setia kita dan merusak nama baik toko yang sudah kita bangun dengan susah payah."

Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa ujian dalam dunia usaha bukan hanya berupa kerugian materiil atau musibah fisik semata, melainkan juga ujian hati berupa iri dengki dan fitnah keji dari orang-orang yang tidak suka melihat kebaikan tumbuh. Udara malam yang kian mendingin di luar toko seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang usaha kecil mereka.

"Mari kita tutup toko lebih awal malam ini, Arham," ajak Humaira lembut. "Kita pulang ke rumah, lalu menumpahkan segala keluh kesah dan doa kita di atas sajadah sepertiga malam nanti."

"Ide yang sangat bagus, Humaira," balas Arham tersenyum lega, bangkit dari kursi kasirnya untuk bersiap merapikan barang-barang dagangan terakhir.

❖ ❖ ❖

Namun, badai fitnah dan kecemburuan sosial itu ternyata tidak berhenti sebatas bisik-bisik di antara para pedagang pasar. Puncak rintangan yang sebenarnya muncul keesokan harinya ketika Arham baru saja membuka rolling door tokonya di pagi hari. Di hadapan pintu utama tokonya, selembar pamflet kertas selebaran tertempel rapi dengan lem perekat yang kuat, memuat tulisan tuduhan keji bahwa produk madu dan herbal yang dijual di toko Arham adalah barang palsu berkualitas rendah yang berbahaya bagi kesehatan.

Lihat selengkapnya