Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #66

Ketenangan Iman: Pasangan ini tidak panik

Matahari pagi di awal musim penghujan menyemburkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah-celah daun pohon mangga di halaman depan rumah mungil Arham dan Humaira di Kota Bandar Lampung. Suasana di dalam rumah berukuran sedang itu terasa sangat hening dan syahdu, diwarnai aroma terapi minyak kayu putih yang lembut menguar dari kamar tidur utama. Di atas karpet bulu abu-abu di ruang tengah, Ibrahim—yang kini telah genap berusia tujuh bulan—tampak riang merangkak mengejar mainan bola kain warna-warni, sementara Humaira duduk bersimpuh mengenakan gamis rumahan berwarna hijau sage dan jilbab instan senada, memegang sebuah tasbih kayu di tangannya.

"Mas, kopi hitam hangatnya sudah siap di atas meja dapur kecil, jangan lupa diminum sebelum berangkat ke kantor dinas tata kota pagi ini ya," suara lembut Humaira memecah keheningan pagi, nadanya terdengar tenang tanpa menyiratkan sedikit pun kepanikan di wajahnya.

Arham keluar dari kamar mandi mengenakan kemeja koko putih bersih dan celana bahan hitam formal. Ia melangkah pelan mendekati istrinya, lalu tersenyum simpul sambil merapikan letak peci hitam di kepalanya. "Terima kasih, Mai. Kamu tidak cemas menghadapi panggilan klarifikasi dinas soal sengketa jalur hijau sempadan lahan studio kita hari ini?" tanya Arham lembut, menatap lekat-lekat manik mata istrinya yang memancarkan keteduhan luar biasa.

Humaira menggeleng perlahan, tersenyum tulus sambil menepuk pelan tangan suaminya. "Kenapa harus cemas berlebihan, Mas? Bukankah kita sudah mengurus seluruh izin prinsip bangunan itu dari nol secara sah dan jujur? Allah Maha Mengetahui setiap ikhtiar halal yang kita lakukan selama ini."

Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah melewati berbagai badai ujian—mulai dari kesulitan finansial awal pernikahan, sengketa agunan keluarga, hingga masalah internal karyawan—kini telah menempa kedewasaan spiritual yang amat matang di antara mereka berdua. Alih-alih merespons surat panggilan mendadak dari dinas pertanahan dengan kepanikan atau amarah, pasangan suami istri ini justru memilih melabuhkan seluruh keresahan jiwa mereka kepada Sang Pencipta melalui zikir, istighfar, dan ketenangan iman yang mendalam.

"Masyaallah... Betapa beruntungnya aku memiliki pendamping hidup sepertimu, Mai," ucap Arham tulus, mencium puncak kepala istrinya dengan penuh rasa syukur sebelum beranjak menuju meja makan untuk meneguk kopi hangat buatan sang istri.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira menghadapi ujian panggilan klarifikasi sengketa lahan studio pagi ini sangatlah jelas dan berakar kuat pada prinsip akidah: menghadapi segala bentuk masalah duniawi dengan kepala dingin, kejujuran administratif, serta tawakal mutlak kepada Allah SWT tanpa meninggalkan ikhtiar lahiriah yang maksimal. Mereka sepakat bahwa kepanikan tidak akan menyelesaikan masalah hukum sekecil apa pun, melainkan hanya akan mengeruhkan pikiran dan melemahkan iman. Oleh karena itu, sejak malam tadi selepas salat tahajud, keduanya telah merapikan seluruh berkas legalitas hukum, sertifikat tanah, hingga peta ukur dari instansi terkait ke dalam satu map biru tebal.

Sembari merapikan kelengkapan berkas di ruang tamu, Arham didampingi oleh Humaira yang dengan telaten mengecek ulang setiap lembar fotokopi surat izin mendirikan bangunan (IMB) dan dokumen analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL) sederhana yang pernah mereka susun.

"Semua dokumen hukum sudah lengkap di dalam map ini, Mas. Tidak ada satu pun izin prinsip yang terlewat atau menyalahi aturan tata ruang kota," kata Humaira memastikan sambil menyerahkan map biru tersebut kepada suaminya.

Arham menerima map tersebut dengan tangan kanan, lalu menatap istrinya lekat-lekat. "Alhamdulillah, terima kasih banyak ketelitianmu, Mai. Insyaallah nanti di hadapan petugas dinas tata kota kita jelaskan semuanya secara transparan dan apa adanya."

Bagi Arham, tujuan akhir dari perjalanan ke kantor dinas hari ini bukanlah sekadar memenangkan sengketa administratif atau membela gengsi bisnis studio arsitekturnya, melainkan menegakkan kebenaran dengan cara-cara yang diridai Allah. Ia memandang setiap rintangan birokrasi ini sebagai cara Allah untuk menguji keikhlasan niatnya dalam membangun usaha yang halal dan memberdayakan pemuda-pemuda sekitar masjid.

Di sudut ruangan, Ibrahim tiba-tiba merangkak mendekati kaki ayahnya, mengangkat kedua tangan mungilnya seolah ingin ikut memegang map berkas yang sedang dipegang Arham. Arham berlutut sejenak, mengangkat tubuh mungil anaknya ke dalam gendongan singkat, lalu mencium pipinya penuh kasih.

"Doakan Papa ya, Nak, semoga urusan di kantor lancar dan Allah senantiasa melindungi rezeki keluarga kita," bisik Arham lembut di dekat telinga bayinya. Humaira yang melihat pemandangan tersebut tersenyum haru, melafalkan istighfar pelan di dalam hatinya sebagai perisai doa penenang jiwa.

❖ ❖ ❖

Beberapa saat kemudian, setelah memastikan seluruh persiapan administrasi beres dan menitipkan Ibrahim sejenak kepada Ibu mertua yang baru bangun tidur di ruang belakang, Arham dan Humaira berpamitan untuk berangkat menuju kantor dinas tata kota di pusat kota Bandar Lampung. Suasana pagi di luar rumah terasa sejuk berkat sisa air hujan semalam, sementara lalu lintas jalan raya di sekitar Jalan Diponegoro tampak mulai dipadati kendaraan roda dua dan empat.

Di dalam mobil sedan antik kesayangannya, Arham menyetir dengan kecepatan sedang sambil memperdengarkan lantunan muratal Al-Qur'an surah Ar-Rahman dari pengeras audio mobil. Alunan suara ayat suci yang merdu itu mengalir memenuhi kabin mobil, menyapu bersih sisa-sisa ketegangan yang sempat tebersit di dada.

"Mas, kalau nanti di kantor dinas kita harus menghadapi petugas yang bersikap kaku atau menuntut klarifikasi yang rumit, kita hadapi dengan senyuman dan penjelasan yang sabar ya," ucap Humaira lembut memecah keheningan di dalam mobil, melirik ke arah suaminya.

Arham mengangguk tenang, tangan kanannya memegang setir sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari istrinya di atas konsol tengah mobil. "Insyaallah, Mai. Kita tidak perlu emosi atau merasa terpojok. Kita bawa niat yang bersih karena kita tidak pernah menyerobot tanah siapa pun."

Transisi perjalanan dari ketenangan rumah menuju hiruk-pikuk birokrasi pemerintahan kota ini mencerminkan betapa kuatnya mentalitas spiritual yang telah dibangun pasangan tersebut. Mereka menyadari bahwa dunia dan segala isinya—termasuk bangunan studio arsitektur, proyek-proyek konstruksi, hingga harta benda—hanyalah titipan sementara dari Sang Maha Pemilik. Kehilangan atau ancaman terhadap aset tersebut tidak akan mengurangi sedikit pun kemuliaan iman di dalam dada selama Allah tetap menjadi tempat bersandar utama.

Sesampainya di halaman parkir kantor dinas tata kota yang megah, Arham mematikan mesin mobil. Sebelum membuka pintu, mereka menarik napas dalam-dalam secara bersamaan, melafalkan bismillah dan istighfar sebanyak tiga kali untuk memantapkan ketenangan batin sebelum melangkah masuk menghadapi pemeriksaan resmi.

❖ ❖ ❖

Namun, ujian kesabaran dan ketenangan iman mereka langsung diuji begitu memasuki ruang pelayanan aduan dan sengketa tata kota lantai dua gedung tersebut. Suasana di ruang tunggu tampak cukup padat oleh puluhan warga yang mengurus berbagai masalah perizinan. Setelah menunggu hampir satu jam penuh di kursi antrean, nama Arham akhirnya dipanggil melalui pengeras suara untuk memasuki ruang klarifikasi nomor tiga.

Lihat selengkapnya