Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #70

Doa Keselamatan Keluarga

Cahaya matahari sore menyelinap perlahan di antara tirai kamar yang sederhana, memantulkan bias keemasan di atas ubin putih yang bersih. Arham membenahi letak peci putihnya yang sudah sedikit pudar di bagian pinggir, sementara Humaira dengan lembut melipat mukena putih yang baru saja ia gunakan untuk menunaikan salat Ashar berjemaah. Di usia senja ini, kerutan di wajah keduanya adalah peta dari puluhan tahun perjalanan yang telah mereka lalui bersama—sebuah peta yang dipenuhi garis-garis kesabaran, cucuran keringat, dan tetesan air mata syukur yang tak terhitung jumlahnya. Rumah kecil itu terasa begitu tenang, kontras dengan gemuruh badai kehidupan yang pernah mereka hadapi di masa lalu.

"Sudah waktunya minum teh, Abah," ucap Humaira pelan, suaranya masih menyimpan kelembutan yang sama seperti hari pertama ia memanggil suaminya dengan sebutan itu puluhan tahun silam.

Arham tersenyum tipis, menoleh dan meraih tangan istrinya yang kini dihiasi bintik-bintik usia. Kulit itu tidak lagi kencang seperti dulu, namun genggamannya tetap memberikan kehangatan yang sama—sebuah pelabuhan ketenangan di tengah dunia yang kerap bergejolak.

"Teh hangat di sore hari buatan Ummi memang selalu menjadi penenang terbaik setelah seharian duduk di teras," balas Arham dengan nada suara yang berat namun penuh kasih. "Apa anak-anak sudah mengabarkan kapan mereka akan datang berkumpul kemari?"

Humaira meletakkan cangkir keramik berisi teh melati di atas meja kecil berpelitur kayu jati yang mulai mengelupas di sudut-sudutnya. Ia duduk perlahan di samping suaminya, merapikan ujung jilbab abu-abunya. "Tadi sore si sulung menelepon, Abah. Katanya mereka sekeluarga akan datang selepas salat Isya. Cucu-cucu juga sudah tidak sabar ingin membawakan kue pukis buatan ibunya."

"Alhamdulillah," ucap Arham lirih sambil mengelus cangkirnya. "Rumah ini akan kembali ramai. Rasanya baru kemarin kita duduk berdua di teras kontrakan sempit, meraba-raba masa depan tanpa pegangan selain keyakinan kepada Allah."

Humaira tersenyum, sorot matanya menerawang jauh menembus kaca jendela yang memperlihatkan senja mulai beranjak malam. "Waktu berjalan begitu cepat, ya, Abah. Dulu, setiap lembar hari terasa begitu berat untuk dibalik, seakan ada batu besar yang menimpa dada setiap kali fajar menyingsing."

"Dan kita hampir saja menyerah di beberapa tikungan jalan, Ummi," sahut Arham, suaranya sedikit bergetar mengingat kembali serpihan memori masa muda mereka. "Terutama saat badai fitnah itu menerpa usaha kita. Ingatkah kau malam-malam ketika kita hanya bisa saling berpandangan di bawah lampu petromak?"

"Bagaimana bisa aku lupa," jawab Humaira lembut, jemarinya menyentuh punggung tangan Arham. "Malam itu adalah titik di mana kita benar-benar diuji, apakah ikatan suci ini dibangun karena-Nya atau sekadar karena kesenangan dunia."

"Dan Allah membuktikan bahwa janji-Nya adalah benar," timpal Arham dengan pandangan menerawang. "Meskipun kita harus merangkak dari bawah, tangan-Nya senantiasa menuntun kita kembali ke jalan yang lurus."

Humaira mengangguk pelan. "Ya, Abah. Setiap detik dari napas kita hari ini adalah anugerah yang harus disyukuri dengan sujud yang panjang."

❖ ❖ ❖

Di balik ketenangan sore itu, tujuan utama hidup Arham dan Humaira sejak awal ikatan suci pernikahan mereka bukanlah sekadar mengumpulkan harta atau mengejar kemegahan duniawi. Berlandaskan ketaatan mutlak kepada Allah SWT, tujuan hidup mereka adalah merajut sebuah rumah tangga yang menjadi jalan menuju ridha-Nya, mendidik keturunan yang saleh dan salihah, serta menjaga kehormatan keluarga di atas prinsip kejujuran. Arham selalu menanamkan dalam hatinya bahwa setiap langkah pencarian rezeki harus bersih dari noda syubhat, sementara Humaira memegang teguh peran sebagai pendamping yang senantiasa meluruskan niat suaminya tatkala dunia mulai menawarkan kesenangan semu.

"Abah, mari kita pastikan niat kita hari ini tetap lurus," ucap Humaira suatu pagi di masa-masa awal perjuangan mereka, ketika Arham hendak berangkat merintis usaha kecil-kecilan di pasar induk. "Rezeki yang sedikit tetapi berkah jauh lebih menenangkan daripada harta melimpah yang di dalamnya ada hak orang lain yang terabaikan."

Arham menghentikan langkahnya di ambang pintu, menatap istrinya dengan pandangan penuh rasa syukur. "Kau selalu menjadi pengingat terbaikku, Ummi. Kadang kala ambisi untuk memberikan kehidupan yang layak buat kalian membuatku hampir khilaf. Tapi mendengar suara hatimu, aku sadar bahwa tujuan kita bukan sekadar kaya di mata manusia."

"Ingatlah janji Allah, Abah," lanjut Humaira sambil menyerahkan tas kerja usang milik suaminya. "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya dan memberikannya rezeki dari arah yang tak disangka-sangka. Tujuan kita adalah surga-Nya, dunia ini hanyalah tempat singgah sementara."

Prinsip itulah yang menjadi kompas bagi keluarga kecil mereka. Meskipun ombak cobaan datang silih berganti, tujuan tersebut tidak pernah bergeser sedikit pun. Ketika Arham ditawari jalan pintas oleh rekan bisnisnya untuk melipatgandakan keuntungan dengan cara yang merugikan pihak lain, ia menolak secara tegas tanpa ragu.

"Kita tidak boleh mengambil jalan itu, meskipun perut anak-anak kita harus menahan lapar malam ini," tegas Arham kepada Humaira malam itu di ruang tengah.

Humaira mengangguk mantap, meskipun ia sendiri baru saja meminjam beras setengah liter dari tetangga sebelah. "Keputusan yang tepat, Abah. Allah tidak akan pernah membiarkan hamba-Nya kelaparan selama ia berjalan di atas jalan yang diridhai-Nya. Kita hadapi bersama apa pun konsekuensinya."

"Kita tidak boleh goyah hanya karena kilau dunia yang menipu," tambah Arham dengan suara penuh ketegasan. "Kehormatan jauh lebih berharga daripada timbunan emas yang didapat dengan cara batil."

"Aku bangga padamu, Abah," bisik Humaira lembut. "Biarlah kita hidup sederhana di dunia, asalkan hati kita tenang dan bersih di hadapan-Nya."

❖ ❖ ❖

Namun, perjalanan waktu tidak pernah lurus tanpa tikungan tajam. Transisi dari masa-masa perjuangan awal menuju fase kestabilan ekonomi diuji dengan ujian yang lebih halus namun berbahaya: kelengahan hati akibat kesibukan dunia. Ketika usaha Arham mulai menunjukan perkembangan yang signifikan, tokonya di pasar mulai dikenal luas, dan pesanan berdatangan dari berbagai kota, kesibukan mulai menyita waktu kebersamaan mereka. Arham sering pulang larut malam, sementara Humaira harus mengurus anak-anak yang mulai beranjak remaja dengan segala dinamika psikologisnya.

"Abah, malam ini makanlah bersama kami di meja makan. Sudah tiga malam Abah melewatkan makan malam bersama anak-anak," ujar Humaira suatu malam saat Arham baru saja melepas sepatu di teras dengan wajah penat.

Arham mengusap wajahnya yang kasar, menghela napas panjang. "Maafkan aku, Ummi. Toko sedang ramai-ramainya, ada pengiriman besar yang harus aku awasi sendiri. Kalau tidak kuurus, mandor di sana bisa salah potong bahan."

"Aku mengerti kesibukanmu, Abah. Tapi anak-anak butuh sosok ayah di rumah, bukan sekadar penyokong finansial," ucap Humaira dengan nada lembut namun menyaratkan ketegasan seorang istri yang mulai merasa ada jarak di antara kesibukan suami mereka.

"Bukannya aku mencari harta untuk mereka juga? Agar sekolah mereka tenang, agar masa depan mereka terjamin?" jawab Arham sedikit meninggikan suara, kelelahan fisik mulai mengikis kesabarannya.

Humaira terdiam sejenak, menatap suaminya dengan sorot mata yang menyiratkan kepedihan mendalam. "Harta bisa dicari, Abah. Tapi waktu kebersamaan bersama anak-anak yang sedang tumbuh tidak bisa diulang kembali. Jangan sampai kita kehilangan mereka di rumah kita sendiri."

Arham tersadar oleh nada bicaranya. Ia mendekati istrinya, meraih pundak wanita yang telah menemaninya melewati masa-masa sulit tersebut. "Maafkan aku, Ummi. Aku terlalu terbawa arus kesibukan hingga lupa bahwa harta yang melimpah tidak ada artinya jika rumah tangga kita kehilangan kehangatan."

"Mari kita perbaiki ini bersama-sama, Abah," ajak Humaira dengan senyuman tulus. "Jangan biarkan kesibukan merampas waktu yang seharusnya kita miliki sebagai sebuah keluarga."

"Aku berjanji akan mengatur waktu lebih baik mulai esok hari," balas Arham mantap.

Lihat selengkapnya