Dingin malam di emperan toko tua itu merayap pelan menembus serat kain jaket rajut Arham. Suara kendaraan yang melintas di jalan raya utama terdengar seperti deru ombak yang tak pernah lelah, membentur dinding-dinding sunyi di kepala Arham. Di pangkuannya, Humaira merapatkan selimut flanel bayi berwarna hijau muda, memastikan wajah mungil Ibrahim terlindung dari angin malam yang membawa debu jalanan. Lampu neon jalanan berkedip lemah, memantulkan bayangan panjang mereka di lantai semen yang retak.
"Anginnya makin kencang, Mas. Takut Ibrahim masuk angin," bisik Humaira, matanya menatap cemas ke arah bungkusan kain tempat bayi berusia dua bulan itu tidur lelap.
Arham menghela napas berat, uap tipis mengepul dari sela bibirnya yang kering. Ia menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke sisi Humaira, merangkul bahu istrinya dengan sebelah tangan yang terasa kaku karena lelah. "Sabar sebentar lagi, Mai. Sebentar lagi warung kopi di ujung gang tutup, kita bisa pindah ke terasnya yang lebih terlindung dari angin."
"Sudah hampir jam sepuluh malam, Mas. Kaki Abang pasti pegal seharian berdiri di pasar," balas Humaira lembut, jemarinya meraba punggung tangan Arham yang kasar. Ada rasa bersalah yang diam-diam menyelinap di dada perempuan itu setiap kali melihat suaminya kelelahan demi sesuap nasi.
"Pegal itu biasa, Mai. Yang bikin pundak berat itu bukan beban barang di pasar, tapi pikiran soal kontrakan bulan depan," kata Arham jujur, suaranya parau namun menyembunyikan ketegaran yang dipaksakan.
Humaira menunduk, menatap wajah Ibrahim yang bergerak dalam tidurnya, bibir kecilnya mengecap-ngecap seolah sedang bermimpi menyusu. "Kita jalani pelan-pelan ya, Mas. Allah pasti kasih jalan. Yang penting kita bertiga tetap bersama."
"Abang cuma takut tidak bisa ngasih yang layak buat kamu dan Ibrahim, Mai. Lihat baju kalian, sudah terlalu lama kita hidup di jalanan seperti ini," gumam Arham lirih, tatapannya kosong menerawang ke arah genangan air di depan trotoar.
"Rezeki bukan cuma soal uang kontrakan, Mas. Kesabaran Abang selama ini sudah lebih dari cukup buat aku," jawab Humaira, mencoba menguatkan suaminya dengan senyuman tipis yang menyembunyikan kelelahan luar biasa di matanya.
"Tapi sampai kapan, Mai? Aku merasa gagal jadi kepala keluarga kalau anak istriku harus tidur di emperan toko orang," ucap Arham dengan nada berat penuh penyesalan.
"Jangan bicara begitu, Mas. Kegagalan itu kalau kita menyerah. Selama Abang terus berusaha dengan cara yang halal, aku tidak akan pernah merasa kekurangan," balas Humaira mantap, menatap lurus ke dalam manik mata suaminya.
Arham tertegun mendengar keteguhan hati istrinya. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya, mengalahkan dinginnya angin malam yang terus menderu.
❖ ❖ ❖
Di balik kesederhanaan malam itu, Arham memegang sebuah tujuan bulat yang terus ia simpan rapat-rapat di dalam hatinya. Ia ingin malam ini menjadi titik balik hidup mereka. Bukan sekadar bertahan hidup di emperan jalan atau berpindah dari satu teras toko ke teras toko lainnya, melainkan mencari kepastian kepada Badri—mantan rekan kerjanya di pabrik tekstil—yang berjanji akan memberikan pekerjaan tetap sekaligus pinjaman modal kecil untuk menyewa petak kamar di perkampungan belakang pasar.
"Abang yakin Badri bisa ditelepon jam segini?" tanya Humaira saat melihat Arham merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel berlayar retak yang baterainya tinggal belasan persen.
"Mau tidak mau harus dicoba, Mai. Kalau kita tidak ambil kesempatan ini sekarang, besok lusa pemilik lapak di pasar pasti melarang kita numpang naro gerobak lagi," jawab Arham, jarinya menekan tombol panggil dengan ragu.
"Tapi Abang ingat kan, terakhir kali Badri keliatan kurang antusias waktu Abang cerita soal kondisi Ibrahim?" Humaira mengingatkan, nada suaranya menyiratkan keraguan yang beralasan.
Arham terdiam sejenak sebelum menjawab, "Badri itu tipikal orang yang sibuk, Mai. Dia butuh diyakinkan langsung. Makanya, begitu dia bilang mau ketemu di warung dekat terminal lama, langsung aku iyakan."
"Jaraknya hampir tiga kilometer dari sini, Mas. Jalan kaki?" mata Humaira membelalak kaget.
"Mau naik apa lagi kalau uang di dompet tinggal sepuluh ribu buat beli susu?" Arham tersenyum pahit, mencoba mencairkan ketegangan di antara mereka. "Aku tinggal sebentar ya. Kamu tunggu di sini sama Ibrahim, jangan kemana-mana, kunci gerobak lipat toko ini kalau perlu."
"Hati-hati, Mas. Jangan terlalu ngebut pikirannya. Ingat, ada kami di sini yang nunggu," pesan Humaira, tatapannya menyusul punggung Arham yang mulai melangkah menjauh di bawah temaram lampu kota.
"Iya, Mai. Jangan lupa kunci gembok kecilnya dari dalam," sahut Arham tanpa menoleh, mempercepat langkahnya agar lekas sampai di tempat janjian.
"Pastikan Abang tidak usah terlalu sungkan kalau menagih janji Badri. Dia yang nawarin duluan," tambah Humaira sedikit meninggikan suara agar terdengar di antara bising kendaraan.
Arham melambaikan tangannya tanpa berbalik. Tujuannya malam ini hanya satu: mendapatkan kepastian demi masa depan kecil mereka agar keluar dari lingkaran kemiskinan kota.
❖ ❖ ❖
Langkah kaki Arham terasa berat meninggalkan emperan tempat Humaira dan Ibrahim berteduh. Udara malam kian menusuk tulang, tetapi keringat dingin justru merembes di pelipisnya. Setiap ayunan langkahnya diiringi oleh gemuruh batin yang tak berkesudahan; rasa bersalah karena meninggalkan istri dan bayi mereka di tempat terbuka, bergeser menjadi rasa takut kalau-kalau harapan pada Badri hanyalah anomali kosong belaka.
"Kira-kira Badri beneran datang nggak ya?" gumam Arham pada dirinya sendiri, matanya menyapu trotoar yang mulai sepi dari pejalan kaki.
Deru angkutan umum yang melintas sesekali menyiram tubuhnya dengan cipratan air genangan sisa hujan sore tadi. Arham merapatkan jaketnya, mempercepat langkah saat melihat plang nama terminal lama mulai menampakkan siluetnya di kejauhan. Di sanalah, di bawah lampu penerangan yang separuhnya mati, sesosok pria berjaket kulit sintetis tampak berdiri sambil memainkan korek api gas.
"Arham! Sini, bro!" panggil Badri begitu melihat kedatangan Arham dengan napas tersengal-sengal.
Arham mendekat, menyeka pelipisnya dengan punggung tangan. "Maaf agak lama, Bad. Jalannya lumayan bikin ngos-ngosan."
"Santai aja kali, Ham. Lu keliatan capek banget. Duduk dulu sini di bangku panjang," ujar Badri sambil menunjuk bangku kayu panjang di samping pos penjagaan terminal yang kosong.
Arham duduk, merasakan otot-otot pahanya berdenyut nyeri. "Namanya juga kepala keluarga, Bad. Lagi diuji sedikit."
"Soal pekerjaan yang kemarin gua bilang... jujur nih ya, posisinya udah diisi sama saudaranya pengawas gudang kemarin lusa," kata Badri langsung pada intinya tanpa basa-basi panjang, membuat napas Arham mendadak tertahan di tenggorokan.
"Sudah diisi orang lain? Padahal baru kemarin kita janji, Bad," ujar Arham dengan nada kecewa yang tak bisa ia sembunyikan.
"Gua nggak enak, Ham. Tapi bos besar yang langsung tunjuk tangan. Lu tahu sendiri, di kota ini orang dalem lebih kuat daripada janji lisan," dalih Badri sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.