Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #74

Menjaga Romantisme: Rencana kencan halal

Sore menjelang malam menyelimuti kawasan kota kecil tempat tinggal mereka dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan mereka yang kini tampak semakin rapi, hangat, dan tertata, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh mengurus operasional tokonya di pasar tradisional yang kini telah melewati berbagai ujian berat dan semakin stabil. Ia meletakkan tas kerja kulit sintetisnya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melonggarkan kancing atas kemeja koko putihnya yang sedikit kusut karena lelah beraktivitas. Di sudut ruangan, putra kecil mereka—Ibrahim—yang kini sudah berusia satu tahun lebih tengah merangkak lincah mengejar mainan bola kainnya, ditemani tawa renyah yang mengisi keheningan rumah. Suasana rumah terasa begitu damai, menyisakan ruang bagi kedamaian batin yang selalu dirindukan Arham setiap kali ia melangkah pulang setelah berjuang mencari rezeki halal di luar sana.

"Assalamu’alaikum, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bernada lelah namun hangat, melangkah perlahan menuju arah dapur kecil tempat istrinya sedang menyiapkan keperluan makan malam.

Humaira muncul dari balik tirai dapur, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut kepulangan sang suami. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kau tampak sangat lelah hari ini, Arham. Duduklah dulu di sofa, aku sudah menyiapkan segelas air hangat dan sedikit camilan sore untukmu."

Arham tersenyum tipis, menuruti ajakan istrinya lalu mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing. "Alhamdulillah, hari ini toko memang sangat ramai pembeli, Humaira. Pengiriman barang dari distributor baru juga datang bersamaan, jadi tenagaku terkuras habis sejak pagi."

Humaira mendekat, membawa nampan kecil berisi segelas air putih hangat dan sepiring kecil kurma basah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan suaminya. "Minumlah dulu agar tenagamu pulih. Perjuanganmu selama ini tidak pernah sia-sia, Arham. Usaha kecil yang kita bangun dari nol perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang sangat stabil dan berkah."

"Semua itu berkat doa dan kesabaranmu juga yang selalu mendampingiku di saat-saat sulit," balas Arham tulus, meraih gelas air hangat dan meminumnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

❖ ❖ ❖

"Ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu, Arham," ucap Humaira lembut sambil duduk bersimpuh di samping suaminya usai meletakkan nampan kecil di atas meja.

Arham menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata penuh perhatian. "Katakan saja, Humaira. Ada hal penting apa yang ingin kaubicarakan?"

"Aku merenung cukup lama akhir-akhir ini, Arham," tutur Humaira dengan nada suara yang sedikit malu-malu namun penuh ketulusan. "Sejak Ibrahim lahir dan kesibukan tokomu semakin padat, hari-hari kita seolah tersita sepenuhnya oleh urusan domestik dan pekerjaan. Kapan terakhir kali kita bisa berdua saja menikmati waktu tanpa memikirkan toko atau kerewelan bayi?"

Mendengar pertanyaan itu, Arham tertegun sejenak. Ia menyadari bahwa rutinitas harian yang begitu padat memang perlahan mengikis waktu khusus bagi mereka berdua sebagai pasangan suami istri.

"Kau benar, Humaira," balas Arham lembut, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat. "Tujuanku sekarang adalah mengajakmu keluar menikmati kencan halal di taman kota akhir pekan ini. Kita titipkan Ibrahim sebentar kepada Ibu mertua, lalu kita habiskan waktu berdua mengenang masa-masa taaruf kita dulu."

Mata Humaira langsung berbinar cerah mendengar usul suaminya. Senyuman lebar terkembang di wajahnya. "Benarkah, Arham? Sungguh sebuah ide yang sangat menyenangkan. Aku sangat merindukan suasana tenang di taman kota tempat dulu kita pertama kali dipertemukan."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tengah mendadak terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai oleh keheningan sesaat yang dipenuhi oleh pancaran cinta dan kerinduan di antara kedua pasutri tersebut. Transisi dari perbincangan harian menuju rencana kencan romantis membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.

Humaira meremas jemari suaminya pelan, merasakan debaran hangat di dadanya seolah ia kembali menjadi gadis muda di masa taaruf dulu. "Mengenang masa-masa awal kita berkenalan dulu selalu berhasil membuatku tersenyum sendiri, Arham. Betapa kaku dan canggungnya kita saat itu."

"Aku ingat betul bagaimana gugupnya diriku saat pertama kali duduk di hadapan ayahmu untuk meminta izin mengenalmu," kenang Arham sambil tertawa kecil, matanya menyiratkan kebahagiaan yang mendalam. "Kau mengenakan jilbab sederhana berwarna merah muda, menunduk malu sepanjang pertemuan."

"Dan aku ingat kau datang membawa buku catatan kecil seolah kita sedang melakukan wawancara kerja," timpal Humaira tergelak renyah, menciptakan melodi kebahagiaan di dalam rumah kecil mereka.

Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa menjaga romantisme dalam ikatan pernikahan yang sah bukanlah hal yang tabu, melainkan sebuah kebutuhan ruhani untuk merawat cinta agar tetap segar di tengah terpaan tanggung jawab rumah tangga. Udara sore yang kian mendingin di luar jendela seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang keluarga kecil mereka.

"Mari kita atur jadwal akhir pekan ini dengan matang, Humaira," ajak Arham mantap. "Aku akan meminta izin kepada Ibu untuk menjaga Ibrahim selama beberapa jam."

❖ ❖ ❖

Namun, rencana kencan romantis yang sudah disusun dengan penuh antusias itu seketika diuji oleh sebuah rintangan kecil di menjelang hari pelaksanaan. Tepat pada Jumat malam, Ibu Siti—ibu mertua Arham—mendadak menelepon dan mengabarkan bahwa beliau sedang tidak enak badan akibat kelelahan dan tidak bisa datang untuk menjaga Ibrahim pada akhir pekan esok.

Lihat selengkapnya