Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #76

Perbedaan Karakter Anak

Matahari pagi di awal musim hujan menyemburkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman depan rumah mungil Arham dan Humaira di Kota Bandar Lampung. Suasana di dalam ruang keluarga berukuran sedang itu terasa sangat hangat, dipenuhi suara tawa riang Ibrahim yang kini sudah berusia empat tahun serta tangisan rewel dari anak kedua mereka, Maryam, yang baru menginjak usia delapan bulan. Di atas karpet bulu abu-abu, Humaira tampak duduk bersimpuh mengenakan gamis rumahan berwarna hijau sage, mencoba menenangkan Maryam yang terus merengek di dalam gendongannya sementara Ibrahim sibuk menarik-narik celana kain ayahnya.

"Papa, lihat gambar mobil buatan Ibrahim ini! Bagus kan?" seru Ibrahim antusias sambil menyodorkan selembar kertas HVS penuh coretan krayon warna merah kepada Arham yang sedang merapikan dokumen kerja di meja sudut ruangan.

Arham menoleh sambil tersenyum lebar, berlutut sejenak mengelus kepala sulungnya. "Wah, gambar mobil jipnya keren sekali, abang. Nanti kita buat versi aslinya di studio ya."

Di sisi lain ruangan, Humaira menghela napas pelan, mengusap lembut punggung Maryam yang masih menggeliat gelisah. "Sepertinya Maryam mulai tumbuh gigi lagi, Mas. Dari subuh tadi rewel terus, tidak mau lepas dari gendongan sama sekali, beda banget dulu waktu Ibrahim bayi yang cenderung tenang dan jarang menangis malam-malam."

Arham bangkit dari kursinya, berjalan mendekati istrinya lalu mengulurkan tangan mengambil alih gendongan Maryam. "Sini, gantian sama Papa sebentar. Kamu sarapan dulu, Mai. Wajahmu kelihatan lelah sekali kurang tidur."

Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah memasuki tahun-tahun penuh kematangan ini kembali diuji dalam bentuk dinamika pengasuhan anak yang sama sekali berbeda. Jika Ibrahim dulu dikenal sebagai balita yang kooperatif, penurut, dan mudah diatur, maka Maryam justru tumbuh dengan temperamen yang jauh lebih sensitif, mudah menangis, dan memiliki kemauan keras yang menuntut perhatian ekstra setiap detiknya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira dalam menghadapi perbedaan karakter yang mencolok antara kedua anak mereka bukanlah membanding-bandingkan atau memaksa Maryam agar bersikap tenang seperti kakaknya, melainkan belajar memahami keunikan psikologis setiap anak secara sabar serta menyamakan frekuensi pola pengasuhan yang adil dan penuh kasih sayang. Arham menyadari bahwa sebagai orang tua, dirinya dan Humaira tidak boleh merasa lelah atau mudah kehilangan kesabaran hanya karena menghadapi kerewelan bayi perempuan mereka yang memiliki energi sensitif tinggi.

"Kita harus ingat, Mai, setiap anak itu membawa rezeki dan karakternya masing-masing dari Allah. Tidak bisa kita samakan pola asuh Ibrahim dulu dengan Maryam sekarang," ucap Arham lembut sambil menimang Maryam di dalam dekapan lengannya, membuat tangisan bayi itu perlahan mereda.

Humaira merapikan mangkuk bubur sisa sarapan di atas meja, lalu menatap suaminya dengan senyuman tipis yang menyiratkan rasa lelah sekaligus kelegaan batin. "Aku paham, Mas. Hanya saja kadang rasanya kewalahan kalau Maryam sedang rewel bersamaan saat Ibrahim minta ditemani main. Khawatir kalau aku jadi gampang emosi di depan anak-anak."

Bagi Arham dan Humaira, tujuan akhir dari setiap tantangan domestik ini adalah menciptakan iklim rumah tangga yang penuh keteduhan jiwa, di mana setiap anggota keluarga merasa diterima apa adanya. Mereka sepakat untuk membagi tugas secara fleksibel—jika Humaira sedang fokus menenangkan Maryam yang rewel, maka Arham akan mengambil alih mendampingi Ibrahim bermain atau belajar menggambar, begitu pula sebaliknya.

"Makanya kita perlu kerja sama tim yang solid, Mai. Kalau kamu capek, bilang saja, jangan dipendam sendiri. Kita hadapi rewelnya Maryam ini sebagai ladang pahala sabar buat kita berdua," kata Arham menenangkan istrinya dengan tatapan penuh cinta.

Di lantai karpet, Ibrahim tiba-tiba mendekat sambil membawa botol minum plastiknya. "Mama jangan sedih ya, nanti Ibrahim bantu tiup kepala Maryam biar cepat sembuh sakit giginya."

Humaira tertawa kecil mendengar kepolosan anak sulungnya, lalu berjongkok memeluk Ibrahim erat-erat. Tujuan mulia dalam membina mentalitas anak-anak mereka kini mulai membuahkan hasil berupa tumbuhnya empati alami pada diri Ibrahim terhadap adik kecilnya.

❖ ❖ ❖

Menjelang tengah hari, setelah Maryam akhirnya berhasil tertidur pulas di dalam boks bayi akibat kelelahan menangis dan Ibrahim sibuk menonton video edukasi anak di televisi ruang tengah, suasana rumah berangsur-angsur menjadi tenang. Arham kembali melanjutkan pekerjaannya di ruang studio kecil depan rumah, sementara Humaira memanfaatkan waktu senggang singkat itu untuk merapikan dapur dan menyiapkan bahan makan siang.

Transisi dari hiruk-pikuk pengasuhan pagi hari menuju keheningan siang hari memberikan kesempatan bagi Arham dan Humaira untuk menarik napas sejenak meresapi perjalanan rumah tangga mereka yang kini semakin kaya warna.

Humaira melangkah pelan membawa dua gelas jus jeruk segar ke ruang studio, meletakkannya di sudut meja kerja suaminya dengan hati-hati agar tidak mengusik tumpukan kertas gambar teknik.

"Segar sekali rasanya dapat asupan vitamin siang-siang begini, terima kasih banyak ya, Mai," ucap Arham tersenyum, menoleh ke arah istrinya yang berdiri di samping meja.

Humaira menarik kursi kecil lalu duduk di hadapan suaminya. "Mas, tadi waktu Maryam menangis kencang sekali pas jam delapan tadi, jujur dadaku sempat terasa sesak karena takut mengganggu tetangga sebelah rumah. Rasanya jadi ibu anak dua itu jauh lebih menantang daripada bayanganku dulu."

Arham merespons dengan meraih tangan istrinya, mengusap lembut jemari lembut wanita yang telah menemaninya berjuang dari nol tersebut. "Wajar kalau kamu merasa begitu, Mai. Tantangan mendidik anak perempuan yang perasaannya sangat sensitif memang butuh kesabaran berlapis. Tapi aku yakin, didikan penuh kelembutan dari tanganmulah yang nanti membentuk Maryam jadi anak yang kuat."

Transisi emosional dari rasa cemas dan kewalahan menuju penerimaan diri yang ikhlas mencerminkan kedewasaan spiritual pasangan tersebut. Mereka menyadari bahwa setiap fase tumbuh kembang anak memiliki ujian tersendiri yang dirancang oleh Sang Pencipta untuk mempererat ikatan batin suami istri.

Ketika azan zuhur berkumandang dari musala kompleks perumahan, Arham segera mematikan layar komputernya, mengajak istrinya bersiap menunaikan salat berjemaah di ruang tengah untuk menjemput ketenangan jiwa di tengah kesibukan harian.

Lihat selengkapnya