Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #82

Peran yang Berbalik

Malam merayap lambat di atas genting-genting rumah petak yang berdempetan padat di perkampungan pinggir kota. Lampu jalan kuning redup memantulkan bayangan panjang dari bilik-bilik bambu yang mulai melapuk dimakan usia. Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali tiga meter itu, aroma minyak angin dan balsem hangat menguap pekat, beradu dengan bau debu yang menempel di tirai kain kusam. Arham terbaring lemah di atas kasur kapuk tipis yang terletak di sudut ruangan, napasnya terdengar berat dan memburu, diselingi batuk kering yang membuat dadanya naik turun tersengat nyeri.

Humaira duduk bersimpuh di sisi kiri kasur, jemarinya yang lentik namun kasar karena air cucian dengan telaten memeras handuk kecil di dalam baskom berisi air hangat. Wajah perempuan itu tampak pucat, menyisakan bayangan gelap di bawah matanya akibat berhari-hari kurang tidur. Namun, tidak ada garis kejenuhan yang terpahat di sana; yang ada hanya tatapan cemas yang berbaur dengan ketulusan yang mendalam setiap kali ia memandangi suaminya yang terkulai tak berdaya.

"Dada Abang masih terasa sesak?" tanya Humaira dengan suara parau, berusaha menjaga nada bicaranya tetap tenang agar tidak menambah beban pikiran suaminya.

Arham membuka matanya perlahan, mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan diri dengan cahaya lampu bohlam lima watt yang menggantung di tengah kamar. "Agak mendingan setelah dikompres air hangat tadi, Mai... tapi rasanya badan ini seperti remuk redup, tidak bisa diajak kompromi sama sekali."

"Namanya juga demam tinggi, Mas. Dua hari lalu Abang masih memaksakan diri mengangkat karung pupuk di gudang meski hujan deras turun. Makanya tubuh langsung protes," balas Humaira lembut, lalu menempelkan handuk hangat itu ke dahi suaminya dengan sangat hati-hati.

Arham menghela napas panjang, mendesis pelan saat mencoba menggerakkan bahunya yang kaku. "Kalau aku terus-terusan terbaring seperti ini, siapa yang nanti cari uang untuk beli beras dan susu Ibrahim? Kita sudah menunggak kontrakan dua minggu, Mai."

"Jangan dipikirkan dulu, Mas. Fokus saja pada pemulihan kesehatan Abang. Soal rezeki, Allah sudah mengatur jalannya. Yang penting sekarang suhu badan Abang turun dulu," ucap Humaira menenangkan, jemarinya beralih mengusap rambut suaminya yang basah oleh keringat dingin.

"Aku merasa tidak berguna, Mai. Sebagai kepala keluarga, seharusnya aku yang melindungi dan mencukupi kalian, bukan malah menjadi beban yang terbaring sakit di sudut kamar," gumam Arham penuh penyesalan, suaranya bergetar menahan rasa bersalah yang menggunung di dadanya.

Humaira menggeleng pelan, tersenyum tipis seraya merapikan selimut tipis yang membungkus kaki suaminya. "Abang bukan beban. Selama bertahun-tahun Abang banting tulang tanpa kenal lelah demi aku dan Ibrahim, apakah tidak boleh kalau sekarang giliran aku yang merawat Abang dengan segenap tenaga?"

Arham menatap manik mata istrinya yang berkaca-kaca. Ada keteguhan baja di balik kelembutan perempuan itu, sebuah kekuatan luar biasa yang selalu berhasil menyelamatkan Arham dari jurang keputusasaan di setiap fase terberat dalam hidup mereka.

❖ ❖ ❖

Di balik kelemahan fisik yang meruntuhkan tenaganya, Arham menyimpan sebuah tujuan mutlak di dalam benaknya yang mulai berkabut karena demam. Ia ingin malam ini menjadi batas akhir dari ketidakberdayaannya. Tujuan utamanya bukan sekadar sembuh dari sakit, melainkan memastikan bahwa esok pagi ia sudah bisa kembali berdiri di atas kedua kakinya, mengejar sisa-sisa pekerjaan harian di pasar sebelum pemilik lapak mencoret namanya dari daftar buruh panggul tetap.

"Mai, tolong ambilkan ponsel di atas meja nakas itu," pinta Arham dengan suara berbisik seraya menunjuk sudut ruangan dengan dagunya.

Humaira menghentikan kegiatannya melipat kain lap, menoleh dengan kening berkerut cemas. "Ponsel? Buat apa malam-malam begini, Mas? Abang mau hubungi siapa?"

"Aku mau mengabari Pak Hasan di pasar, bilang kalau lusa aku pasti sudah masuk kerja lagi. Kalau tidak dikabari sekarang, posisi kerjaku bisa digantikan orang lain permanen," jawab Arham, mencoba memaksakan diri untuk bangun dari posisinya.

Humaira langsung bangkit, menahan bahu suaminya agar kembali berbaring dengan sigap. "Jangan nekat, Mas! Suhu tubuh Abang masih tinggi begini, mau ngomong sama Pak Hasan dalam kondisi suara parau begitu? Beliau pasti tahu kalau Abang sedang sakit parah."

"Tapi kalau aku diam saja, tabungan kita sudah benar-benar habis, Mai. Uang di dompet tinggal cukup buat beli obat penurun panas ini," desak Arham, ada kepanikan yang tersirat jelas di balik sorot matanya yang sayu.

"Biar aku yang urus semuanya, Mas. Tadi sore aku sudah bicara sama Bu Darmi, aku diizinkan membantu mencuci pakaian keluarganya sebagai tambahan upah mingguan. Kita tidak akan kelaparan malam ini," terang Humaira tegas, menatap suaminya dengan sorot mata penuh keyakinan.

Arham tertegun, menelan ludah yang terasa getir di tenggorokan keringnya. "Kamu harus kerja tambahan di rumah orang lain lagi padahal mengurus Ibrahim saja sudah seharian menyita tenaga?"

"Kerja halal, Mas. Kenapa harus malu? Yang penting kita tidak meminta-minta di jalanan," jawab Humaira mantap, merapikan letak bantal di kepala suaminya.

Arham mengangguk lemah, menyerahkan tujuannya malam ini pada sang istri yang sekali lagi membuktikan bahwa pundak wanita itu jauh lebih kokoh daripada yang ia bayangkan selama ini.

❖ ❖ ❖

Perubahan situasi yang drastis itu membawa Arham pada sebuah fase transisi batin yang melelahkan. Dulu, dialah benteng pertahanan utama keluarga kecil itu, sosok pria pencari nafkah yang selalu pulang dengan peluh di kening demi menafkahi istri dan anaknya. Kini, peran tersebut berbalik secara total. Arham harus duduk termenung di balik jendela kaca kusam, menyaksikan Humaira berjibaku membagi waktu antara menyuapi Ibrahim yang mulai aktif, membersihkan lantai petak kontrakan, hingga menyiapkan ramuan herbal tradisional untuk meredakan batuk suaminya.

"Minum dulu air rebusan jahe merahnya, Mas, biar tenggorokan Abang agak longgar," tawar Humaira sambil menyodorkan mangkuk kecil berisi cairan hangat ke hadapan Arham.

Arham menerima mangkuk itu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Ia meniup permukaannya pelan sebelum meneguknya sedikit demi sedikit. "Rasanya pedas sekali, Mai, tapi langsung hangat di dada."

"Namanya juga obat herbal, Mas. Warisan resep ibu dulu waktu aku kecil kalau sedang terserang demam musim pancaroba," ujar Humaira sambil mengelap meja kayu dengan kain basah.

Lihat selengkapnya