Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #84

Pendidikan Mental Anak: Mengajarkan Ibrahim

Sore menjelang malam menyelimuti kawasan perumahan sederhana tempat tinggal mereka dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan mereka yang kini tampak semakin rapi, hangat, dan tertata berkat ketelatenan sang istri, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh mengurus operasional tokonya di pasar tradisional yang kini telah melewati berbagai ujian berat dan semakin berkembang pesat. Ia meletakkan tas kerja kulit sintetisnya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melonggarkan kancing atas kemeja koko putihnya yang sedikit kusut karena lelah beraktivitas. Di sudut ruangan, putra kecil mereka—Ibrahim—yang kini sudah berusia dua tahun lebih tengah berlari-lari kecil mengejar mainan bola kainnya, ditemani tawa renyah yang mengisi keheningan rumah. Suasana rumah terasa begitu damai, menyisakan ruang bagi kedamaian batin yang selalu dirindukan Arham setiap kali ia melangkah pulang setelah berjuang mencari rezeki halal di luar sana.

"Assalamu’alaikum, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bernada lelah namun hangat, melangkah perlahan menuju arah dapur kecil tempat istrinya sedang menyiapkan keperluan makan malam.

Humaira muncul dari balik tirai dapur, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut kepulangan sang suami. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kau tampak sangat lelah hari ini, Arham. Duduklah dulu di sofa, aku sudah menyiapkan segelas air hangat dan sedikit camilan sore untukmu."

Arham tersenyum tipis, menuruti ajakan istrinya lalu mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing akibat tekanan pekerjaan di pasar. "Alhamdulillah, hari ini toko memang sangat ramai pembeli, Humaira. Pengiriman barang dari distributor baru juga datang bersamaan, jadi tenagaku terkuras habis sejak pagi."

Humaira mendekat, membawa nampan kecil berisi segelas air putih hangat dan sepiring kecil kurma basah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan suaminya. "Minumlah dulu agar tenagamu pulih. Perjuanganmu selama ini tidak pernah sia-sia, Arham. Usaha kecil yang kita bangun dari nol perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang sangat stabil dan berkah."

"Semua itu berkat doa dan kesabaranmu juga yang selalu mendampingiku di saat-saat sulit," balas Arham tulus, meraih gelas air hangat dan meminumnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

❖ ❖ ❖

"Ada sesuatu yang ingin kuceritakan kepadamu mengenai perkembangan Ibrahim akhir-akhir ini, Arham," kata Humaira memulai percakapan serius sambil duduk bersimpuh di samping suaminya usai meletakkan nampan kecil di atas meja.

Arham menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata penuh perhatian. "Perkembangan apa tentang Ibrahim, Humaira? Apakah ia sudah mulai lancar berbicara kalimat panjang?"

"Bukan hanya itu," tutur Humaira dengan nada suara yang penuh kelembutan dan binar mata bangga. "Di usianya yang menginjak dua tahun ini, aku melihat kecerdasannya menyerap nilai-nilai kebaikan mulai terlihat nyata. Ia sudah mulai meniru gerakan kita saat mendirikan salat di atas sajadah kecilnya."

Arham mengangguk pelan, menyimak setiap kata yang diucapkan istrinya dengan senyuman terkembang di wajahnya. "Alhamdulillah, sungguh karunia yang luar biasa. Pendidikan karakter dan mental anak memang harus ditanamkan sejak dini dari lingkungan keluarga."

"Tepat sekali," sahut Humaira mantap, menggenggam jemari suaminya pelan. "Tujuanku sekarang adalah mengajarkan Ibrahim sebuah kebiasaan mental yang kuat secara spiritual—mendoakan kedua orang tuanya, terutama mendoakan kesembuhan dan kesehatan ayahnya setiap kali selesai menunaikan salat lima waktu. Aku ingin ia tumbuh menjadi anak yang bukan hanya cerdas secara akal, tetapi juga memiliki kepedulian emosional dan kedekatan bimbingan doa kepada Allah untuk keluarganya."

Arham tertegun sejenak, merasakan gelombang keharuan yang luar biasa menyusup ke dalam relung dadanya. "Sebuah tujuan mulia yang sangat menyentuh hati, Humaira. Mari kita ajarkan ia perlahan-lahan dengan penuh kesabaran."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tengah mendadak terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai oleh keheningan sesaat yang dipenuhi oleh pancaran cinta dan nilai-nilai ketuhanan di antara kedua pasutri tersebut. Transisi dari perbincangan harian menuju rencana pendidikan mental anak membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.

Humaira meremas jemari suaminya pelan, merasakan ketenteraman batin yang luar biasa. "Aku ingin Ibrahim tumbuh menjadi anak lelaki yang saleh, yang tidak hanya mendoakan kita setelah kita tiada nanti, tetapi juga mendoakan kesehatan dan keberkahan kita saat kita masih berjuang bersama di dunia."

"Doa anak yang saleh adalah investasi akhirat yang paling berharga bagi orang tuanya," timpal Arham lembut, mengusap punggung tangan istrinya penuh kasih sayang. "Menanamkan nilai tauhid dan rasa cinta kasih dalam bentuk doa sejak kecil akan membentuk mental spiritualnya menjadi pribadi yang tangguh dan berempati tinggi."

Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa pendidikan anak usia dini bukanlah sekadar mengajarkan kepandaian akademik, melainkan membentuk jiwa yang senantiasa terhubung kepada Sang Pencipta dalam setiap keadaan. Udara sore yang kian mendingin di luar jendela seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang keluarga kecil mereka.

"Mari kita mulai membiasakan hal itu malam ini juga, Humaira," usul Arham mantap. "Saat salat isya berjemaah nanti, kita bimbing ia melafalkan doa kebaikan untuk ayah dan ibunya."

"Ide yang sangat indah, Arham," balas Humaira antusias, menyambut usul suaminya dengan senyuman lebar.

❖ ❖ ❖

Namun, niat mulia untuk mengajarkan pendidikan mental spiritual kepada anak balita itu seketika diuji oleh sebuah rintangan kecil di waktu salat isya malam harinya. Tepat saat Arham membentangkan sajadah besar dan Humaira merapikan sajadah kecil milik Ibrahim, balita mungil itu justru menunjukkan sikap menolak dengan menangis rewel sambil berlari menghindari sajadahnya.

Lihat selengkapnya