Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #87

Kesembuhan yang Dinanti

Pagi di ruang tunggu Puskesmas Kelurahan Mekarsari menyambut langkah kaki Arham dan Humaira dengan aroma khas cairan karbol dan obat antiseptik yang menusuk hidung. Cahaya matahari pukul sembilan pagi menerobos masuk lewat jendela kaca nako yang berdebu, menyorot lantai ubin putih kusam tempat beberapa orang pasien duduk menunduk lesu. Di gendongan depan Humaira, Ibrahim yang kini hampir menginjak usia tiga tahun tampak tenang menggenggam sebotol kecil air mineral, matanya mengerjap-ngerjap memperhatikan lalu-lalang perawat berjas putih. Arham duduk di samping istrinya, menarik napas dalam-dalam untuk meredakan degup jantungnya yang bergemuruh hebat, sementara tangannya menggenggam erat lembaran kertas rujukan berwarna kuning di atas pangkuan.

"Tangan Abang masih dingin banget, Mas," bisik Humaira lembut, jemarinya yang bebas terulur menyentuh punggung tangan Arham yang basah oleh keringat dingin.

Arham tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa cemas yang merayap di dadanya. "Wajar, Mai. Namanya juga mau ketemu dokter spesialis paru setelah sebulan batuk berdarah kemarin. Rasanya seperti menunggu vonis sidang pengadilan."

"Jangan bicara yang aneh-aneh, Mas. Insya Allah hasil rontgen dan pemeriksaan laboratorium hari ini membawa kabar baik. Abang sudah jarang batuk kan seminggu belakangan ini?" balas Humaira dengan nada menenangkan, meski sorot matanya sendiri menyiratkan ketegangan yang sama besarnya.

"Iya sih, rasanya jauh lebih ringan. Tapi tetap saja pikiran ini kemana-mana, takut kalau ternyata penyakitnya belum tuntas dan malah merepotkan kalian lagi," aku Arham jujur, bahunya merosot turun menyandarkan punggung pada dinding ruang tunggu yang dingin.

Humaira menggeser duduknya sedikit lebih rapat, merapatkan kain gendongan Ibrahim. "Repot dari mana? Dari dulu kita susah senang selalu bareng, Mas. Kalaupun harus minum obat lebih lama lagi, kita jalani sama-sama. Yang penting Abang mau jujur periksa ke sini."

"Makasih ya, Mai. Kalau bukan karena dorongan kamu waktu itu, mungkin aku milih diam aja di rumah nahan sakit sampai pingsan," kata Arham penuh rasa syukur, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya yang jernih.

"Suami sakit kok didiemin, nanti kalau kenapa-kenapa aku sama siapa di dunia ini?" ucap Humaira setengah bercanda, mencoba mencairkan ketegangan di antara mereka berdua.

Panggilan pengeras suara dari meja pendaftaran tiba-tiba menggema menyebut nama Arham, membuat napas keduanya tertahan sejenak sebelum Arham bangkit berdiri dengan langkah tegap.

❖ ❖ ❖

Di balik ketegangan pemeriksaan medis tersebut, Arham memegang sebuah tujuan bulat yang menjadi jangkar harapannya sejak keluar dari rumah beberapa hari lalu. Ia ingin hari ini menjadi akhir dari ketidakpastian yang selama berbulan-bulan menghantui benaknya. Tujuan utamanya bukan sekadar mendapatkan selembar surat keterangan sehat atau resep obat baru, melainkan memastikan bahwa paru-parunya benar-benar telah bersih dari infeksi kronis, sehingga ia bisa kembali mengangkat karung di pasar, mencari nafkah secara normal tanpa rasa khawatir akan ambruk di tengah jalan.

"Masuklah dulu, Pak Arham. Mari silakan duduk," sapa Dokter Rahmat, seorang pria paruh baya berambut beruban tipis yang tersenyum ramah dari balik meja praktiknya.

Arham duduk di kursi plastik berhadapan dengan sang dokter, sementara Humaira menyusul masuk dan duduk di kursi sebelah sambil memangku Ibrahim yang mulai mengantuk. "Bagaimana hasil rontgen dada dan cek dahak saya kemarin, Dok? Apakah ada perkembangan yang buruk?"

Dokter Rahmat membuka amplop cokelat besar di atas mejanya, mengeluarkan lembaran film rontgen transparan dan menempelkannya ke papan lampu peninjau dinding. Cahaya terang langsung menembus lembaran tersebut, memperlihatkan bentuk rongga dada Arham yang terpampang jelas.

"Mari kita lihat bersama, Pak Arham," kata Dokter Rahmat sambil menunjuk bagian paru-paru pada film tersebut menggunakan ujung bolpoinnya. "Bandingkan dengan hasil foto rontgen bulan lalu yang masih tampak kabur dan bercak putih di area lobus bawah kanan akibat peradangan hebat."

Arham menelan ludah kering, matanya terpaku pada telunjuk sang dokter. "Artinya... bercak itu masih ada, Dok?"

"Sebentar, jangan buru-buru tegang dulu," ujar Dokter Rahmat sambil tersenyum lebar. "Perhatikan di sini. Bercak putih yang dulu memenuhi saluran pernapasan bawah bapak sekarang sudah bersih total. Jaringan parunya melunak kembali dan kapasitas pernapasannya sudah kembali normal seperti sedia kala."

Mendengar kalimat itu, napas Arham mendadak tersendat di tenggorokan, sementara Humaira di sampingnya langsung menutup mulut dengan kedua tangannya karena tak percaya.

❖ ❖ ❖

Kabar dari Dokter Rahmat itu langsung mengubah atmosfer ruangan periksa yang tadinya penuh ketegangan menjadi ruang transisi emosi yang luar biasa lapang. Arham merasa seolah ada beban berton-ton yang tiba-tiba diangkat dari pundaknya. Transisi dari seorang pasien yang nyaris putus asa menjadi pria paruh baya dengan vonis kesembuhan total membuat aliran darah di tubuhnya berdesir kencang, menghangatkan sekujur raga yang selama ini terasa kaku akibat kecemasan kronis.

"Alhamdulillah ya Allah..." bisik Humaira lirih, matanya langsung berkaca-kaca menahan gelombang haru yang mendesak naik ke kelopak matanya.

Dokter Rahmat merapikan berkas-berkas di mejanya lalu menatap Arham dengan tatapan penuh nasihat kebapakan. "Anda benar-benar menjaga pola makan dan istirahat dengan sangat disiplin selama sebulan terakhir, Pak Arham. Obatnya diminum teratur, dan yang paling penting, dukungan keluarga di rumah sangat berperan besar dalam pemulihan klinis bapak."

"Saya hanya mengikuti semua anjuran dokter dan istri saya, Dok. Jujur saja, kalau bukan karena istri saya yang telaten merawat setiap hari, mungkin saya sudah menyerah," kata Arham jujur, melirik sekilas ke arah Humaira yang sedang menyeka air matanya dengan ujung kerudung.

Lihat selengkapnya