Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #89

Perjalanan Spiritual Bersama

Sore menjelang malam menyelimuti kawasan perumahan sederhana tempat tinggal mereka dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan mereka yang kini tampak semakin rapi, hangat, dan tertata berkat ketelatenan sang istri, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh mengurus operasional tokonya di pasar tradisional yang kini telah melewati berbagai ujian berat dan semakin berkembang pesat. Ia meletakkan tas kerja kulit sintetisnya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melonggarkan kancing atas kemeja koko putihnya yang sedikit kusut karena lelah beraktivitas. Di sudut ruangan, putra kecil mereka—Ibrahim—yang kini sudah berusia tiga tahun tengah asyik menyusun mainan balok kayunya, ditemani tawa renyah yang mengisi keheningan rumah. Suasana rumah terasa begitu damai, menyisakan ruang bagi kedamaian batin yang selalu dirindukan Arham setiap kali ia melangkah pulang setelah berjuang mencari rezeki halal di luar sana.

"Assalamu’alaikum, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bernada lelah namun hangat, melangkah perlahan menuju arah dapur kecil tempat istrinya sedang menyiapkan keperluan makan malam.

Humaira muncul dari balik tirai dapur, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut kepulangan sang suami. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kau tampak sangat lelah hari ini, Arham. Duduklah dulu di sofa, aku sudah menyiapkan segelas air hangat dan sedikit camilan sore untukmu."

Arham tersenyum tipis, menuruti ajakan istrinya lalu mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing akibat tekanan pekerjaan di pasar. "Alhamdulillah, hari ini toko memang sangat ramai pembeli, Humaira. Pengiriman barang dari distributor baru juga datang bersamaan, jadi tenagaku terkuras habis sejak pagi."

Humaira mendekat, membawa nampan kecil berisi segelas air putih hangat dan sepiring kecil kurma basah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan suaminya. "Minumlah dulu agar tenagamu pulih. Perjuanganmu selama ini tidak pernah sia-sia, Arham. Usaha kecil yang kita bangun dari nol perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang sangat stabil dan berkah."

"Semua itu berkat doa dan kesabaranmu juga yang selalu mendampingiku di saat-saat sulit," balas Arham tulus, meraih gelas air hangat dan meminumnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.

❖ ❖ ❖

"Ada sesuatu yang sangat penting dan sudah lama ingin kubicarakan kepadamu, Arham," kata Humaira memulai percakapan serius sambil duduk bersimpuh di samping suaminya usai meletakkan nampan kecil di atas meja.

Arham menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata penuh perhatian dan rasa penasaran. "Hal penting apa, Humaira? Apakah berkaitan dengan perluasan toko atau keuangan keluarga kita?"

"Bukan masalah urusan duniawi semata," tutur Humaira dengan nada suara yang penuh kelembutan dan binar mata yang memancarkan kerinduan mendalam. "Akhir-akhir ini, setiap kali aku melihat tayangan tentang Baitullah di televisi atau mendengar cerita kerabat yang pulang beribadah, hatiku selalu bergetar hebat. Aku merindukan Tanah Suci."

Arham mengangguk pelan, menyimak setiap kata yang diucapkan istrinya dengan senyumen lembut di bibirnya. Ia sangat memahami getaran kerinduan rohani tersebut karena ia pun merasakan hal yang sama di dalam dadanya.

"Tujuanku mengajakmu membicarakan ini adalah agar kita mulai merancang langkah nyata," lanjut Humaira dengan suara bergetar penuh harap. "Aku ingin kita mulai menyusun rencana khusus menabung secara disiplin untuk melaksanakan ibadah umrah bersama-sama bertiga dengan Ibrahim, sebagai bentuk perjalanan spiritual keluarga kecil kita."

Arham tertegun sejenak, merasakan gelombang keharuan yang luar biasa menyusup ke dalam relung dadanya. "Sebuah tujuan mulia yang sangat indah, Humaira. Berziarah ke Baitullah bersama orang-orang tersayang adalah impian setiap Muslim."

❖ ❖ ❖

Suasana ruang tengah mendadak terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai oleh keheningan sesaat yang dipenuhi oleh pancaran cinta dan kerinduan spiritual di antara kedua pasutri tersebut. Transisi dari perbincangan harian menuju niat suci perjalanan umrah membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.

Humaira meremas jemari suaminya pelan, merasakan ketenteraman batin yang luar biasa. "Meskipun tabungan kita saat ini masih pas-pasan untuk kebutuhan harian dan modal toko, aku yakin jika niat kita tulus karena Allah, jalan lapang itu akan dibukakan-Nya."

"Benar sekali," timpal Arham lembut, mengusap punggung tangan istrinya penuh kasih sayang. "Ibadah umrah bukan sekadar masalah seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa besar panggilan dan izin Allah yang diberikan kepada kita untuk bertamu ke rumah-Nya."

Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa merencanakan perjalanan spiritual bersama keluarga adalah bentuk ikhtiar batin yang akan mendatangkan keberkahan berlimpah dalam setiap tetes keringat pencarian rezeki. Udara sore yang kian mendingin di luar jendela seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang keluarga kecil mereka.

"Mari kita buat celengan khusus umrah mulai malam ini juga, Humaira," usul Arham mantap. "Setiap hari, berapapun sisa keuntungan toko yang bisa kita sisihkan, akan kita masukkan ke dalam celengan itu sebagai wujud niat awal kita."

"Ide yang sangat luar biasa, Arham," balas Humaira antusias, menyambut usul suaminya dengan senyuman lebar penuh harapan.

❖ ❖ ❖

Namun, niat mulia untuk merintis tabungan umrah bersama keluarga itu seketika diuji oleh sebuah rintangan finansial yang cukup berat di bulan-bulan berikutnya. Tepat saat celengan khusus umrah mereka mulai terisi sepersekian dari target awal, toko grosir Arham mendadak mengalami penurunan omzet yang drastis akibat persaingan harga pasaran yang tidak sehat dari pedagang baru di blok seberang.

Lihat selengkapnya