Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #93

Di Depan Multazam: Tempat mustajab

Deru jutaan manusia bergemuruh di dalam Masjidil Haram, menciptakan gelombang suara basmalah, takbir, dan isak tangis yang berpadu menjadi satu di bawah kubah putih suci yang megah. Pagi hari di kota Makkah Al-Mukarramah menyisakan udara sejuk sisa salat subuh, sementara bias cahaya fajar keemasan memantul indah di atas lantai marmer putih dingin yang dipijak oleh jutaan pasang kaki dari berbagai penjuru dunia. Di antara lautan jemaah yang berdesakan thawaf, Arham berdiri tegap namun dengan lutut yang terasa lemas bergetar, melindungi tubuh mungil Humaira di depannya dari dorongan arus manusia yang bergerak teratur mengelilingi Ka’bah. Mengenakan kain ihram putih sederhana yang mulai kusut, Arham menatap lurus ke depan, ke arah dinding Ka’bah yang berbalut kiswah hitam bersulam benang emas. Udara di sekitar mereka terasa begitu padat, dipenuhi aroma wewakharu gaharu bercampur keringat ikhlas para hamba yang datang bertamu kepada Rabb semesta alam.

"Pegangan erat tanganku, Humaira, jangan sampai terlepas di tengah kerumunan padat ini. Kita sudah semakin dekat ke area Multazam,"bisik Arham di telinga istrinya, suaranya sedikit tercekat oleh gelombang haru yang membuncah di dalam rongga dadanya.

Humaira mendongak, menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca sejak mereka melangkah masuk ke pelataran suci. Ia merapatkan genggaman tangannya pada jemari Arham, merasakan kehangatan yang mengalir di tengah dinginnya udara pagi Makkah. "Mas, aku tidak menyangka akhirnya kita bisa berdiri berdua di sini, di hadapan Baitullah, setelah sekian tahun kita hanya bisa melihatnya lewat layar televisi dan merajut doa-doa malam di kamar kontrakan sederhana kita," ucap Humaira parau, air matanya tumpah perlahan membasahi pipinya.

Arham tersenyum tipis, sorot matanya menyiratkan kelegaan batin yang luar biasa besar setelah melalui berbagai ujian berat kehidupan rumah tangga mereka di tanah air. "Allah Maha Mengabulkan doa, Humaira. Perjalanan panjang kita, kesabaranmu dalam mendidik anak-anak, ujian sakitku kemarin, hingga amanah-amanah hidup yang silih berganti, semuanya membawa kita pada detik yang paling indah ini."

Mereka terus melangkah perlahan mengikuti ritme arus manusia, merangsek mendekati dinding antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah—tempat yang diyakini sebagai Multazam, zona paling mustajab di muka bumi di mana setiap doa dan ratapan hamba tidak akan pernah ditolak oleh Allah SWT. Di tempat itu, Arham merasakan seluruh beban masa lalu, keraguan, dan kecemasan duniawi seolah luruh tak bersisa, menyisakan kefanaan diri di hadapan keagungan Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Tujuan batin Arham saat tiba di hadapan Multazam malam menjelang pagi itu sangatlah jernih dan mendalam: menumpahkan segala rasa syukur yang tak terhingga atas anugerah terbesar dalam hidupnya berupa seorang istri yang salihah, anak-anak yang menyejukkan mata, serta petunjuk hidayah yang senantiasa menjaga keluarganya di jalan yang lurus. Arham tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas di tempat mustajab tersebut untuk meminta urusan harta atau kemegahan dunia yang fana. Target utamanya adalah bersujud secara batin di hadapan Allah, memuji kebesaran-Nya, dan memohon agar ikatan cinta antara dirinya, Humaira, dan anak-anak mereka diabadikan hingga ke surga-Nya kelak.

"Di sinilah tempat kita menumpahkan segala rasa terima kasih kita kepada Allah, Humaira," ucap Arham dengan suara bergetar hebat saat tubuh mereka akhirnya berhasil mendekat dan menyentuh dinding Multazam yang hangat oleh sapuan tangan jutaan umat Islam. "Aku ingin memanjatkan puji syukur karena Allah telah menganugerahiku pendamping hidup sepertimu, yang tidak pernah lelah menguatkan saat aku jatuh dan selalu mengingatkanku pada akhirat."

Humaira menyandarkan keningnya perlahan ke dinding Ka’bah di sebelah suaminya, air matanya mengalir semakin deras membasahi kiswah hitam. "Dan aku bersyukur kepada Allah karena menakdirkan aku menjadi makmum dari seorang suami yang sabar, lembut, dan selalu membimbing keluarganya dengan penuh tanggung jawab, Mas. Tidak ada nikmat dunia yang lebih besar selain rida Allah yang kita rasakan dalam keluarga kecil kita."

"Mari kita doakan Ibrahim dan adik-adiknya di rumah, agar mereka tumbuh menjadi generasi penjaga Al-Qur'an yang mencintai agama-Nya," bisik Arham penuh kekhusyukan, memejamkan mata erat-erat dan merapatkan dadanya ke dinding suci Multazam.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana batin itu membawa Arham pada keheningan jiwa yang sangat kontras dengan hiruk-pikuk manusia di sekelilingnya. Di hadapan Multazam, kebisingan jutaan suara di Masjidil Haram seolah lenyap, menyisakan dialog batin yang sangat intim antara seorang hamba dan Rabbnya. Arham meresapi setiap detik kebersamaan dengan Humaira di tempat paling mulia di muka bumi tersebut. Ia membayangkan kembali lorong-lorong waktu di masa lalu—ketika mereka harus berhemat untuk membayar kontrakan, saat ia terbaring lemah menahan sakit, hingga momen-momen ketika Ibrahim kecil belajar membaca Al-Qur'an dengan terbata-bata di atas sajadah. Semua kepingan memori itu kini terangkai menjadi sebuah mozaik keindahan takdir yang disyukuri dengan segenap jiwa raganya.

"Mas, lihatlah orang-orang di sebelah sana, begitu khusyuk berdoa dengan air mata," bisik Humaira pelan, menengok sejenak ke arah samping kanan mereka di mana seorang lelaki tua paruh baya tampak tersungkur menangis di pelukan anaknya.

Arham mengikuti arah pandangan istrinya, lalu mengangguk penuh empati. "Setiap manusia yang datang ke tempat ini pasti membawa beban dan cerita hidupnya masing-masing, Humaira. Dan di Multazam inilah semua air mata kelelahan dunia dibasuh oleh rahmat Allah."

Lihat selengkapnya