Sore menjelang malam menyelimuti kawasan perumahan sederhana tempat tinggal mereka dengan sapuan warna jingga keemasan yang perlahan memudar menjadi kelabu lembut di ufuk barat. Di dalam ruang tengah rumah kontrakan mereka yang kini tampak semakin rapi, hangat, dan tertata berkat ketelatenan sang istri, udara sejuk sisa hujan sore tadi berpadu dengan wangi lembut minyak wangi gaharu yang menguar tipis dari sudut ruangan. Arham baru saja tiba di rumah setelah seharian penuh mengurus operasional tokonya di pasar tradisional yang kini telah melewati berbagai ujian berat dan semakin berkembang pesat. Ia meletakkan tas kerja kulit sintetisnya di atas meja kecil dekat pintu, lalu melonggarkan kancing atas kemeja koko putihnya yang sedikit kusut karena lelah beraktivitas. Di sudut ruangan, putra kecil mereka—Ibrahim—yang kini sudah berusia empat tahun tengah asyik menyusun mainan balok kayunya, ditemani tawa renyah yang mengisi keheningan rumah. Suasana rumah terasa begitu damai, menyisakan ruang bagi kedamaian batin yang selalu dirindukan Arham setiap kali ia melangkah pulang setelah berjuang mencari rezeki halal di luar sana.
"Assalamu’alaikum, Humaira," ucap Arham dengan suara berat yang bernada lelah namun hangat, melangkah perlahan menuju arah dapur kecil tempat istrinya sedang menyiapkan keperluan makan malam.
Humaira muncul dari balik tirai dapur, mengenakan gamis rumahan berwarna hijau lumut tua dengan jilbab instan abu-abu muda yang membingkai wajah teduhnya. Sebuah senyuman manis langsung merekah di bibirnya menyambut kepulangan sang suami. "Wa’alaikumussalam warahmatullah. Kau tampak sangat lelah hari ini, Arham. Duduklah dulu di sofa, aku sudah menyiapkan segelas air hangat dan sedikit camilan sore untukmu."
Arham tersenyum tipis, menuruti ajakan istrinya lalu mendudukkan diri di atas sofa empuk ruang tengah sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing akibat tekanan pekerjaan di pasar. "Alhamdulillah, hari ini toko memang sangat ramai pembeli, Humaira. Pengiriman barang dari distributor baru juga datang bersamaan, jadi tenagaku terkuras habis sejak pagi."
Humaira mendekat, membawa nampan kecil berisi segelas air putih hangat dan sepiring kecil kurma basah, lalu meletakkannya di atas meja kayu di hadapan suaminya. "Minumlah dulu agar tenagamu pulih. Perjuanganmu selama ini tidak pernah sia-sia, Arham. Usaha kecil yang kita bangun dari nol perlahan-lahan mulai menunjukkan hasil yang sangat stabil dan berkah."
"Semua itu berkat doa dan kesabaranmu juga yang selalu mendampingiku di saat-saat sulit," balas Arham tulus, meraih gelas air hangat dan meminumnya perlahan untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.
❖ ❖ ❖
"Ada sesuatu yang istimewa yang ingin kutunjukkan kepadamu malam ini, Arham," kata Humaira memulai percakapan dengan mata yang berbinar-binar penuh antusiasme sambil duduk bersimpuh di samping suaminya usai meletakkan nampan kecil di atas meja.
Arham menoleh, menatap istrinya dengan sorot mata penuh perhatian dan rasa penasaran yang teramat besar. "Sesuatu yang istimewa apa, Humaira? Apakah ada kiriman paket dari kampung atau oleh-oleh?"
"Bukan kiriman biasa," tutur Humaira dengan nada suara yang penuh kelembutan dan desir keharuan yang mendalam. "Kemarin, saat paman kita pulang dari perjalanan ibadah umrah di Tanah Suci, beliau mampir ke rumah dan menitipkan sebuah botol kaca khusus berisi air zamzam asli yang murni dari Makkah."
Arham mengangguk pelan, menyimak setiap kata yang diucapkan istrinya dengan senyuman lembut terkembang di bibirnya. Ia sangat memahami betapa mulianya air zamzam sebagai air yang penuh berkah dan mustajab untuk segala macam doa.
"Tujuanku mengajakmu membicarakan ini adalah agar kita tidak langsung meminumnya begitu saja untuk pelepas dahaga biasa," lanjut Humaira dengan suara bergetar penuh harap. "Aku ingin kita menyiapkan waktu khusus malam ini untuk meminum air zamzam tersebut bersama-sama dengan niat yang sungguh-sungguh—memohon kepada Allah agar ikatan cinta kasih di antara kita berdua senantiasa dijaga, diberkahi, dan kekal hingga ke surga-Nya."
Arham tertegun sejenak, merasakan gelombang keharuan yang luar biasa menyusup ke dalam relung dadanya mendengar ketulusan cinta istrinya. "Sebuah tujuan mulia yang sangat menyentuh kalbu, Humaira. Mari kita laksanakan niat indah itu malam ini."
❖ ❖ ❖
Suasana ruang tengah mendadak terasa begitu hangat dan syahdu, diwarnai oleh keheningan sesaat yang dipenuhi oleh pancaran cinta dan kerinduan spiritual di antara kedua pasutri tersebut. Transisi dari perbincangan harian menuju niat suci meminum air zamzam membawa gelombang kedekatan emosional yang semakin memperkokoh ikatan batin di antara Arham dan Humaira.
Humaira meremas jemari suaminya pelan, merasakan ketenteraman batin yang luar biasa. "Meskipun usia pernikahan kita telah berjalan beberapa tahun dan melalui berbagai ujian naik turun, aku ingin cinta kita tidak lekang oleh waktu duniawi yang fana ini."
"Benar sekali," timpal Arham lembut, mengusap punggung tangan istrinya penuh kasih sayang. "Cinta sejati seorang mukmin bukan hanya berlabuh di dunia, melainkan sebuah ikatan suci yang diharapkan terus bersambung hingga ke ke abadian surga Allah SWT."
Transisi batin ini menyadarkan mereka berdua bahwa merawat rumah tangga dengan doa-doa mustajab adalah bentuk ikhtiar batin yang akan mendatangkan ketenteraman hakiki dalam mengarungi sisa usia pernikahan. Udara malam yang mulai mendingin di luar jendela seolah melebur bersama kehangatan cinta kasih yang menyelimuti ruang keluarga kecil mereka.
"Mari kita ambil air zamzam itu sekarang, Humaira, usai kita menunaikan salat sunnah mutlak dua rakaat," usul Arham mantap dengan senyuman penuh ketulusan.
"Ide yang sangat indah dan sempurna, Arham," balas Humaira antusias, menyambut usul suaminya dengan anggukan penuh kebahagiaan.
❖ ❖ ❖
Namun, niat mulia untuk melaksanakan ritual doa bersama dengan air zamzam itu seketika diuji oleh sebuah rintangan kecil yang tak terduga menjelang pelaksanaan ibadah malam mereka. Tepat saat Arham selesai melipat sajadah usai salat sunnah, putra kecil mereka—Ibrahim—tiba-tiba terbangun dari tidurnya di kamar sebelah, menangis rewel karena mengalami mimpi buruk dan mencari keberadaan kedua orang tuanya.