Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #97

Pulang dengan Jiwa Baru

Kabut tipis pagi di Bandara Internasional Soekarno-Hatta menyambut kedatangan pesawat yang membawa Arham, Humaira, dan Ibrahim kembali ke bumi pertiwi setelah menuntaskan perjalanan spiritual umrah di Tanah Suci. Udara lembap khas tropis langsung menyergap kulit begitu pintu lambung pesawat terbuka, membaur dengan deru mesin kendaraan dan kesibukan para penumpang yang berebut turun. Di gendongan depan Arham, Ibrahim yang kini berusia enam tahun tampak mengucek matanya yang masih mengantuk, sementara tangan kecilnya menggenggam erat ujung jaket ayahnya. Humaira berjalan di sisi kiri Arham, menarik koper kecil beroda dua dengan tangan kanannya, sementara matanya menyapu sekeliling terminal kedatangan yang ramai.

"Alhamdulillah, kita sudah menginjakkan kaki di Indonesia lagi, Mas," bisik Humaira lirih, menarik napas dalam-dalam seolah ingin menghirup seluruh udara tanah air yang sudah berminggu-minggu ditinggalkannya.

Arham mengangguk pelan, merangkul bahu istrinya dengan sebelah tangan yang bebas. "Iya, Mai. Perjalanan yang benar-benar mengubah cara pandang kita terhadap hidup. Rasanya seperti lahir kembali dengan lembaran yang sepenuhnya baru."

"Ibrahim kangen sama kucing di dekat rumah nenek nggak, Nak?" tanya Humaira sambil menunduk menatap putranya yang masih menyandarkan kepala di dada Arham.

Ibrahim mendongak, matanya berbinar cerah. "Kangen, Ibu! Ibrahim juga kangen main sepeda di halaman rumah."

"Nanti kita istirahat dulu sehari di rumah, baru besok kita jalan-jalan sambangi rumah nenek ya," jawab Arham tersenyum hangat, mengusap rambut lebat anaknya.

Suasana terminal kedatangan tampak begitu padat oleh penjemput dan calon penumpang yang berlalu-lalang membawa koper besar. Di tengah hiruk-pikuk tersebut, Arham merasa ada ketenangan yang jauh berbeda dari kepulangan mereka dari tahun-tahun lalu. Dulu, setiap kali pulang ke tanah air atau berpindah tempat, dada Arham selalu dipenuhi rasa cemas, takut akan esok hari yang tidak pasti, dan beban ekonomi yang mencekik. Kini, rasa cemas itu telah lenyap, tergantikan oleh keyakinan mutlak bahwa Sang Pencipta senantiasa membersamai langkah-langkah kecil keluarga mereka.

"Mari kita cari taksi pangkalan di luar, Mai. Jangan sampai Ibrahim masuk angin karena AC bandara terlalu dingin," ajak Arham sambil melangkah mantap menuntun keluarganya keluar menuju pintu kedatangan.

Humaira mengikuti langkah suaminya dengan senyuman terkembang di bibirnya. Jiwa baru yang mereka bawa pulang bukan sekadar oleh-oleh fisik dari Mekkah, melainkan sebuah ketahanan iman yang telah terkonsolidasi dengan kokoh di dalam dada masing-masing.

❖ ❖ ❖

Di balik kepulangan yang tampak biasa itu, Arham menyimpan sebuah tujuan mutlak yang terpatri kuat di dalam benaknya. Tujuan utamanya bukan sekadar kembali menata rutinitas harian sebagai buruh atau pekerja lepas di pasar, melainkan membangun fondasi kehidupan keluarga yang sepenuhnya bersandar pada nilai-nilai keimanan yang baru saja mereka perbarui di Baitullah. Arham bertekad untuk meninggalkan segala bentuk kekhawatiran berlebihan terhadap rezeki materi, serta mendedikasikan waktu malam hari untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah bersama Humaira dan Ibrahim melalui majelis-majelis taklim di lingkungan tempat tinggal mereka.

"Mas, nanti sesampainya di kontrakan, kita langsung bersih-bersih rumah ya. Pasti debunya tebal karena ditinggal lama," kata Humaira saat mereka duduk di kursi belakang taksi dalam perjalanan menuju rumah petak mereka.

"Pasti, Mai. Nanti aku yang beresin bagian luar dan angkat koper, kamu cukup rapikan pakaian Ibrahim saja," jawab Arham mantap, menatap lurus ke luar jendela mobil yang menampilkan deretan gedung kota yang mulai basah oleh gerimis tipis.

"Aku juga mau ikut bantu Ayah bersihin halaman!" sahut Ibrahim antusias dari tengah pangkuan Humaira.

"Boleh dong, jagoan Ayah kan sekarang sudah besar, sudah sekolah TK juga sebentar lagi," puji Arham sambil mencubit gemas pipi anaknya.

Humaira memperhatikan interaksi antara suami dan anaknya dengan hati yang berdesir hangat. Ia melihat perubahan yang begitu nyata pada diri Arham; tidak ada lagi guratan kerutan di dahi suaminya yang mencerminkan keputusasaan. Arham yang sekarang adalah sosok kepala keluarga yang tenang, penuh senyum, dan memiliki pancaran wibawa seorang mukmin yang tawakal. Tujuan hidup mereka kini telah bergeser dari sekadar bertahan hidup menjadi ikhtiar mencari ridha Allah dalam setiap helaan napas.

"Insya Allah, kehidupan kita ke depan akan jauh lebih barokah, Mas," ucap Humaira lembut, menyentuh punggung tangan suaminya.

"Aamiin ya Rabbal alamin. Dengan izin Allah, kita jalani babak baru ini dengan semangat hijrah yang sesungguhnya," balas Arham penuh keyakinan.

❖ ❖ ❖

Perjalanan pulang menaiki taksi itu membawa Arham dan Humaira pada sebuah fase transisi batin yang sangat menenangkan. Suara deru mesin mobil yang membelah kemacetan jalanan ibu kota seolah terdengar begitu lambat, memberi ruang bagi jiwa mereka untuk merenungkan setiap detik perjalanan rohani yang baru saja diselesaikan. Transisi dari hiruk-pikuk kesucian tanah haram kembali ke realitas kehidupan dunia perkotaan menuntut keteguhan hati yang luar biasa agar semangat keimanan tersebut tidak luntur tergerus oleh rutinitas duniawi.

"Bagaimana perasaanmu setelah kita kembali ke sini, Mai? Tidak merasa berat kan harus kembali menghadapi rutinitas biasa?" tanya Arham memecah keheningan di dalam kabin taksi.

Humaira menggeleng pelan, tersenyum menatap suaminya. "Sama sekali tidak berat, Mas. Justru di sinilah ujian sebenarnya dimulai—apakah ibadah dan doa kita di Mekkah kemarin benar-benar membekas dalam akhlak kita sehari-hari."

Lihat selengkapnya