Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #98

Syukuran Kepulangan: Mengadakan pengajian

Gemuruh suara kendaraan dari jalan raya utama kota Bandar Lampung terdengar samar-samar menembus dinding rumah semi-permanen yang baru saja selesai direnovasi ringan setelah musibah kebakaran kecil beberapa bulan lalu. Sore hari menjelang magrib itu, teras rumah Arham dan Humaira tampak bersih tersapu, dihiasi oleh beberapa tikar pandan anyaman baru yang dibentangkan rapi di atas lantai semen plesteran. Aroma harum masakan gulai kambing dan sambal ati khas Lampung berpadu dengan wewangian kayu gaharu yang dibakar di sudut ruangan, menciptakan suasana hangat yang menyambut para tetangga berdatangan satu persatu. Arham berdiri di dekat pintu mengenakan baju koko putih bersih berbalut peci hitam beludru, menyalami setiap tetangga yang datang dengan senyuman tulus dan pelukan hangat persaudaraan.

"Selamat datang kembali di kampung halaman, Pak Arham dan Bu Humaira! Alhamdulillah, ibadah hajinya mabrur dan selamat sampai tujuan," sapa Pak RT setempat, Pak Haji Mahmud, sambil menjabat erat tangan Arham dengan wajah sumringah.

Arham mengangguk penuh rasa syukur, matanya berbinar menatap keakraban para tetangga yang hadir. "Terima kasih banyak, Pak Haji Mahmud. Doa dari seluruh warga di sini sangat menguatkan perjalanan kami selama di tanah suci kemarin. Silakan langsung naik ke tikar, mari bergabung."

Di dalam rumah, Humaira tampak sibuk menata piring-piring saji berisi makanan dan kue tradisional di atas meja rendah bersama dua orang ibu tetangga yang dengan sukarela membantunya sejak siang hari. Mengenakan gamis abu-abu lembut berbalut jilbab serasi, wajah Humaira memancarkan rona kebahagiaan yang sulit disembunyikan. "Alhamdulillah, kuenya sudah tertata rapi, Bu Siti. Terima kasih banyak ya sudah repot-repot datang membantu saya sejak siang tadi menyiapkan pengajian syukuran ini," ucap Humaira tulus sambil menyerahkan nampan berisi gelas air mineral.

Bu Siti tersenyum lebar, mengibaskan tangan sekenanya tanda tidak keberatan. "Ah, repot apa, Bu Humaira! Kami justru ikut bersyukur dan ketularan berkah karena tetangga kita baru saja pulang dari Baitullah. Rasanya senang sekali melihat rumah ini kembali ramai dan hangat setelah ujian kemarin."

Suasana pengajian kecil itu terasa begitu intim dan penuh kekeluargaan, jauh dari kesan formal atau kaku, mencerminkan betapa eratnya ikatan sosial yang telah lama dipupuk Arham dan Humaira di lingkungan tempat tinggal mereka.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira mengadakan pengajian syukuran kecil-kecilan malam itu sangatlah sederhana namun sarat makna: mengungkapkan rasa syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT atas keselamatan dan kelancaran perjalanan ibadah haji mereka, sekaligus mempererat silaturahmi dengan para tetangga terdekat yang telah menjaga rumah dan membantu mereka di kala musibah melanda. Arham ingin momentum kepulangan dari Makkah tidak dirayakan dengan kemewahan yang ria, melainkan melalui majelis zikir, doa bersama, dan jamuan sederhana yang membawa berkah bagi sesama warga kampung.

"Kita tidak perlu mengundang orang banyak atau membuat tenda besar di jalan raya, Humaira," ucap Arham kepada istrinya saat mereka berdiskusi pagi tadi. "Cukup tetangga di sebelah-menyebelah yang selama ini menjadi keluarga terdekat kita saat susah maupun senang."

Humaira mengangguk menyetujui sepenuhnya gagasan sang suami. "Aku sangat setuju, Mas. Justru dengan pengajian intim seperti ini, doa yang dipanjatkan akan lebih khusyuk dan ikatan kekeluargaan kita dengan para tetangga semakin mengakar kuat."

Target batin mereka adalah menebar rasa syukur secara nyata, berbagi rezeki, dan memohon doa agar keberkahan tanah suci terbawa serta dalam kehidupan sehari-hari keluarga kecil mereka di tengah masyarakat.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana batin itu terasa begitu syahdu ketika azan Isya berkumandang dari musala terdekat, menghentikan sejenak kesibukan di dapur dan memanggil seluruh tamu undangan untuk segera merapatkan barisan di atas tikar. Arham berdiri di tengah-tengah para tetangga, memimpin salat Isya berjemaah dengan suara tartil yang tenang dan merdu, menggetarkan hati setiap makmum yang mendengarkannya. Selepas salat, majelis zikir dan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dimulai, dipimpin langsung oleh ustaz setempat yang juga merupakan sahabat karib Arham sejak masa remaja. Suara lantunan ayat suci berpadu dengan hembusan angin malam yang sejuk, meresap ke dalam sanubari setiap hadirin dan menciptakan ketenangan jiwa yang luar biasa.

Lihat selengkapnya