Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #101

Anak-Anak yang Tumbuh Saleh

Matahari pagi di Kota Bandar Lampung menyemburkan bias cahaya kuning keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pohon mangga di halaman depan rumah mungil Arham dan Humaira. Suasana di dalam ruang keluarga berukuran sedang itu terasa sangat sejuk, tenang, dan dipenuhi suara merdu lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an dari lisan seorang anak lelaki berusia sepuluh tahun. Di atas karpet bulu abu-abu, Ibrahim tampak duduk bersila mengenakan koko putih dan peci rajut hitam, memegang mushaf Al-Qur'an dengan teliti, sementara adiknya, Maryam, yang kini menginjak usia enam tahun duduk di sampingnya menyimak hafalan juz amma dengan khusyuk.

"Shadaqallahul 'azim... Wah, bacaan surah Al-Waqiah Abang sudah semakin lancar dan tajwidnya bagus sekali pagi ini," puji Humaira tersenyum manis dari balik meja dapur, menghidangkan sepoci teh hangat dan pisang goreng ke atas meja.

Ibrahim menutup mushafnya perlahan dengan takzim, lalu menengadah menatap ibunya dengan binar mata jernih. "Alhamdulillah, berkat bimbingan Mama semalam, Ibrahim sudah lancar menyetorkan hafalan sepuluh ayat terakhir, tinggal diulang sekali lagi nanti sore."

Arham yang baru saja selesai merapikan meja kerja di studio arsitekturnya melangkah masuk ke ruang keluarga, mengenakan kemeja katun abu-abu terang sambil tersenyum bangga melihat kedua buah hatinya. "Masya Allah, anak-anak Papa hebat sekali. Pagi-pagi sudah berlomba menghafal kalam Allah. Ayo, Maryam coba giliran adik setorkan hafalan surah pendeknya ke Papa."

Maryam yang berambut sebahu tersenyum malu-malu, merapikan jilbab kecilnya lalu mulai melantunkan surah Al-Mulk dengan suara lembut yang fasih dan penuh penghayatan. Arham dan Humaira mendengarkan setiap huruf yang keluar dari lisan putri kecil mereka dengan mata berkaca-kaca penuh rasa syukur yang tak terhingga kepada Sang Pencipta.

Perjalanan panjang pernikahan Arham dan Humaira yang telah melewati berbagai badai kehidupan—mulai dari krisis finansial, sengketa agunan, dinamika pengasuhan bayi yang melelahkan, hingga perjalanan rohani yang agung—kini berbuah manis pada fase kehidupan rumah tangga yang penuh berkah. Buah hati yang dulu mereka didik dengan penuh kesabaran dan kelembutan kini tumbuh menjadi anak-anak yang saleh, berbakti, dan menghafal Al-Qur'an dengan istiqamah.

"Alhamdulillah... Sungguh nikmat Allah yang mana lagi yang hendak kita dustakan, Mai," bisik Arham penuh haru, merangkul pundak istrinya pelan di sela-sela keheningan pagi yang menenteramkan jiwa.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira dalam mendidik Ibrahim dan Maryam kini telah bertransformasi dari sekadar merawat fisik anak menjadi menanamkan kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur'an serta membentuk karakter anak-anak yang berakhlak mulia, mandiri, dan berbakti penuh kepada kedua orang tua. Arham menyadari bahwa kesuksesan duniawi berupa studio arsitektur yang berkembang pesat dan hibah internasional tidak ada artinya jika anak-anak mereka gagal dalam didikan agama dan moral.

"Kita harus terus menjaga lingkungan rumah ini agar senantiasa diwarnai zikir dan bacaan Al-Qur'an, Mai. Agar hafalan Ibrahim dan Maryam semakin kuat dan melekat di dalam sanubari mereka hingga dewasa nanti," ucap Arham serius namun penuh kehangatan saat mereka duduk berdua di meja makan setelah sarapan pagi.

Humaira mengangguk mantap, menata sisa piring kotor dengan gerakan telaten. "Aku selalu berusaha menjaga suasana hati tetap positif di rumah, Mas. Karena anak-anak adalah cerminan langsung dari energi emosional orang tuanya. Alhamdulillah, melihat Ibrahim yang kini rajin salat berjemaah di masjid dan Maryam yang selalu siap membantu urusan dapur, rasanya semua lelah kita dulu terbayar lunas."

Bagi Arham dan Humaira, tujuan akhir dari pendidikan keluarga adalah melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keteguhan iman yang kokoh untuk menghadapi berbagai fitnah zaman di masa depan. Mereka sepakat untuk selalu membersamai setiap proses belajar anak-anak tanpa ada paksaan yang berlebihan, melainkan menanamkan kesadaran beragama melalui keteladanan nyata sehari-hari.

"Ibrahim, Maryam, nanti sore selepas Ashar jangan lupa jadwal tahsin bersama Ustadz di musala kompleks ya," pesan Arham ramah kepada kedua anaknya yang sedang merapikan tas sekolah di ruang tengah.

"Baik, Papa! Nanti Ibrahim yang ingatkan adik Maryam supaya tidak terlambat," jawab Ibrahim sigap dengan senyuman khas anak saleh yang ceria.

❖ ❖ ❖

Menjelang siang hari, setelah Ibrahim berangkat ke sekolah dasar Islam terpadu dan Maryam sibuk merangkai balok huruf hijaiyah di atas karpet, Arham dan Humaira memanfaatkan waktu senggang singkat untuk meresapi ritme kehidupan harian yang kini berjalan begitu damai dan teratur. Suasana luar rumah disinari terik matahari siang yang hangat, sementara di dalam rumah kesejukan AC dan wangi gaharu menciptakan atmosfer yang sangat nyaman.

Humaira melangkah pelan membawa dua cangkir teh chamomile hangat ke ruang kerja suaminya, meletakkan cangkir tersebut di sudut meja kayu jati dengan penuh kehati-hatian.

"Terima kasih ya, Mai. Senang rasanya melihat rumah kita sekarang terasa begitu tenang, jauh berbeda dibanding sepuluh tahun lalu saat Ibrahim dan Maryam masih bayi-bayi yang rewel," ucap Arham tersenyum, menghentikan sejenak aktivitas menggambar desain di layar komputernya.

Humaira menarik kursi kecil lalu duduk di hadapan suaminya, menatap wajah Arham yang kini mulai dihiasi garis-garis kedewasaan yang matang. "Itu karena kita belajar untuk ikhlas menghadapi setiap fase kehidupan, Mas. Allah yang membolak-balikkan hati, dan Dia pula yang memberikan ketenangan setelah kesulitan."

Transisi dari masa-masa penuh ketegangan dan ujian berat di masa lalu menuju kestabilan keluarga yang harmonis ini mencerminkan tingkat kematangan spiritual yang luar biasa pada diri pasangan tersebut. Tidak ada lagi kepanikan menghadapi masalah pekerjaan atau kecemasan finansial; yang ada hanyalah rasa syukur yang melimpah dan kepasrahan total kepada Allah.

"Aku bersyukur, Mai, Allah menghadirkanmu sebagai pendamping hidup yang tidak pernah lelah menguatkan imanku di saat-saat paling rapuh," tutur Arham tulus, meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.

Ketika azan zuhur berkumandang dari musala terdekat, percakapan hangat itu dihentikan dengan penuh ketenangan. Arham dan Humaira beranjak mengambil air wudu untuk menunaikan salat zuhur berjemaah bersama Maryam di ruang tengah.

❖ ❖ ❖

Lihat selengkapnya