Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #103

Renungan Senja: Duduk berdua di beranda

Matahari sore perlahan-lahan tergelincir turun di ufuk barat kota Bandar Lampung, memantulkan bias cahaya jingga kemerahan yang menyapu lembut pucuk-pucuk daun mangga di halaman rumah Arham dan Humaira. Waktu telah memasuki masa paruh baya; garis-garis halus kerutan di sudut mata Arham dan helai-helai uban yang mulai menyembul di balik peci putihnya menjadi saksi bisu atas perjalanan panjang liku-liku kehidupan yang telah mereka lalui bersama. Di beranda rumah yang terbuat dari kayu jati pilihan, sepasang kursi goyang berderit pelan seirama dengan hembusan angin senja yang menyejukkan. Humaira duduk di samping suaminya, mengenakan gamis berwarna ungu muda berpadu jilbab abu-abu lembut, sementara tangannya dengan telaten menuangkan teh hijau hangat ke dalam dua cangkir tanah liat buatan lokal. Suasana sore itu begitu syahdu, diwarnai suara serangga malam yang mulai bersahut-sahutan dan deru kendaraan dari kejauhan yang terdengar samar bagaikan melodi kehidupan yang kian menenangkan.

"Sudah hampir seperempat abad kita duduk berdua di teras ini, Humaira, sejak rumah ini masih berupa dinding papan sederhana hingga kini menjadi tempat berteduh yang penuh berkah," ucap Arham pelan, memecah keheningan sore sambil menyeruput teh hangat dari cangkirnya.

Humaira tersenyum manis, sorot matanya memancarkan kedamaian batin yang luar biasa mendalam. "Waktu terasa begitu cepat berlalu, Mas. Rasanya baru kemarin kita merintis segalanya dari nol, menghadapi badai kesulitan finansial, mendidik Ibrahim hingga ia kini sudah kuliah di luar kota, dan sekarang kita menikmati senja usia berdua dalam ketenangan."

Arham menoleh, menatap wajah istrinya dengan pancaran cinta yang tidak pernah luntur oleh gerusan waktu. "Dan di setiap detik perjalanan itu, kamulah jangkar terkuatku, Humaira. Tanpa kesabaran dan kelembutanmu, mungkin aku sudah tumbang diterpa berbagai ujian hidup."

"Kita saling menguatkan, Mas," balas Humaira lembut, meraih tangan suaminya dan menggenggamnya erat. "Rumah tangga bukan tentang tidak adanya badai, melainkan bagaimana kita tetap berpegangan tangan erat di atas perahu yang sama saat ombak besar menghantam."

Arham mengangguk setuju, meresapi setiap detik kebersamaan di masa paruh baya ini sebagai anugerah terindah yang tidak bisa dibeli dengan harta apa pun di dunia.

❖ ❖ ❖

Tujuan batin Arham dan Humaira saat duduk berdua di beranda sore itu sangatlah jernih dan mendalam: merenungkan sisa usia paruh baya mereka dengan penuh rasa syukur, mengevaluasi jejak langkah masa lalu, dan menata niat agar sisa umur yang Allah titipkan di dunia ini dihabiskan sepenuhnya dalam ketaatan, kedamaian, dan kebaikan bagi sesama manusia. Di fase usia yang tidak lagi muda ini, Arham menargetkan agar hatinya semakin bersih dari segala ambisi duniawi yang melalaikan, sementara Humaira ingin memastikan bahwa sisa waktu mereka berdua diisi dengan memperbanyak amal saleh dan mempererat tali silaturahmi. Target utama mereka adalah mencapai husnul khatimah dan mewariskan keteladanan akhlak yang kokoh bagi anak cucu kelak.

"Di usia paruh baya ini, aku merasa orientasi hidup kita sudah jauh berbeda dibanding sepuluh atau dua puluh tahun lalu ya, Humaira," kata Arham dengan nada suara yang tenang dan penuh perenungan.

Humaira mengangguk mantap, menatap lurus ke arah matahari senja yang hampir tenggelam. "Benar sekali, Mas. Dulu kita sangat sibuk mengejar target karier, memikirkan cicilan, dan mencemaskan masa depan materi. Sekarang, yang ada di dalam benakku hanyalah bagaimana memperbanyakbekal akhirat dan menikmati sisa umur dengan hati yang lapang."

"Kita harus memastikan bahwa sisa usia kita benar-benar bermanfaat, tidak sekadar menunggu tua di rumah," lanjut Arham dengan binar mata penuh semangat. "Aku ingin kita lebih aktif membina majelis taklim remaja masjid di kampung kita, membagikan ilmu dan pengalaman hidup yang kita miliki."

"Ide yang sangat mulia, Mas. Aku siap mendampingi dan mengambil peran di bagian pembinaan ibu-ibu dan anak-anak," sambut Humaira antusias.

❖ ❖ ❖

Transisi suasana batin itu membawa Arham pada perenungan yang sunyi ketika azan magrib berkumandang pelan dari musala terdekat, memecah keheningan senja yang mulai berganti malam. Suara panggilan salat tersebut terdengar begitu syahdu, mengingatkan mereka bahwa setiap detik yang berlalu adalah bagian dari pengurangan jatah usia di dunia. Arham berdiri perlahan dari kursi goyangnya, meregangkan otot-otot tubuhnya yang mulai terasa kaku, lalu menatap istrinya dengan senyuman penuh kasih. Di ufuk barat, sisa-sisa cahaya jingga perlahan lenyap digantikan oleh kegelapan malam yang bertabur bintang gemilang di langit Bandar Lampung.

"Mari kita bersiap mengambil wudu, Humaira. Waktu magrib telah tiba, saatnya kita menyambut panggilan Allah dengan raga yang suci," ajak Arham lembut sambil merapikan letak cangkir teh di atas meja.

Lihat selengkapnya