Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #106

Wasiat Cinta: Percakapan mendalam

Matahari senja di awal musim kemarau merayap turun perlahan di ufuk barat Kota Bandar Lampung, menyemburkan bias cahaya jingga kemerahan yang menembus celah-celah jendela kaca ruang keluarga rumah mungil Arham dan Humaira. Suasana di dalam rumah berukuran sedang itu terasa begitu hening, hangat, dan dipenuhi aroma teh chamomile berpadu wangi gaharu yang menenangkan. Di atas sofa abu-abu ruang tengah, Arham duduk bersandar mengenakan kemeja koko putih dan peci rajut hitam, sementara Humaira duduk bersimpuh di sampingnya mengenakan gamis rumahan berwarna hijau sage, memegang lembar catatan keluarga sambil menatap suaminya dengan sorot mata penuh kelembutan yang menyiratkan kedalaman cinta puluhan tahun.

"Udara sore ini terasa begitu sejuk ya, Mas. Rasanya tenang sekali bisa duduk berdua di sini setelah anak-anak selesai belajar mengaji di kamar," suara lembut Humaira memecah keheningan ruang keluarga, sarat akan ketulusan yang mendalam.

Arham menoleh perlahan, menyunggingkan senyuman simpul di bibirnya yang kini telah dihiasi garis-garis kedewasaan. Suaranya terdengar parau namun hangat saat ia membalas, "Iya, Mai... Pemandangan senja hari ini mengingatkan kita pada perjalanan panjang yang sudah kita lalui bersama dari nol hingga hari ini."

"Alhamdulillah... Aku tidak pernah menyangka Allah memberi umur dan kesempatan bagi kita untuk melihat Ibrahim dan Maryam tumbuh menjadi anak-anak saleh yang menjaga Al-Qur'an," ucap Humaira pelan, merapikan lipatan selendang di bahunya.

Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah mengarungi berbagai gelombang ujian hidup—mulai dari krisis finansial, sengketa agunan, dinamika pengasuhan anak dengan temperamen berbeda, musibah kesehatan, hingga perjalanan spiritual di Baitullah—kini memasuki fase kematangan usia yang sarat akan permenungan batin. Di usia pernikahan yang semakin matang ini, keduanya menyadari bahwa kehidupan dunia memiliki batas waktu, dan setiap pertemuan pasti akan berujung pada perpisahan sementara di hadapan Sang Pencipta.

"Benar, Mai... Karena itulah, mumpung Allah masih memberikan kita kesehatan dan kesempatan bernapas di dunia ini, ada satu hal penting yang selalu bergemuruh di dalam dadaku dan ingin kukatakan padamu," bisik Arham dengan tatapan mata yang tiba-tiba berubah serius namun teduh menatap istrinya.

❖ ❖ ❖

Tujuan utama Arham dan Humaira dalam melancarkan percakapan mendalam di senja itu bukanlah sekadar bernostalgia mengenang masa lalu, melainkan mewariskan pesan-pesan iman yang kokoh, menyusun wasiat cinta sejati mengenai pendidikan anak-anak, serta saling menguatkan hati jika salah satu dari mereka lebih dulu dipanggil oleh Sang Kuasa. Arham menyadari bahwa sebagai manusia yang pernah jatuh sakit parah dan melewati berbagai badai, ia harus memastikan masa depan keimanan Ibrahim dan Maryam tetap terjaga di atas tauhid yang lurus apapun takdir yang mendahului.

"Aku ingin kita berbicara dari hati ke hati, Mai... tentang masa depan anak-anak jika suatu saat nanti takdir memisahkan kita lebih cepat," ucap Arham perlahan, menggenggam erat jemari istrinya yang mulai terasa dingin.

Humaira menelan ludah dengan susah payah, merasakan debar aneh menyergap dadanya mendengar nada bicara suaminya yang tidak biasa. Ia meremas jemari Arham balik. "Kenapa tiba-tiba bicara soal perpisahan, Mas? Insya Allah umur kita masih panjang untuk membersamai anak-anak sampai mereka dewasa dan menikah."

Bagi Arham dan Humaira, tujuan akhir dari pembicaraan wasiat cinta ini adalah menghilangkan rasa takut terhadap kematian dan menggantinya dengan kepasrahan penuh kepada takdir Allah. Mereka sepakat bahwa cinta sejati seorang mukmin bukan terletak pada tangisan saat perpisahan dunia, melainkan pada keteguhan melanjutkan estafet pendidikan iman kepada anak-anak agar tetap istiqamah di jalan Allah.

"Bukannya aku pesimis, Mai... Tapi kematian itu rahasia Allah yang datang tanpa aba-aba. Kalau seandainya aku yang lebih dulu dipanggil-Nya, aku titipkan Ibrahim dan Maryam sepenuhnya kepadamu untuk terus dididik di atas Al-Qur'an," pesan Arham dengan suara bergetar menahan haru.

Di ambang pintu kamar, Ibrahim yang baru keluar hendak mengambil air minum berhenti sejenak mendengar percakapan kedua orang tuanya, menatap ayah dan ibunya dengan mata berkaca-kaca penuh kepekaan batin.

❖ ❖ ❖

Melihat putranya berdiri terpaku di ambang pintu, Arham dan Humaira menghentikan sejenak percakapan berat mereka, lalu memberikan senyuman menenangkan kepada Ibrahim agar sang anak tidak merasa cemas. Humaira melambaikan tangan menyuruh Ibrahim mendekat, merangkul pundak anak sulungnya dengan penuh kehangatan kasih sayang.

"Ada apa, Abang? Haus ya? Mau Mama ambilkan air minum?" tanya Humaira lembut, menyembunyikan getar suara di tenggorokannya.

Ibrahim menggeleng pelan, lalu berlutut di hadapan kedua orang tuanya, mencium punggung tangan ayah dan ibunya bergantian dengan takzim. "Tidak, Ma... Ibrahim tadi mendengar sedikit percakapan Papa dan Mama soal wasiat... Jangan bicara soal perpisahan, Papa harus sehat terus temani kami."

Arham tersenyum haru, mengelus rambut tebal putranya dengan penuh kasih sayang yang tulus. "Duduklah di sini bersama kami, Abang... Percakapan ini bukan tentang kesedihan, melainkan tentang bagaimana kita mempersiapkan diri menjadi keluarga yang dipertemukan kembali kelak di surga-Nya."

Transisi dari percakapan intim suami istri menuju pelukan hangat bersama anak sulung mereka mencerminkan kedewasaan emosional seluruh anggota keluarga dalam menghadapi hakikat kehidupan dan kematian. Tidak ada lagi rasa takut yang kekanak-kanakan; yang ada hanyalah jalinan ikatan batin yang semakin erat dan mengakar kuat di dalam akidah Islam.

"Ingatlah pesan Papa, Abang... Apapun yang terjadi di masa depan, jadilah pelindung bagi adik Maryam, jaga salat lima waktumu, dan jadikan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup utamamu," pesan Arham dengan nada suara yang sangat berwibawa dan menyejukkan.

Ketika azan magrib berkumandang dari musala kompleks perumahan, suasana batin di dalam rumah berubah menjadi sangat khusyuk. Arham mengajak istri dan anaknya berdiri bersama, bersiap menunaikan salat magrib berjemaah untuk menyucikan jiwa di hadapan Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Namun, di tengah jalannya percakapan wasiat cinta dan ibadah malam yang penuh kekhusyukan tersebut, sebuah rintangan psikologis yang mendalam tiba-tiba mencengkeram batin Humaira. Seusai salat isya berjemaah, ketika anak-anak sudah masuk ke kamar tidur masing-masing, Humaira tidak kuasa lagi menahan bendungan air mata yang sejak tadi ia tahan di hadapan suaminya.

Lihat selengkapnya