Mahligai Suci Karena Ilahi

Amrullah Ibrahim
Chapter #107

Pernikahan Ibrahim: Putra sulung mereka

Pagi hari di halaman gedung serbaguna berarsitektur kayu jati di pinggiran kota menyambut langkah kaki Arham dan Humaira dengan semburat cahaya keemasan yang menembus rimbunnya pohon-pohon mangga. Udara sejuk bulan Juni berpadu dengan aroma wangi melati segar yang dirangkai melingkar di tiang-tiang pelaminan sederhana bernuansa putih dan hijau daun. Arham mengenakan jas koko berwarna abu-abu tua dengan peci beludru hitam di kepalanya, sementara Humaira tampak anggun dalam balutan gamis panjang berwarna senada, mengenakan kerudung lebar yang menutup dada dengan rapi. Di dekat pintu masuk, beberapa kerabat dekat dan tetangga lama mulai berdatangan membawa senyuman hangat, menyapa pasangan suami istri yang kini telah menginjak usia senja namun tetap memancarkan ketenangan batin yang luar biasa.

"Alhamdulillah, tidak terasa ya, Mai. Kemarin kita masih menimang Ibrahim waktu kecil di kontrakan sempit, sekarang anak itu sudah berdiri di depan penghulu," bisik Arham lembut sambil merapikan letak lipatan jasnya di depan cermin kecil sudut ruang rias pengantin.

Humaira tersenyum, matanya berkaca-kaca menahan gelombang haru yang mendesak naik ke kelopak matanya. Jemarinya yang dihiasi uban tipis di sela-sela kerudung merapikan kerah baju suaminya. "Iya, Mas. Waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita berjuang mencari sesuap nasi di pasar, sekarang Ibrahim sudah dewasa dan siap membangun rumah tangganya sendiri."

"Semua berkat kesabaranmu mendidik dia selama ini, Mai. Abang bangga sama kamu," puji Arham tulus, menyentuh punggung tangan istrinya yang terasa hangat.

"Bukan karena aku sendiri, Mas. Ini buah dari doa-doa panjang yang kita panjatkan bersama di setiap sepertiga malam sejak kita susah dulu," balas Humaira dengan suara parau menahan haru.

Dari arah ruang utama, suara dehem pelan dari petugas Kantor Urusan Agama (KUA) terdengar memanggil nama pengantin pria, menandakan prosesi akad nikah akan segera dimulai dalam hitungan menit. Jantung Arham berdegup kencang, bukan karena cemas, melainkan karena rasa syukur yang meluap-luap melihat putra tunggal mereka—Ibrahim, yang kini berusia dua puluh empat tahun dengan mengenakan jubah putih bersih—duduk tenang berhadapan langsung dengan sang penghulu dan ayah dari mempelai wanita. Suasana di dalam ruangan mendadak menjadi sangat senyap dan penuh khidmat, menyisakan deru napas pelan dari para saksi dan keluarga inti yang duduk melingkar di atas permadani putih.

❖ ❖ ❖

Di balik keheningan dan kekhidmatan prosesi akad nikah tersebut, Arham memegang sebuah tujuan mutlak yang terpatri kuat di dalam relung hatinya sejak malam pertama ia merencanakan pernikahan ini. Tujuan utamanya bukan sekadar menggelar pesta yang megah atau mengundang banyak tamu penting, melainkan memastikan bahwa pernikahan putra sulung mereka dilangsungkan secara syar'i, sederhana, dan penuh keberkahan, persis seperti kesederhanaan ijab kabul yang ia jalani bersama Humaira puluhan tahun silam. Arham ingin Ibrahim memahami bahwa mahligai rumah tangga yang kokoh tidak dibangun di atas kemewahan materi, melainkan di atas fondasi takwa, kejujuran, dan kesetiaan dalam menghadapi badai kehidupan bersama pasangan.

"Mas, sebentar lagi ijab kabulnya dimulai. Ibrahim terlihat tenang sekali ya dari sini," bisik Humaira sambil memegang lengan suaminya dengan erat, matanya menatap lurus ke arah meja akad di depan sana.

"Dia anak yang kuat, Mai. Kita sudah mendidiknya untuk tidak silau pada kemewahan dunia, tapi kaya akan rasa syukur," jawab Arham mantap, mengangguk pelan memberikan dukungan mental dari kejauhan kepada sang putra.

Di meja akad, Ibrahim menarik napas dalam-dalam sebelum menyambut uluran tangan sang wali nikah. Suaranya terdengar lantang, jelas, dan penuh keyakinan saat mengucapkan kalimat ijab kabul dalam satu tarikan napas tanpa ada keraguan sedikit pun.

"Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah binti Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!" ucap Ibrahim mantap.

"Sah?" tanya penghulu kepada para saksi.

"Sah!" jawab para saksi serempak disusul ucapan hamdalah yang menggema lembut dari seluruh penjuru ruangan.

Humaira langsung menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan air matanya tumpah membasahi pipinya karena rasa syukur yang tak terhingga, sementara Arham memejamkan mata sejenak, mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi memanjatkan doa terima kasih kepada Sang Pencipta.

❖ ❖ ❖

Keberhasilan prosesi akad nikah yang lancar tersebut seketika membawa Arham dan Humaira masuk ke dalam fase transisi batin yang sangat mendalam dan mengharukan. Suasana ruangan yang tadinya dipenuhi ketegangan sakral perlahan berubah menjadi kehangatan kekeluargaan saat para saksi dan kerabat mulai bersalaman memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru. Transisi dari peran mereka sebagai orang tua tunggal yang membesarkan anak di tengah keterbatasan ekonomi menuju status baru sebagai mertua yang menyaksikan anaknya mandiri mengajarkan Arham arti estafet kehidupan yang berjalan begitu sempurna di bawah ridha Allah.

"Alhamdulillah, sah sudah, Mai. Anak kita sekarang sudah resmi menjadi seorang suami," bisik Arham sambil merangkul pundak istrinya, membawa Humaira bergeser mendekati pelaminan sederhana tempat pengantin baru duduk bersanding.

Lihat selengkapnya