
Matahari senja di ufuk barat Kota Bandar Lampung perlahan-lahan meredup, menyemburkan bias cahaya keemasan yang berpadu dengan warna jingga tua di sela-sela dedaunan rindang pohon mangga di halaman depan rumah mungil Arham dan Humaira. Suasana di dalam ruang keluarga berukuran sedang itu terasa begitu syahdu, tenang, dan dipenuhi aroma teh chamomile hangat berpadu wangi gaharu yang menguar lembut dari sudut ruangan. Di atas kursi goyang kayu jati berbalut bantalan kain abu-abu, Arham duduk bersandar dengan tenang mengenakan kemeja koko putih bersih dan peci rajut hitam, sementara Humaira duduk bersimpuh di sampingnya mengenakan gamis rumahan berwarna hijau sage, memegang tasbih kayu sambil menatap suaminya dengan sorot mata penuh cinta kasih yang mendalam dan tulus.
"Udara sore ini terasa begitu sejuk ya, Mas. Rasanya tenang sekali bisa duduk berdua menikmati senja di rumah kita setelah anak-anak selesai mengaji di kamar," suara lembut Humaira memecah keheningan ruang keluarga, sarat akan ketulusan yang mengalir dari lubuk hatinya.
Arham menoleh perlahan, menyunggingkan senyuman simpul di bibirnya yang kini dihiasi garis-garis kedewasaan usia. Suaranya terdengar parau namun hangat menyapa pendengaran istrinya. "Iya, Mai... Pemandangan senja hari ini mengingatkan kita pada awal mula perjalanan panjang yang sudah kita rintis bersama dari titik nol hingga hari ini."
"Alhamdulillah... Aku tidak pernah menyangka Allah memberikan umur, kesabaran, dan kesempatan bagi kita untuk melihat Ibrahim dan Maryam tumbuh menjadi anak-anak saleh yang senantiasa menjaga Al-Qur'an," ucap Humaira pelan, merapikan lipatan selendang di bahunya dengan gerakan telaten.
Hubungan pernikahan Arham dan Humaira yang telah mengarungi berbagai gelombang badai kehidupan—mulai dari krisis finansial, sengketa agunan, dinamika pengasuhan anak, musibah kesehatan, perjalanan spiritual yang agung di Baitullah, hingga kesiapan menghadapi takdir akhir hayat—kini memasuki fase penutup yang sarat akan makna cinta sejati karena Allah. Di usia pernikahan yang telah matang dan diuji oleh waktu, keduanya menyadari bahwa segala ikatan duniawi bersifat fana, namun cinta yang disandarkan karena Sang Pencipta tidak akan pernah lekang oleh masa.
"Benar, Mai... Karena cinta kita tidak dibangun di atas kecantikan atau harta yang sementara, melainkan di atas ketaatan kepada-Nya, insya Allah ikatan ini akan terus bersemayam abadi hingga ke surga-surga-Nya," bisik Arham dengan tatapan mata yang memancarkan kejernihan jiwa yang luar biasa.
❖ ❖ ❖
Tujuan utama Arham dan Humaira di penghujung perjalanan hidup mereka bukanlah sekadar mempertahankan harta atau mengejar ambisi duniawi yang tiada habisnya, melainkan meraih rida Allah secara paripurna, menyempurnakan ikatan cinta sejati yang dibangun karena-Nya, serta meninggalkan teladan husnul khatimah bagi anak-anak dan keturunan mereka. Arham menyadari bahwa sisa waktu pinjaman hidupnya di dunia harus diisi dengan memperkuat zikir, menebar kedamaian, dan memastikan bahwa keluarganya tetap berada di jalan tauhid yang lurus.
"Aku ingin sisa hari-hari kita di dunia ini benar-benar bersih dari segala urusan selain zikir dan mendekatkan diri kepada Allah, Mai," ucap Arham serius namun penuh kelembutan saat mereka duduk berdampingan di sofa ruang tengah.
Humaira mengangguk mantap, menggenggam jemari suaminya dengan erat seolah tidak ingin melepaskannya barang sedetik pun. "Aku sangat memahami itu, Mas. Selama bertahun-tahun membersamaimu, aku belajar bahwa kebahagiaan sejati bukanlah tentang seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa ikhlas hati kita menyerahkan segalanya kepada takdir Allah."
Bagi Arham dan Humaira, tujuan akhir dari cinta karena Allah adalah menyadari bahwa perpisahan fisik di dunia hanyalah jeda singkat sebelum mereka dipertemukan kembali dalam keabadian surga Jannatul Firdaus. Mereka ingin memastikan bahwa anak-anak mereka, Ibrahim dan Maryam, telah dibekali dengan fondasi akidah yang tangguh sehingga kelak mampu mendoakan orang tua mereka dengan tulus tanpa putus.
"Ibrahim dan Maryam sudah tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan saleh, Mas. Kita tidak perlu lagi merasa khawatir meninggalkan mereka karena Allah adalah sebaik-baik pelindung bagi anak-anak yatim dan orang-orang saleh," kata Humaira menenangkan hati suaminya.
Di ambang pintu kamar, Ibrahim yang mendengar percakapan kedua orang tuanya menunduk takzim, menahan air mata haru menyadari betapa agungnya cinta dan pengorbanan ayah dan ibunya selama ini.
❖ ❖ ❖
Menjelang magrib, suasana rumah mungil Arham dan Humaira diselimuti oleh ketenangan batin yang sangat mendalam. Ibrahim dan Maryam keluar dari kamar dengan mengenakan pakaian salat rapi, bersiap untuk melaksanakan salat magrib berjemaah bersama kedua orang tuanya di ruang tengah yang telah digelar karpet suci.
Humaira berdiri merapikan saf salat, lalu menatap suaminya yang tersenyum damai sambil mengenakan sorban putih di pundaknya.
"Mari kita ambil air wudu, Mas. Waktu magrib sudah masuk," ajak Humaira lembut, menyentuh lengan suaminya.
Arham mengangguk pelan, bangkit dari kursi goyangnya dengan langkah yang perlahan namun pasti. "Mari, Mai... Kita dirikan salat yang paling khusyuk malam ini."
Transisi dari percakapan permenungan batin menuju ritual ibadah berjemaah ini mencerminkan bagaimana keluarga tersebut selalu menjadikan salat dan zikir sebagai tempat pelarian dan penawar segala kegelisahan hidup. Tidak ada kepanikan, tidak ada ratapan berlebihan; yang ada hanyalah penyerahan diri yang utuh kepada Zat Yang Maha Kuasa.
Ketika azan magrib berkumandang dengan suara merdu dari musala kompleks, Ibrahim bertindak sebagai imam muda di hadapan ayah, ibu, dan adiknya. Lantunan ayat suci Al-Qur'an surah Ar-Rahman yang dibacakan Ibrahim dengan suara fasih dan merdu menggetarkan dinding-dinding rumah, membawa kedamaian yang menghujam langsung ke lubuk hati setiap anggota keluarga.
❖ ❖ ❖
Namun, di tengah kekhusyukan ibadah dan kedamaian batin yang menyelimuti keluarga tersebut, sebuah rintangan biologis yang tidak dapat dihindari tiba-tiba menguji ketahanan fisik Arham. Seusai salat isya berjemaah dan zikir panjang bersama anak-anak, ketika Ibrahim dan Maryam sudah pamit masuk ke kamar tidur untuk beristirahat, Arham tiba-tiba merasakan sesak yang cukup kuat di dadanya.