MaiMama

Oleh: intan elsa lantika

Blurb

Lea berusia dua puluh tujuh tahun, sudah punya tiga anak, dan hidupnya berjalan seperti rumah tanpa remote TV—ramai, berisik, dan semua orang merasa paling benar.

Ia menikah muda bukan karena cinta ala drama Korea, melainkan karena tekanan hidup yang datang dari segala arah. Lea dan Adrian sama-sama masuk pernikahan dengan modal niat baik, kesiapan pas-pasan, dan harapan yang terlalu optimis. Enam bulan setelah menikah, ayah Adrian meninggal. Sejak itu, mereka resmi menjalani kehidupan rumah tangga tanpa buku panduan dan tanpa jeda iklan.

Lea adalah anak kedua. Ia tumbuh melihat kakaknya bertahan terlalu lama dalam pernikahan yang kacau—diam, sabar, dan lelah, sampai akhirnya sakit dan meninggalkan dua anak balita. Lea bersumpah pada dirinya sendiri: ia tidak mau sakit karena memendam. Ia ingin bicara, berdebat sehat, dan membangun rumah tanpa patriarki yang katanya "sudah dari dulu begitu".

Sayangnya, Adrian dibesarkan dengan keyakinan bahwa diam adalah bentuk kedewasaan, sementara Lea percaya berbicara adalah satu-satunya cara bertahan hidup. Di sinilah perang kecil dimulai—bukan dengan teriakan, tapi dengan kalimat setengah jadi, sindiran halus, dan anak-anak yang tiba-tiba muncul saat suasana sedang serius.

Di antara popok, cucian, dan percakapan yang sering salah tangkap, Lea belajar bahwa menjadi ibu dan istri bukan soal menjadi paling kuat atau paling sabar. Kadang, itu soal tertawa di tengah kekacauan dan mengakui bahwa tidak semua hal harus dimenangkan.

MaiMama adalah kisah keluarga kecil yang tidak rapi, pernikahan yang penuh salah paham, dan upaya membangun "rumah" sambil terus bertanya: apakah ini sudah cukup baik?

Karena ternyata, menjadi dewasa bukan berarti selalu tenang, kadang justru berisik, jujur, dan sangat manusiawi.

Lihat selengkapnya