Malam ini terlalu sunyi untuk seorang ibu yang seharusnya tidak pernah benar-benar sendirian.
Langkah kakiku terdengar lebih keras dari biasanya. Entah karena jalanan yang kosong, atau karena hatiku yang terlalu berisik. Angin malam menyapu wajahku pelan, tapi tidak cukup dingin untuk menenangkan sesuatu yang terasa seperti terbakar di dalam dada.
Aku berjalan tanpa tujuan. Atau mungkin… aku tahu tujuannya, tapi aku takut mengakuinya.
Tanganku menggenggam ponsel lebih erat dari yang seharusnya. Layarnya masih menyala. Angka-angka itu masih ada di sana.
Rp. 10.000.000,- Saldo terakhirku.
Tidak banyak. Bahkan terlalu sedikit untuk disebut sebagai “bekal kabur yang layak”. Tapi entah kenapa, malam ini angka itu terlihat seperti pintu. "Pintu keluar."
Aku berhenti di bawah lampu jalan yang redup. Cahaya kuning jatuh tepat di layar ponselku, membuat angka itu terlihat lebih jelas dan lebih menyakitkan.
"Segini doang?"
Aku tertawa kecil. Suara tawanya asing di telingaku sendiri. Kering. Kosong.
Di rumah, anakku mungkin sedang tidur. Atau mungkin terbangun lagi, menangis mencari aku. Aku tidak tahu. Dan untuk pertama kalinya… aku tidak langsung berlari kembali.
Dadaku terasa sesak.
“Aku ibu macam apa…” bisikku pelan.
Tapi langkah kakiku tidak bergerak pulang, aku sudah terlalu lelah.
Lelah dengan tangisan yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Lelah dengan tubuh yang tidak lagi terasa milikku.
Lelah dengan pikiran yang terus berisik bahkan saat semua orang tertidur.
Dan lebih dari itu…
Lelah dengan rumah yang tidak pernah benar-benar terasa seperti tempat pulang.
Aku menarik napas dalam. Tapi yang masuk bukan ketenangan. Hanya rasa berat yang semakin menekan.
Mama selalu bilang aku harus kuat.
“Dulu mama juga begitu. Semua ibu pasti bisa.”
Semua ibu.
Aku ingin bertanya…
Apa semua ibu juga merasa ingin lari?
Apa semua ibu juga pernah berdiri di bawah lampu jalan seperti ini, di tengah malam, memandangi saldo rekeningnya sambil menghitung… berapa harga untuk menghilang?
Ponselku bergetar pelan.
Satu pesan masuk.
Dari Mama.
Aku tidak langsung membukanya. Aku sudah tahu isinya. Atau setidaknya, aku sudah bisa menebaknya.
Masalah yang sama.
Nada yang sama.
Luka yang sama.
Tentang om. Tentang uang. Tentang hal-hal yang entah kenapa selalu berakhir di pundakku.
Seolah-olah aku masih anak kecil yang harus memperbaiki semuanya.
Padahal aku sendiri… sudah hampir hancur.
Aku akhirnya membuka pesan itu.
Dan benar saja.
Aku menutup mata.
Air mata jatuh tanpa suara.
Aku bahkan tidak ingat kapan terakhir kali aku menangis tanpa merasa bersalah. Bahkan sekarang pun, di tengah jalan yang kosong seperti ini, ada suara kecil di dalam kepalaku yang berbisik:
“Kamu ibu. Kamu tidak boleh selemah ini.”
Aku tertawa lagi. Kali ini lebih pelan. Lebih rapuh.
Kalau saja mereka tahu…
Bahwa aku tidak kuat.
Bahwa setiap hari aku bangun bukan karena aku siap… tapi karena tidak ada pilihan lain.
Bahwa setiap kali anakku menangis, ada bagian dalam diriku yang ikut retak, bukan karena aku tidak mencintainya, tapi karena aku takut aku tidak cukup.
Aku melihat lagi layar ponselku.
Angka itu masih di sana.
Diam. Dingin. Tidak peduli.
Kalau aku pergi sekarang…
Ke mana aku akan pergi?
Kalau aku benar-benar pergi…
Apakah aku akan merasa bebas?
Atau justru lebih kosong dari ini?
Angin malam kembali berhembus. Kali ini lebih dingin.
Aku memeluk diriku sendiri.
Untuk sesaat, aku benar-benar mempertimbangkannya.
Pergi.
Menghilang.
Menjadi seseorang yang tidak harus selalu kuat.
Tapi tiba-tiba…
Di antara sunyi yang terlalu luas ini, aku seperti mendengar sesuatu.
Tangisan.
Sangat pelan.
Hampir seperti ingatan.
"Anakku."
Dadaku langsung terasa seperti diremas.
Air mata yang tadi mengalir pelan, kini jatuh lebih deras.
“Aku capek…” bisikku, suaraku hampir hilang.
“Aku capek banget…”
Langkah kakiku goyah.
Aku tidak tahu harus ke mana.
Pulang terasa berat.
Pergi terasa lebih menakutkan.
Dan di antara dua pilihan itu… aku berdiri, sendirian, dengan saldo yang terlalu kecil untuk memulai hidup baru, dan hati yang terlalu lelah untuk melanjutkan yang lama.
Malam ini…
aku tidak tahu siapa diriku.
Aku hanya tahu satu hal.
Aku seorang ibu.
Yang sedang… hampir menyerah.
Ponsel di tanganku tiba-tiba bergetar.
Namanya muncul di layar.
"Adrian."
Untuk beberapa detik, aku hanya menatapnya. Jemariku kaku. Seolah ada jarak yang sangat jauh antara aku dan panggilan itu.
Aku hampir tidak mengangkatnya.
Tapi entah kenapa, aku geser juga.
“Halo…” Suaraku pelan. Lebih pelan dari yang aku kira.
Di seberang sana, suara Adrian terdengar seperti biasa. Tenang. Lembut. Tapi… jauh.
“Lea… aku beneran harus ke kampus. Ada piket malam ini.”
Aku menutup mata.
Tentu saja.
“Hmm…”
“Aku tadi kepikiran kamu,” lanjutnya, sedikit ragu. “Kamu udah tenang?”
Aku ingin tertawa.
Tenang?
Apa bentuk tenang itu?
Apakah diam berarti tenang?
Apakah tidak menangis berarti kuat?
“Malam ini aku nggak tidur di rumah… nggak ada yang bisa gantiin piket, jangan emosi lagi ya.”
Kalimat itu diucapkan dengan lembut.
Sangat lembut.
Tapi entah kenapa… justru itu yang membuat dadaku terasa semakin kosong.
Seperti… aku harus baik-baik saja.
Seperti… perasaanku terlalu merepotkan runtuk dipahami.
“Iya…” jawabku singkat.
Tidak ada yang benar-benar ingin aku jelaskan lagi.
Telepon itu berakhir tanpa banyak kata.
Dan untuk beberapa detik setelahnya, dunia terasa benar-benar hening.
Aku menatap layar ponselku yang kini gelap.
Lalu perlahan… aku memasukkannya ke dalam saku jaket.
Langkah kakiku berbalik.
Pulang.
Bukan karena aku sudah kuat.
Tapi karena… tidak ada tempat lain yang benar-benar memanggilku.
—
Kamar itu gelap saat aku membuka pintu.
Sepi.
Hanya suara napas kecil yang saling bersahutan dari dalam kamar.
Aku berjalan pelan.
Dua anakku yang lebih besar tertidur lelap. Wajah mereka tenang. Seolah dunia tidak pernah seberat yang aku rasakan.
Aku berdiri cukup lama di sana.
Memperhatikan.
Mengingat.
Bahwa mereka… pernah jadi alasan aku merasa utuh.