Entah wangsit dari dukun beranak mana yang nyasar ke kepala Mak gue pas gue lahir dua puluh tahun lalu, sampai-sampai beliau dengan tingkat kepercayaan diri melampaui Krisdayanti, memberi gue nama ‘Ratu’.
Ya, Ratu.
R-A-T-U.
Orang mah kalau denger nama Ratu, bayangannya pasti cewek anggun yang duduk di singgasana, sarapannya croissant impor dari Paris, terus kalau jalan kakinya nggak napak tanah karena takut kotor.
Lah, gue?
Singgasana gue adalah kursi bakso plastik warna merah yang salah satu kakinya udah agak meleyot, jadi kalau duduk harus pasang kuda-kuda biar nggak ngejoprak ke belakang. Tongkat kekuasaan gue bukan scepter berlapis berlian, melainkan sapu lidi yang udah botak karena sering dipakai Mak buat nimpuk tikus got. Dan alih-alih croissant, menu sarapan kerajaan gue pagi ini adalah nasi sisa semalam yang digoreng pakai kecap dan harapan palsu.
Nama doang Ratu. Nasib mah... ya gitu deh. Kalau kata anak-anak Twitter zaman now, hidup gue ini fufufu-nya kebangetan.
Dan inilah ratu di balik segala kekacauan hidup gue, Mak Rumpiah. Wanita berdarah Minang dengan campuran jawa, yang volume suaranya selalu di setelan pabrik maksimal dan punya prinsip hidup "Biar miskin asal sombong."
Pagi ini, "Penderitaan Mak Rumpiah" kembali tayang. Ini bukan penderitaan kayak di film Indosiar yang suaminya direbut pelakor, bukan. Ini penderitaan level Mak Rumpiah.
Gue baru aja kelar mandi pakai gayung yang udah retak, ketika gue nemuin Mak lagi duduk bersimpuh di depan lemari pakaiannya yang terbuat dari plastik susun tiga. Beliau nangis. Tapi nangisnya tuh yang estetik, air matanya keluar setetes demi setetes sambil tangannya meremas-remas daster batik yang udah belel di bagian ketiak.