Karung plastik hitam berisi masa depan kami, termasuk piring butut bekas makan Si Jago kini tergeletak pasrah di pojok teras. Mak Rumpiah bahkan nggak sempat meliriknya lagi karena alarm bahaya sudah berbunyi di kepalanya Jam 1 siang. Waktunya Kondangan.
"Ratu! James! Cepat mandi! Jangan sampai kita telat! Kalau rendangnya keburu habis, harga diri Mak mau ditaruh di mana?!" teriak Mak dari kamar mandi.
Gue bingung, apa hubungannya rendang habis sama harga diri. Tapi ya sudahlah, logika Mak Rumpiah memang sering error.
Satu jam kemudian, kami bertiga berdiri di depan cermin kusam di ruang tamu. Pemandangan di pantulan cermin itu sungguhlah abstrak.
Mak Rumpiah memakai kebaya warna kuning neon yang saking terangnya, gue curiga bisa menyala dalam gelap dan memandu pesawat mendarat darurat. Di kepalanya, melilit jilbab glitter emas yang ditusuk jarum pentul sebanyak mungkin, mungkin kalau ada magnet lewat, kepala Mak bakal nempel. Dan tentu saja, bros karatan yang tadi pagi digosok pakai odol, kini bertengger miring di dada kirinya, berusaha keras terlihat mahal meski gagal total.
Di sebelahnya, ada James yang memakai kemeja batik lengan panjang milik Almarhum Bapak yang kedodoran banget di badannya yang kurus, dipadukan dengan celana kargo dan tentu saja kacamata hitam. Dia kelihatan kayak calo tiket bus.
Dan gue? Gue pakai gamis sederhana warna abu-abu. Paling normal, tapi di mata Mak, gue adalah aib fashion.
"Kau ini, Ratu..." Mak memandang gue sinis sambil membetulkan letak gelangnya yang cuma satu biji. "Suram sekali warnamu. Kayak mendung mau hujan. Minimal ya pakai lipstik merah dikit biar orang tahu kau itu anak gadis, bukan tiang listrik!"
"Udah ayo jalan, Mak. Panas nih," potong gue malas.
Kami berjalan kaki menuju gedung serbaguna kelurahan. Jaraknya cuma 500 meter, tapi rasanya kayak long march karena Mak Rumpiah jalan dengan dagu diangkat tinggi-tinggi, menyapa setiap orang yang lewat dengan nada dibuat-buat.
"Eh, Bu RT! Mau ke kondangan juga? Iya nih, saya telat soalnya tadi nungguin sopir manasin mobil. Eh, maksudnya manasin sayur," Mak Rumpiah merevisi kebohongannya dengan kikuk. Gue dan James cuma bisa nunduk malu. Sopir apaan? Sopir angkot kali.
Sampai di gedung resepsi, atmosfer kekayaan langsung menampar wajah kaum mendang-mending seperti kami. Janur kuning melengkung indah, suara musik dangdut koplo menggelegar dari sound system mahal, dan aroma rendang yang menggoda iman.
Tapi, teror sesungguhnya baru dimulai saat kami melihat sosok itu di pintu penerima tamu.
Hj. Maemunah.
Wanita itu berdiri di sana, bersinar lebih terang daripada lampu sorot panggung. Dia memakai gamis sutra penuh bling bling. Yang jelas, setiap inchi tubuhnya tertutup emas. Gelang di tangan kiri ada sepuluh, di tangan kanan ada lima. Kalungnya seberat rantai kapal. Cincinnya ada di setiap jari, termasuk jempol.
Kalau dia jatuh ke kolam renang, gue yakin dia bakal langsung tenggelam karena keberatan beban.
"Onde mande... Si Rumpiah datang juga," sapa Hj. Maemunah dengan senyum manis yang mengandung racun sianida. Matanya langsung men-scan penampilan Mak dari ujung kaki sampai ujung bros karatan.
Mak Rumpiah menegakkan badan, berusaha agar brosnya terlihat menonjol. "Iya dong, Hajjah. Masa teman lama mantu, kita nggak datang. Apa kabar?"
"Baik, alhamdulillah. Rezeki lancar, toko emas makin ramai," jawab Maemunah pamer tanpa diminta. "Eh, Rumpiah. Itu bros baru ya? Kok warnanya agak...kuno? Tembaga jaman Majapahit ya?"
Jleb. Serangan pertama.
Wajah Mak memerah, kontras dengan bedaknya yang keputihan. "Oh, ini... ini barang antik, Hajjah! Limited edition! Nggak ngerti seni kau!"