Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #1

Bayangan Pendek di Lorong PTN

Pukul delapan kurang seperempat, lorong Gedung Kuliah Bersama sudah seperti arus sungai yang baru dibuka bendungannya. Mahasiswa datang dari segala arah dengan langkah tergesa, sebagian membawa map di dada, sebagian lagi menggantungkan tas di satu bahu sambil menunduk pada layar ponsel. Suara sepatu beradu dengan ubin tua bercampur dengan tawa, panggilan nama dari kejauhan, dan bunyi kursi yang digeser dari dalam kelas-kelas yang pintunya terbuka. Di antara arus itu, Raka Aditya Pratama berjalan dengan kebiasaan yang tidak pernah ia sadari sampai suatu hari kebiasaan itu menjadi bagian dari tubuhnya sendiri.

Ia menunduk sedikit.

Bukan terlalu rendah sampai orang mengira ia sedang mencari sesuatu di lantai. Cukup rendah agar tatapannya tidak perlu sering bertemu wajah orang lain. Bahunya ditarik ke dalam, seolah tubuhnya berusaha mengambil ruang sesedikit mungkin. Jika ada sekelompok mahasiswa berjalan di depannya, Raka akan memperlambat langkah. Jika ada mahasiswa laki-laki tinggi berjalan di sebelahnya, ia secara refleks membiarkan orang itu maju lebih dulu.

Ia tidak suka berjalan sejajar.

Bukan karena takut dibandingkan. Lebih buruk dari itu, pikirnya, ia sudah terlalu sering membandingkan dirinya sendiri sebelum orang lain sempat melakukannya.

Seorang mahasiswa bertubuh tinggi dengan jaket organisasi berwarna gelap melangkah dari belakang dan nyaris sejajar dengannya. Raka langsung memperlambat langkah, pura-pura merapikan tali tas di bahunya. Mahasiswa itu lewat tanpa memandangnya, terus berjalan sambil berbicara kepada temannya mengenai jadwal rapat. Raka kembali berjalan setelah jarak di antara mereka cukup jauh.

Hal semacam itu terjadi hampir setiap hari.

Dan hampir setiap hari, tidak ada seorang pun yang menyadarinya.

Di dinding lorong tergantung poster-poster kegiatan mahasiswa. Ada seminar nasional, diskusi politik, rekrutmen organisasi, lomba debat, hingga pamflet yang menawarkan kelas bahasa asing. Beberapa poster sudah mengelupas di bagian sudut, meninggalkan bekas lem yang menghitam. Cahaya pagi masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi gedung dan jatuh miring ke lantai, memantulkan bayangan mahasiswa yang berlalu-lalang.

Raka melihat bayangannya sendiri.

Pendek.

Ia langsung mengalihkan pandangan.

Sebenarnya ia tahu angka pastinya. Terlalu tahu. Seratus lima puluh empat koma delapan sentimeter.

Dulu ia hanya tahu dirinya lebih pendek daripada sebagian besar teman laki-lakinya. Seiring waktu, angka itu berubah menjadi sesuatu yang terus hidup di dalam kepalanya. Ia tahu tinggi teman-temannya secara kasar. Ia tahu ketika seorang mahasiswa baru berdiri lebih tinggi darinya. Ia tahu ketika seorang perempuan berdiri hampir sejajar dengan pundaknya. Ia bahkan kadang membayangkan bagaimana dirinya terlihat ketika berdiri dalam foto kelompok.

Selalu lebih kecil.

Selalu seperti orang yang salah masuk ke dalam komposisi.

“Rak!”

Raka menoleh.

Seorang mahasiswa dari kelasnya melambaikan tangan dari dekat pintu. “Masuk, nggak? Pak Bambang udah datang.”

Raka mengangguk. “Masuk.”

Ia mempercepat langkah, lalu berhenti sejenak ketika menyadari mahasiswa itu berdiri menunggunya. Tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan, ia merasa tidak nyaman berjalan berdampingan dengannya. Temannya itu lebih tinggi hampir dua puluh sentimeter. Tidak ada yang salah dengan orang itu. Ia bahkan cukup baik.

Masalahnya tidak pernah benar-benar ada pada orang lain.

“Lu kenapa?” tanya temannya.

“Kenapa apanya?”

“Dari tadi kayak ngelamun.”

“Kurang tidur.”

“Oh.”

Jawaban sederhana selalu lebih aman. Raka sudah lama belajar bahwa semakin sedikit orang tahu tentang isi kepalanya, semakin kecil kemungkinan mereka menemukan sesuatu untuk ditertawakan.

Mereka masuk ke kelas.

Ruangan itu berada di ujung lorong, dengan jendela besar yang menghadap halaman belakang fakultas. Cat temboknya tidak lagi benar-benar putih. Ada warna kekuningan yang menempel di beberapa bagian, sementara kipas angin tua di langit-langit berputar dengan bunyi berdecit setiap beberapa detik. Mahasiswa sudah memenuhi sebagian besar kursi. Beberapa duduk sambil membuka laptop, beberapa masih melanjutkan percakapan yang belum selesai sejak lorong.

Raka memilih tempat yang tidak terlalu depan dan tidak terlalu belakang.

Baris ketiga, sisi dekat jendela.

Tempat yang menurutnya paling aman.

Ia meletakkan tas di lantai, mengeluarkan buku catatan, dua pulpen, dan sebuah buku yang sudah dipenuhi potongan kertas sebagai penanda halaman. Tulisan tangannya kecil dan rapat. Hampir semua halaman catatannya dipenuhi garis-garis, panah, kata yang dicoret, lalu ditulis ulang dengan istilah yang lebih tepat.

Raka tidak suka jawaban setengah matang.

Ia bisa menghabiskan waktu satu jam hanya untuk memastikan apakah sebuah konsep benar-benar cocok dengan konteks pembahasan. Ia bisa membaca lima tulisan berbeda hanya karena satu kalimat di kelas membuatnya merasa ada sesuatu yang belum selesai. Namun anehnya, kecerdasan itu tidak pernah membuatnya merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Justru sebaliknya.

Semakin banyak ia tahu, semakin banyak pula yang ia sadari belum ia pahami.

Pak Bambang masuk sambil membawa beberapa lembar kertas. Usianya mungkin sudah memasuki awal lima puluhan. Rambut di bagian depan kepalanya mulai menipis, sementara kacamatanya selalu sedikit turun ketika ia terlalu lama membaca. Ia bukan tipe dosen yang membuat kelas menjadi sunyi hanya dengan memasuki ruangan. Namun begitu ia meletakkan tas di meja, perlahan suara mahasiswa mulai mereda.

“Pagi.”

“Pagi, Pak.”

“Sudah baca materi yang saya kirim?”

Beberapa mahasiswa menjawab serempak. Beberapa lainnya tertawa kecil.

Pak Bambang mengangguk seperti sudah menduga. “Baik. Berarti kita mulai dari yang mengaku baca dulu.”

Tawa kembali muncul.

Hari itu kelas membahas teks mengenai perubahan sosial dan cara manusia membentuk pemaknaan terhadap realitas di sekitarnya. Tidak ada presentasi kelompok. Pak Bambang memilih metode yang selalu membuat sebagian mahasiswa mengeluh diam-diam.

Diskusi terbuka.

“Menurut kalian,” katanya sambil menyandarkan tubuh ke meja, “apakah perubahan sosial selalu berarti kemajuan?”

Beberapa tangan terangkat.

Mahasiswa pertama menjawab tentang perkembangan teknologi. Mahasiswa lain berbicara mengenai modernisasi. Seseorang mengaitkannya dengan globalisasi. Diskusi berjalan seperti biasanya, dengan jawaban-jawaban yang cukup baik dan istilah-istilah yang terdengar akademis.

Raka mencatat sesuatu.

Pak Bambang melanjutkan pertanyaan. “Kalau begitu, siapa yang menentukan sesuatu itu disebut maju?”

Kelas mulai lebih tenang.

Mahasiswa yang tadi berbicara mengerutkan kening. Ada yang mencoba menjawab, tetapi kalimatnya berhenti di tengah. Seseorang menyebut masyarakat. Orang lain menyebut negara. Ada pula yang mengatakan bahwa kemajuan bisa diukur secara objektif.

Pak Bambang menggeleng kecil.

“Objektif menurut siapa?”

Sunyi.

Raka masih menunduk pada catatannya. Ia sebenarnya sudah beberapa kali mengangkat kepala, lalu kembali menunduk. Ada dorongan kecil di dalam dirinya untuk berbicara, tetapi dorongan itu selalu datang bersama sesuatu yang lain.

Bayangan tentang puluhan mata yang akan beralih kepadanya.

Ia tahu perasaannya itu tidak masuk akal. Di kelas, orang-orang memperhatikan siapa pun yang berbicara. Itu wajar. Tetapi bagi Raka, perhatian selalu terasa seperti sesuatu yang memiliki lapisan tambahan.

Mereka pasti melihat seluruh tubuhmu.

Bukan cuma mendengar.

Ia mengatupkan rahang.

Pak Bambang memandang ke seluruh ruangan. “Tidak ada lagi?”

Raka menarik napas pelan.

Tangannya terangkat.

Pak Bambang langsung menoleh. “Raka.”

Sekejap, seluruh kelas berputar ke arahnya.

Dan seperti biasa, sebelum pikirannya sempat menyusun kalimat pertama, Raka sudah menyadari hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan materi kuliah. Mahasiswa di depan sana tinggi. Yang di sisi kanan bahkan duduk dengan punggung tegak sehingga tubuhnya terlihat lebih besar. Seorang mahasiswa perempuan di dekat pintu menoleh sambil menyibakkan rambutnya.

Lalu Raka memaksa dirinya berhenti.

Ia tidak bisa terus hidup seperti ini.

“Menurut saya,” katanya.

Suaranya terdengar stabil, meskipun jemarinya saling menekan di bawah meja.

“Masalahnya bukan cuma siapa yang menentukan kemajuan, Pak. Tapi siapa yang punya kuasa untuk membuat definisinya terdengar normal.”

Pak Bambang tidak menyela.

Raka melanjutkan.

“Kadang sebuah perubahan disebut kemajuan bukan karena semua orang yang mengalami perubahan itu benar-benar merasa hidupnya lebih baik. Tapi karena kelompok yang punya posisi lebih kuat berhasil menjadikan ukuran mereka sebagai standar umum.”

Beberapa mahasiswa mulai memperhatikannya dengan serius.

Raka tidak berhenti.

“Misalnya, kalau satu kelompok masyarakat dipaksa mengikuti cara hidup tertentu, lalu cara hidup lama mereka dianggap tertinggal, kita sering melihat proses itu seolah-olah mereka sedang bergerak menuju sesuatu yang lebih maju. Padahal kita belum tentu bertanya apakah mereka punya pilihan untuk menolak.”

Pak Bambang berdiri lebih tegak.

“Lanjutkan.”

Raka menatap dosennya sebentar. Hanya sebentar. Setelah itu ia kembali memandang meja di depannya, bukan karena ragu, melainkan karena lebih mudah berpikir tanpa harus menghadapi terlalu banyak mata.

“Jadi mungkin perubahan sosial tidak bisa langsung disebut kemajuan. Karena istilah kemajuan sendiri membawa nilai tertentu. Dan nilai itu biasanya nggak pernah netral. Kalau kita cuma pakai ukuran dari pihak yang paling dominan, perubahan yang sebenarnya merugikan kelompok lain bisa tetap dipuji sebagai perkembangan.”

Ruangan benar-benar hening.

Tidak ada suara kipas angin yang cukup keras untuk menutupinya. Tidak ada bunyi ketukan meja atau bisikan dari barisan belakang. Raka menyadari kesunyian itu, lalu dadanya mulai mengencang.

Lihat selengkapnya