Malam di kamar kos Raka selalu terdengar lebih sempit daripada siangnya. Ketika matahari masih ada, ruangan berukuran tiga kali tiga meter itu setidaknya punya sesuatu untuk dilihat. Cahaya masuk melalui celah jendela, jatuh di tumpukan buku yang berserakan di meja, memantul pada gelas-gelas kosong, lalu membuat dinding yang catnya mulai kusam terlihat sedikit lebih hidup. Namun setelah malam datang dan pintu ditutup, kamar itu berubah menjadi kotak kecil yang terlalu sunyi untuk seseorang yang pikirannya tidak pernah benar-benar tahu cara diam.
Raka berbaring telentang di atas kasur tipis yang menempel ke lantai. Seprai abu-abunya kusut di bagian kaki. Di samping kasur terdapat meja pendek dengan beberapa buku yang ditumpuk tidak beraturan, sebagian terbuka dengan halaman yang dilipat, sebagian lain tertindih oleh kertas-kertas catatan kuliah. Lampu kecil berwarna kuning menyala di sudut ruangan, tidak cukup terang untuk menerangi seluruh kamar, tetapi cukup untuk membuat bayangan kipas angin di langit-langit bergerak pelan di dinding.
Kipas itu berputar dengan bunyi yang sama setiap malam.
Krek.
Krek.
Krek.
Suara mekanis yang monoton, seperti sesuatu yang seharusnya menenangkan karena bisa diprediksi. Namun malam itu, semakin lama Raka mendengarnya, semakin suara itu terasa seperti jam yang menghitung berapa lama ia sudah gagal tidur.
Ia membuka mata.
Langit-langit kamar kosnya terlihat kusam dan berdebu. Ada noda samar di dekat sudut ruangan yang sudah beberapa kali ia pikirkan untuk dibersihkan, tetapi selalu lupa ketika pagi datang. Dari tempatnya berbaring, noda itu tampak seperti bentuk awan yang tidak pernah berubah.
Raka sudah menatapnya hampir dua puluh menit.
Atau mungkin lebih.
Ponselnya tergeletak di dekat bantal. Layar sudah mati. Tidak ada notifikasi. Tidak ada pesan yang menunggu dibalas. Tidak ada tugas mendesak yang harus dikerjakan malam itu. Seharusnya tidak ada alasan untuk tetap terjaga.
Namun tidur bukan sesuatu yang bisa datang hanya karena seseorang merasa lelah.
Kadang tubuh ingin beristirahat sementara pikiran justru memilih membuka pintu-pintu lama yang seharusnya sudah terkunci.
Raka memejamkan mata.
Hanya sebentar.
Lalu ia membukanya lagi.
“Tidur, kek,” gumamnya pelan.
Kipas menjawab dengan bunyi krek yang sama.
Ia mengubah posisi menjadi miring ke kanan. Tidak nyaman. Ia kembali telentang. Menarik selimut sampai dada. Terlalu panas. Selimut itu kemudian ditendang sampai setengah jatuh ke lantai.
Tidak ada posisi yang benar.
Tidak ada malam yang cukup tenang.
Pikirannya kembali ke siang tadi.
Pak Bambang berdiri di depan kelas.
“Analisis kamu tajam.”
Kalimat itu muncul begitu saja.
Raka mengerutkan dahi.
Ia membalikkan badan menghadap dinding.
Kenapa harus kepikiran itu lagi?
Ia tidak punya masalah dengan pujian Pak Bambang. Setidaknya, itu yang ingin ia yakini. Dosen itu memang sering memancing mahasiswa untuk berpikir lebih jauh, dan Raka kebetulan menjawab sesuatu yang sesuai dengan arah diskusi. Selesai. Tidak perlu dipikirkan.
Tetapi yang mengganggunya bukan kalimat dosennya.
Melainkan apa yang terjadi beberapa detik setelahnya.
Semua orang menoleh.
Sekilas.
Wajar.
Tidak lebih dari itu.
Namun tubuh Raka langsung menegang, seolah perhatian adalah lampu sorot yang menelanjanginya di depan seluruh ruangan. Ia tidak hanya merasa didengar. Ia merasa dilihat.
Dan ketika merasa dilihat, pikirannya selalu membawa satu pertanyaan yang sama.
Mereka lihat apa?
Raka mengembuskan napas.
Ia menutup mata lebih rapat.
Bodoh.
Sungguh bodoh.
Sudah dua tahun, tapi masih begini.
Kalimat itu sebenarnya tidak adil. Raka tahu itu. Tidak ada aturan yang mengatakan bahwa setelah dua tahun seseorang harus selesai dengan rasa sakit tertentu. Tidak ada kalender yang memberi batas waktu bagi luka untuk berhenti terasa. Namun pemahaman semacam itu tidak banyak membantu ketika luka tersebut sudah terlalu lama tinggal sampai terasa seperti bagian dari struktur kepribadiannya sendiri.
Ia tahu luka itu punya awal.
Dan awalnya memiliki nama.
Maya.
Nama itu muncul di kepalanya dengan begitu sederhana hingga Raka merasa sedikit kesal pada dirinya sendiri.
Maya.
Perempuan yang sekarang mungkin sudah menjalani hidupnya sendiri, entah di kota mana, entah sedang belajar atau bekerja, entah masih mengingat kejadian itu atau sudah melupakannya sejak sore yang sama.
Sedangkan Raka?
Ia masih bisa mengingat cahaya matahari hari itu.
Masih bisa mengingat warna lantai pelataran sekolah.
Masih bisa mengingat cara tangan kirinya berkeringat.
Dan yang paling ia benci, ia masih bisa mengingat wajah Maya ketika perempuan itu akhirnya menyadari bahwa Raka menyukainya.
Krek.
Krek.
Krek.
Bunyi kipas angin semakin menjauh.
Atau mungkin ingatan itu yang semakin mendekat.
Tahun 2016.
Pelataran sekolah selalu tampak lebih luas setelah sebagian besar siswa pulang. Pada siang hari, tempat itu dipenuhi suara sepatu, teriakan dari lapangan, dan siswa yang berjalan bergerombol menuju kantin. Namun sore itu, setelah bel terakhir berbunyi dan matahari mulai condong ke barat, suasananya berubah.
Masih ada beberapa siswa yang belum pulang.
Sebagian duduk di tangga depan sambil menunggu jemputan. Ada suara motor keluar dari parkiran. Seorang penjaga sekolah berjalan membawa sapu lidi. Angin sore membawa bau tanah kering dan daun-daun yang mulai menguning.
Raka berdiri di bawah salah satu tiang dekat pelataran.
Tangannya menggenggam tali tas terlalu erat.
Ia sudah menunggu hampir lima belas menit.
Atau mungkin sepuluh.
Atau dua puluh.
Waktu menjadi sulit dihitung ketika seseorang sedang menunggu orang yang membuat jantungnya berdetak tidak seperti biasanya.
Ia melirik jam.
Lalu melirik ke arah koridor.
Belum keluar.
Raka menarik napas.
Ia sebenarnya bisa pulang.
Tidak ada yang memaksanya berada di sana. Tidak ada janji khusus. Tidak ada pertemuan yang benar-benar disepakati sebelumnya.
Maya bahkan belum tahu apa yang sedang ia tunggu.
Justru itu yang membuat semuanya terasa semakin bodoh.
Beberapa minggu terakhir, Raka terlalu sering membantu Maya.
Awalnya hal-hal kecil.
Maya pernah meminta tolong meminjamkan catatan karena ia tidak masuk sekolah. Raka memberikan bukunya. Beberapa hari kemudian, perempuan itu kesulitan memahami tugas kelompok dan menghubunginya lewat pesan. Raka menjelaskan selama hampir satu jam.
Setelah itu, permintaan-permintaan kecil datang lebih sering.
“Rak, lu udah ngerjain tugas sejarah?”
“Boleh minta fotoin catatan nggak?”
“Ini maksudnya gimana, sih?”
“Lu ada soft file-nya?”
Dan Raka selalu menjawab.
Selalu.
Tidak pernah sekalipun ia mempertimbangkan untuk berkata tidak.
Kalau Maya meminta sesuatu pada malam hari, ia akan membalas. Kalau Maya membutuhkan catatan, ia mencarikan. Kalau ada tugas yang sulit, Raka bisa menghabiskan waktu lebih lama dari yang diperlukan hanya untuk memastikan penjelasannya cukup mudah dipahami.
Pada saat itu, ia tidak menganggap dirinya sedang membeli perasaan seseorang.
Setidaknya belum.
Ia hanya senang bisa berguna.
Dan perasaan berguna itu terasa sangat dekat dengan perasaan dibutuhkan.
Bagi Raka yang berusia delapan belas tahun, keduanya hampir terdengar sama.
“Ngapain, Rak?”
Raka menoleh.
Salah satu temannya baru keluar dari koridor sambil membawa tas.
“Nungguin orang.”
“Siapa?”
“Udah, sana pulang.”
Temannya menyipitkan mata, lalu mengikuti arah pandangan Raka.
“Oh.”
Raka langsung melotot. “Oh apaan?”
“Gue nggak ngomong apa-apa.”
“Ya makanya.”
“Lu suka Maya?”
Pertanyaan itu membuat Raka diam sepersekian detik terlalu lama.
Temannya langsung tertawa.
“Anjir, beneran?”
“Berisik.”
“Lu nembak?”
Raka menoleh ke arah lain. “Nggak tahu.”
“Nggak tahu gimana?”
“Ya... nggak tahu.”
“Wah, gila. Jadi nungguin buat nembak?”
“Udah pulang sana.”
Temannya tertawa lebih keras, tetapi akhirnya benar-benar berjalan menuju parkiran. Sebelum pergi, ia sempat menoleh dan mengangkat tangan.
“Semoga sukses, pendek!”
Raka mendengus.
“Kontol.”
Temannya tertawa sambil terus berjalan.
Kalimat itu sebenarnya biasa.
Candaan.
Raka juga tahu temannya tidak bermaksud jahat. Namun setelah beberapa detik, ia menatap tubuhnya sendiri.
Seratus lima puluh empat koma sekian.
Ia belum pernah mengukur dengan angka yang benar-benar presisi saat itu. Ia hanya tahu bahwa hampir semua teman laki-lakinya lebih tinggi.
Ia menarik napas.
Bukan masalah.
Maya nggak peduli begituan.
Pikiran itu muncul dengan keyakinan yang terdengar terlalu rapuh.
Raka memandang ke arah koridor lagi.
Dan akhirnya Maya muncul.
Perempuan itu berjalan bersama dua temannya. Rambutnya tergerai sampai bahu. Seragam sekolahnya sedikit kusut, mungkin karena seharian berada di kelas. Di tangan kanannya ada map biru yang sudah mulai melengkung di bagian sudut.
Entah berapa kali Raka melihat pemandangan seperti itu.
Tetapi sore itu berbeda.
Karena sore itu, ia sudah memutuskan untuk berhenti menyimpan semuanya sendirian.
Jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
Maya melihatnya.
Ekspresinya berubah sedikit.
“Eh, Raka?”
“Ya.”
“Belum pulang?”
“Belum.”
Maya melirik kedua temannya. Salah satu dari mereka tersenyum samar, seolah mengetahui sesuatu yang Raka sendiri belum tentu siap akui.
“Kenapa?”