Auditorium kampus itu terlalu dingin untuk ukuran siang hari.
Begitu masuk melalui pintu kayu besar yang terbuka di kedua sisi, Raka langsung merasakan perubahan suhu yang membuat kulit lengannya sedikit meremang. Di luar, matahari bulan-bulan awal semester sedang berada tinggi di atas gedung-gedung kampus. Aspal di halaman memantulkan panas, mahasiswa berjalan sambil menutupi wajah dari silau, dan suara kendaraan bercampur dengan teriakan panitia yang sibuk mengarahkan peserta seminar. Namun di dalam auditorium, semuanya berubah menjadi cahaya putih, hawa pendingin ruangan, dan suara mikrofon yang sesekali mendengung dari panggung.
Raka berdiri beberapa detik di dekat pintu, membiarkan matanya menyesuaikan diri dengan ruangan yang sudah hampir penuh.
Auditorium itu memang cukup besar. Kursi-kursi biru tua tersusun menurun menghadap panggung, dengan lorong di bagian tengah yang membelah ruangan menjadi dua sisi. Di depan, sebuah layar proyektor menampilkan judul seminar yang hurufnya cukup besar untuk dibaca dari barisan paling belakang. Beberapa dosen sudah duduk di kursi khusus dekat panggung. Mahasiswa organisasi memenuhi sebagian besar barisan depan, mudah dikenali dari name tag yang menggantung di leher dan cara mereka saling menyapa seolah hampir semua orang di ruangan itu saling mengenal.
Raka tidak mengenal sebagian besar dari mereka.
Dan ia memang tidak berniat mengenal.
Ia datang bukan karena menjadi panitia, bukan pula karena namanya tercantum sebagai peserta wajib. Salah seorang teman pernah mengirim poster seminar itu ke grup kelas beberapa hari sebelumnya, disertai komentar singkat bahwa salah satu pembicaranya cukup menarik. Topiknya berkaitan dengan dinamika politik, masyarakat, dan peran mahasiswa dalam membaca perubahan sosial. Raka merasa pembahasannya mungkin cukup berguna untuk didengar.
Itu saja.
Tidak lebih.
Setidaknya, begitu pikirnya ketika masih berada di luar auditorium.
Ia memilih masuk melalui sisi kiri dan berjalan melewati beberapa baris kursi. Semakin jauh dari panggung, semakin nyaman perasaannya. Akhirnya, ia menemukan sebuah tempat kosong di hampir bagian paling belakang, dekat dinding.
Tempat yang sempurna.
Ia bisa melihat seluruh ruangan tanpa perlu merasa menjadi bagian dari pusat perhatian.
Raka duduk, meletakkan tas di pangkuannya, lalu mengeluarkan buku catatan kecil. Tidak seperti beberapa mahasiswa lain yang sibuk mengobrol sambil menunggu acara dimulai, ia langsung membuka halaman kosong dan menulis tanggal di sudut kanan atas.
Di depannya, kepala-kepala mahasiswa membentuk lautan yang bergerak pelan.
Ada yang tertawa.
Ada yang membungkuk ke arah temannya untuk berbisik.
Ada pula yang sibuk membuka laptop.
Raka menyandarkan punggung ke kursi.
Di posisi seperti itu, tidak ada seorang pun yang akan benar-benar memperhatikannya.
Ia menyukai itu.
Beberapa menit kemudian, lampu utama diredupkan sedikit. Suara percakapan mulai mengecil. Seorang pembawa acara naik ke atas panggung dengan langkah yang terlalu bersemangat untuk ukuran siang hari. Ia menyapa hadirin, memperkenalkan seminar, menyebut nama-nama pembicara, lalu mengundang tepuk tangan yang terdengar cukup ramai.
Raka mendengarkan.
Ia mencatat beberapa hal.
Materi pertama berlangsung hampir empat puluh menit. Pembicaranya seorang akademisi yang sudah cukup dikenal di lingkungan kampus. Cara bicaranya terstruktur, argumennya rapi, dan beberapa poin yang disampaikan memang menarik. Namun Raka mulai kehilangan fokus setelah dua puluh menit pertama.
Bukan karena materinya buruk.
Justru karena terlalu banyak bagian yang menurutnya terdengar seperti pengulangan.
Istilah-istilah besar muncul silih berganti. Transformasi. Demokratisasi. Partisipasi. Inklusivitas. Semua terdengar baik ketika dipasang di layar proyektor dan diucapkan dengan intonasi yang meyakinkan. Namun Raka selalu memiliki kebiasaan buruk, atau mungkin kebiasaan yang membuat hidupnya lebih sulit, untuk bertanya apa yang sebenarnya dimaksud seseorang ketika menggunakan kata-kata itu.
Apa batasnya?
Siapa yang dimaksud?
Dalam kondisi apa?
Dan siapa yang mendapat keuntungan dari definisi tersebut?
Ia sedang menulis catatan kecil di pinggir halaman ketika sesi tanya jawab dibuka.
“Baik,” kata moderator dari atas panggung. “Mungkin ada pertanyaan atau tanggapan?”
Beberapa tangan langsung terangkat.
Moderator menunjuk mahasiswa di sisi kanan. Pertanyaan pertama cukup panjang, bahkan lebih panjang daripada yang seharusnya. Raka mendengarkan sambil memutar pulpen di antara jarinya. Setelah itu, pertanyaan kedua datang dari mahasiswa lain. Lalu ketiga.
Ia mulai kehilangan minat.
Sampai sebuah suara perempuan terdengar dari bagian depan.
“Permisi.”
Tidak terlalu keras.
Namun cukup jelas.
Raka mengangkat kepala.
Seorang perempuan berdiri di sekitar barisan ketiga dari depan.
Pada awalnya, Raka hanya melihat punggungnya. Rambut panjang berwarna hitam jatuh rapi hingga sedikit melewati bahu. Ia mengenakan kemeja berwarna terang dengan lengan yang digulung sampai siku. Sebuah name tag tergantung di lehernya, tetapi dari tempat Raka duduk, tulisan di sana tidak terbaca.
Moderator mengangguk ke arahnya.
“Silakan.”
Perempuan itu menerima mikrofon dari panitia.
Dan kemudian ia mulai berbicara.
“Saya tertarik sama satu bagian dari pemaparan tadi tentang partisipasi mahasiswa dalam proses demokratisasi.”
Suara itu tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak berusaha dibuat lebih berat atau lebih formal dari seharusnya.
“Bapak tadi menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa perlu diperluas supaya proses politik nggak hanya didominasi oleh elite. Tapi saya agak mempertanyakan satu asumsi di situ.”
Raka berhenti memutar pulpennya.
Perempuan itu melanjutkan.
“Kalau kita bicara perluasan partisipasi, apakah kita nggak perlu lebih dulu membedakan antara partisipasi yang benar-benar lahir dari kesadaran politik dan partisipasi yang sebenarnya cuma reproduksi dari relasi kuasa yang sudah ada?”
Ruangan menjadi sedikit lebih tenang.
Raka mengangkat alis.
Menarik.
“Karena menurut saya,” lanjut perempuan itu, “mahasiswa sering diposisikan sebagai kelompok yang otomatis punya kesadaran kritis. Padahal dalam praktiknya, mahasiswa juga bisa mereproduksi bias yang sama dengan aktor politik yang mereka kritik. Jadi ketika kita bicara soal keterlibatan mahasiswa, pertanyaannya mungkin bukan cuma bagaimana memperbanyak jumlah orang yang ikut terlibat, tapi juga bagaimana kita memastikan bahwa partisipasi itu nggak sekadar jadi bentuk lain dari perebutan panggung.”
Raka menatap ke depan.
Kali ini benar-benar menatap.
Tangannya berhenti di atas buku catatan.
Pembicara di panggung menjawab dengan senyum tipis. Jawabannya cukup diplomatis. Ia berbicara tentang pentingnya pendidikan politik dan kesadaran kritis sebagai proses yang terus berkembang. Namun Raka hampir tidak mendengarkan bagian itu.
Perhatiannya masih tertahan pada perempuan yang baru saja duduk kembali.
Bukan hanya karena pertanyaannya.
Ada banyak mahasiswa yang terdengar cerdas ketika berbicara di depan umum. Raka sudah cukup sering bertemu orang-orang seperti itu. Mereka menghafal istilah, membaca artikel yang sedang populer, lalu menyusunnya menjadi kalimat-kalimat panjang yang terdengar mengesankan. Kadang orang-orang semacam itu berhasil membuat ruangan terdiam, tetapi bukan karena gagasan mereka terlalu dalam. Hanya karena orang lain membutuhkan waktu untuk menerjemahkan apa sebenarnya yang baru saja mereka katakan.
Yang barusan berbeda.
Perempuan itu tidak terdengar sedang mempertontonkan dirinya.
Ia sedang memikirkan sesuatu.
Raka bisa merasakannya dari cara ia menyusun pertanyaan.
Tidak ada kata yang tampak dimasukkan hanya untuk memperlihatkan bahwa ia menguasai istilah tertentu. Tidak ada kalimat yang terlalu dipoles. Bahkan ketika ia menggunakan konsep yang cukup akademis, semuanya terasa punya arah.
Ada persoalan.
Ada asumsi.
Ada pertanyaan terhadap asumsi tersebut.
Sederhana.
Tapi tepat.
Raka menunduk pada buku catatannya.
Tanpa sadar, ia menulis sebuah kalimat pendek.
Partisipasi ≠ kesadaran.
Ia berhenti.
Lalu menambahkan di bawahnya.
Tergantung siapa yang menentukan bentuk partisipasinya.
Beberapa detik kemudian, ia kembali mengangkat kepala.
Perempuan itu masih duduk di sana.
Dari belakang, Raka hanya bisa melihat sedikit sisi wajahnya ketika ia menoleh kepada temannya. Salah satu tangannya memegang mikrofon yang belum sempat diambil kembali oleh panitia. Ia mengatakan sesuatu kepada orang di sebelahnya, lalu tersenyum kecil.
Entah kenapa, Raka memperhatikan senyum itu sedikit terlalu lama.
Ia segera menunduk.
Apa sih?
Seminar berlanjut.
Pertanyaan lain muncul.
Pembicara kedua naik ke panggung.
Raka kembali mencoba berkonsentrasi pada materi, tetapi sesekali matanya bergerak ke arah barisan depan. Ia bahkan tidak tahu siapa perempuan itu. Tidak tahu dari fakultas mana. Tidak tahu namanya.
Yang ia tahu hanya satu.
Ia ingin mendengar perempuan itu berbicara lagi.
Keinginan itu sendiri membuatnya sedikit terganggu.
Bukan karena salah.
Hanya terasa asing.
Selama dua tahun terakhir, Raka sudah terbiasa menjaga sesuatu di dalam dirinya tetap berada pada tempat yang aman. Ketertarikan pada seseorang, terutama perempuan, selalu ia perlakukan seperti api kecil. Boleh dilihat dari jauh, tetapi jangan didekati. Jangan diberi ruang terlalu banyak. Jangan dibiarkan tumbuh.
Karena semakin besar perasaan itu, semakin besar pula kemungkinan seseorang akan kembali menatapnya dengan cara yang sama.
Dan Raka tidak ingin mengulang 2016.
Namun kekaguman tidak selalu meminta izin.
Sesi kedua berlangsung dengan format diskusi panel. Beberapa mahasiswa organisasi duduk di depan bersama pembicara. Topik pembicaraan bergeser ke isu representasi dan peran generasi muda dalam ruang publik. Moderator mulai melempar kesempatan kepada peserta untuk memberikan tanggapan.
Sekali lagi, tangan perempuan itu terangkat.
Raka langsung menyadarinya sebelum dirinya sempat berpura-pura tidak peduli.
“Silakan.”
Perempuan itu berdiri.
Kali ini ia memutar sedikit ke arah tengah ruangan.
Dan untuk pertama kalinya, Raka bisa melihat wajahnya dengan jelas.
Cantik.