Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #4

Perangkap Kesetiaan Tunggal

Kantin pusat selalu lebih berisik daripada yang sebenarnya diperlukan untuk sebuah tempat makan.

Menjelang siang, ketika matahari mulai jatuh tegak di atas halaman kampus dan mahasiswa keluar dari gedung fakultas dalam gelombang-gelombang kecil, ruangan terbuka itu berubah menjadi tempat yang penuh dengan suara. Sendok beradu dengan piring. Kursi kayu bergeser di atas lantai. Penjual minuman meneriakkan pesanan yang tertukar. Di salah satu sudut, minyak panas mendesis ketika potongan ayam dimasukkan ke dalam penggorengan. Aroma bawang goreng, kuah soto, mi instan, kopi sachet, dan asap sate bercampur menjadi satu di udara yang pengap.

Raka duduk di salah satu meja kayu dekat tiang.

Di hadapannya, Bimo sedang mengaduk es teh dengan sedotan sampai es batu di dalam gelas itu berbunyi beradu dengan dinding plastik. Piring nasi goreng di depannya sudah hampir kosong, sementara Raka sendiri baru menghabiskan separuh makan siangnya. Bukan karena makanan itu tidak enak. Sejak tadi pikirannya memang tidak benar-benar berada di kantin.

Bimo memperhatikannya selama beberapa detik.

Kemudian ia bersandar ke belakang.

“Rak.”

“Hm?”

“Lu kenapa?”

Raka mengangkat kepala. “Kenapa apanya?”

“Ya itu.” Bimo menunjuk wajahnya dengan ujung sedotan. “Dari tadi kayak orang lagi mikirin utang tiga ratus juta.”

Raka mengernyit. “Lebay banget.”

“Serius. Nasi lu dari lima menit lalu nggak berkurang banyak.”

“Ini kan berkurang.”

“Setengah sendok.”

Raka melirik piringnya, lalu kembali menatap Bimo dengan ekspresi datar. “Lu makan aja.”

Bimo mendengus pelan. “Nah. Kalau udah nyuruh orang makan padahal dia udah hampir selesai, berarti ada yang nggak beres.”

“Analisis lu jelek.”

“Analisis gua cukup buat tahu lu lagi mikirin seseorang.”

Tangan Raka berhenti.

Hanya sesaat.

Tetapi cukup lama untuk membuat Bimo menyipitkan mata.

“Nah.”

“Apaan?”

“Ketahuan.”

“Apaan yang ketahuan?”

“Ya berarti bener.”

Raka kembali mengambil sendok. “Lu ngarang.”

“Gua udah kenal lu dari semester awal, Rak. Lu kalau lagi mikirin tugas, mukanya beda. Kalau lagi kesel sama dosen, beda lagi. Kalau lagi ngerasa dunia ini penuh orang goblok, beda lagi.”

“Lu merhatiin muka gua amat.”

“Karena muka lu gampang dibaca.”

“Gua rasa nggak.”

“Lu aja yang ngerasa nggak.”

Raka mendecakkan lidah, lalu menyuapkan nasi ke mulut. Ia sebenarnya tahu Bimo hanya sedang bercanda. Sejak awal kuliah, Bimo memang selalu memiliki cara yang santai untuk menusuk ke bagian yang tidak ingin dibicarakan seseorang. Bedanya, ia tidak pernah melakukannya dengan niat buruk. Bimo bukan tipe teman yang memaksa orang membuka rahasia. Ia hanya suka melemparkan dugaan, lalu melihat reaksi orang di depannya.

Masalahnya, dugaan kali ini terlalu dekat.

“Jadi siapa?” tanya Bimo.

“Siapa apaan?”

“Cewek.”

Raka langsung menatapnya.

Bimo tersenyum.

“Gua nggak bilang cewek, lu sendiri yang langsung nengok.”

“Lu emang nyebelin.”

“Berarti bener.”

“Bisa nggak sih lu sekali-sekali salah?”

“Bisa. Tapi bukan sekarang.”

Raka menghela napas. Ia meletakkan sendok, lalu mengambil gelas air mineral. Sebenarnya ia bisa saja terus menyangkal. Mengalihkan pembicaraan. Membahas tugas. Membahas seminar yang baru mereka ikuti beberapa hari sebelumnya. Apa pun.

Namun nama itu sudah terlalu lama berputar di kepalanya sejak seminar tersebut.

Tidak terlalu lama, sebenarnya.

Baru beberapa hari.

Tetapi bagi Raka, beberapa hari sudah cukup untuk menyadari bahwa pikirannya mulai memiliki pola baru.

Saat membaca sesuatu yang menarik, ia kadang bertanya dalam hati bagaimana Anin akan menanggapinya.

Saat mendengar mahasiswa lain berdebat, ia membandingkan cara mereka menyusun argumen dengan cara perempuan itu berbicara.

Bahkan ketika sedang sendirian di kamar kos, membuka catatan kuliah, nama Anin sesekali muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas.

Hal itu seharusnya membuatnya berhenti.

Sebaliknya, ia justru membiarkannya.

“Yang seminar itu,” katanya akhirnya.

Bimo mengerutkan dahi. “Seminar mana?”

“Yang minggu lalu.”

“Yang soal politik sama mahasiswa itu?”

Raka mengangguk.

Bimo berpikir beberapa detik. “Yang di auditorium?”

“Iya.”

“Gua nggak ikut.”

“Ya makanya.”

“Terus?”

Raka diam.

Bimo meletakkan sedotannya.

“Siapa?”

“Anin.”

Ekspresi Bimo berubah.

Bukan menjadi kaget sepenuhnya. Lebih seperti seseorang yang baru saja mendengar temannya mengatakan sesuatu yang tidak masuk ke dalam daftar kemungkinan yang sebelumnya ia pertimbangkan.

“Anin?”

“Iya.”

“Clarissa Anindya?”

Raka mengangguk lagi.

Bimo memandangnya.

Lalu ia perlahan menurunkan tubuh ke sandaran kursi.

“Oh.”

Raka langsung tahu arti kata itu.

“Apa?”

“Enggak.”

“Lu kalau bilang ‘oh’ kayak gitu, biasanya ada lanjutannya.”

“Ya ada.”

“Nah.”

Bimo menghela napas sambil menyilangkan tangan di dada. “Lu serius?”

“Gua baru ketemu dia satu kali.”

“Tapi?”

Raka tidak langsung menjawab.

Suara orang-orang di sekeliling mereka tetap bergerak. Seseorang di meja sebelah tertawa terlalu keras. Seorang mahasiswa membawa dua mangkuk bakso dan hampir menabrak kursi karena berusaha menjawab panggilan temannya. Dari gerobak minuman, terdengar suara blender menyala.

Raka melihat ke arah halaman kampus.

“Gua cuma…” Ia berhenti sebentar. “Gua suka cara dia mikir.”

Bimo menunggu.

“Udah?”

“Ya.”

“Cuma itu?”

“Menurut lu kurang?”

“Bukan kurang.” Bimo menatapnya dengan tatapan yang semakin curiga. “Tapi lu ngomongnya kayak orang lagi berusaha ngecilin sesuatu.”

Raka mengernyit. “Maksud lu?”

“Lu kalau nggak tertarik, lu nggak bakal bahas dia.”

“Gua nggak bahas dia.”

“Barusan lu yang nyebut.”

“Itu karena lu nanya.”

Bimo tersenyum tipis. “Tapi lu jawab.”

Raka tidak membalas.

Bimo kembali mengambil gelas es tehnya. “Oke. Jadi lu suka Anin.”

“Gua nggak bilang suka.”

“Ya kagum.”

Raka tetap diam.

“Dan lu kepikiran dia sejak seminar itu.”

Masih diam.

Bimo mengangkat kedua alisnya.

“Anjir.”

Raka memandangnya datar. “Apaan lagi?”

“Cepet juga.”

“Cepet apanya?”

“Lu tuh kayak orang yang begitu nemu satu titik, langsung bikin rumah di situ.”

Kalimat itu membuat Raka menunduk.

Entah karena Bimo bercanda atau tidak, ada bagian dari dirinya yang tahu bahwa ucapan tersebut tidak sepenuhnya salah.

Ia memang seperti itu.

Sejak dulu.

Raka tidak pernah memahami cara sebagian orang bisa menyukai beberapa orang sekaligus. Baginya, perasaan bukan daftar putar yang bisa dipindah-pindahkan sesuai suasana hati. Begitu seseorang mulai menarik perhatiannya dengan cara tertentu, orang lain seperti kehilangan tempat untuk masuk.

Bukan karena ia sengaja menutup pintu.

Pintu itu memang seolah hanya memiliki satu ruang.

Dan ketika ruang tersebut mulai ditempati, semuanya menjadi sederhana sekaligus menyulitkan.

Sederhana karena ia tidak perlu bingung memilih.

Menyulitkan karena jika orang yang dipilihnya ternyata tidak pernah membuka pintu yang sama, ia tidak tahu harus pergi ke mana.

Bimo masih memandangnya.

“Rak.”

“Hm?”

“Lu bahkan udah pernah ngobrol sama dia?”

“Belum.”

“Pernah kenalan?”

“Belum.”

“Nomornya punya?”

“Enggak.”

“Instagram?”

Raka menatapnya.

Bimo langsung mengangkat tangan. “Oke. Gua nggak nanya lagi.”

“Gua tahu namanya.”

“Ya karena lu denger orang manggil.”

“Terus?”

“Enggak. Gua cuma kagum sama kecepatan otak lu ngumpulin informasi dasar.”

Raka mengambil tisu dari tempatnya. “Lu bisa diem nggak?”

“Bisa.”

“Coba.”

Bimo diam selama tiga detik.

Kemudian ia menoleh ke arah belakang Raka.

“Eh, ngomong-ngomong…”

Raka masih menunduk.

“Lu lihat cewek di sana nggak?”

Raka tidak menoleh.

“Enggak.”

“Yang pake cardigan abu.”

“Bimo.”

“Yang duduk sama dua temennya.”

“Apaan?”

“Junior, kayaknya.”

Raka akhirnya menoleh karena jengkel.

Di beberapa meja dari tempat mereka duduk, seorang mahasiswi memang sedang berbicara dengan dua temannya. Ia mengenakan cardigan abu-abu dan jilbab yang dipasang rapi. Wajahnya ramah. Ketika salah satu temannya mengatakan sesuatu, ia tertawa sambil menutup mulut dengan punggung tangan.

Raka hanya melihat sekilas.

Kemudian kembali menatap Bimo.

“Terus?”

Bimo tersenyum lebar.

“Kenalin, yuk.”

Raka mengerutkan dahi. “Ngapain?”

“Ya kenalan.”

“Buat apa?”

Bimo menghela napas dramatis. “Ya ampun, Rak. Kenalan sama manusia tuh nggak harus ada alasan akademisnya.”

“Gua nggak bilang harus akademis.”

“Terus kenapa nanya buat apa?”

“Karena lu dari tadi keliatan punya maksud.”

“Ya gua punya maksud.”

“Nah.”

Bimo menunjuk ke arah mahasiswi tadi dengan dagunya. “Itu temennya sepupu gua. Namanya Nisa. Anak Sastra Inggris, semester bawah. Orangnya asik. Kemarin gua ngobrol sama dia waktu acara fakultas.”

“Terus?”

“Ya nggak terus apa-apa. Kenalan aja.”

Raka memandang ke arah perempuan itu lagi.

Nisa sedang mendengarkan temannya berbicara. Sesekali ia mengangguk. Ada sesuatu yang hangat dalam caranya memperhatikan orang lain. Bahkan dari jauh, Raka bisa melihat bahwa ia bukan tipe orang yang berusaha menarik seluruh perhatian ke dirinya sendiri.

Secara objektif, tidak ada alasan untuk menolak perkenalan itu.

Ia tampak ramah.

Bimo mengenalnya.

Mereka berada di kampus yang sama.

Lihat selengkapnya