Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #5

Pintu Masuk Bernama "Bantuan"

Perpustakaan pusat selalu terasa seperti tempat yang netral bagi Raka. Di sana, orang-orang datang membawa alasan masing-masing untuk duduk diam. Ada yang benar-benar membaca, ada yang tidur dengan buku terbuka sebagai alibi, ada yang sibuk mengetik sampai sore, dan ada pula yang sekadar mencari ruangan ber-AC tanpa harus membeli minuman mahal. Tidak ada tuntutan untuk menjadi menarik di tempat seperti itu. Tidak ada keharusan untuk berdiri tegak, berbicara keras, atau memikirkan bagaimana orang lain melihat tubuhnya ketika berjalan. Selama ia duduk di balik meja, membuka buku, dan menundukkan kepala pada halaman-halaman yang penuh kalimat, Raka bisa merasa bahwa dirinya memiliki ukuran yang sama dengan siapa pun.

Sore itu, cahaya matahari masuk dari jendela-jendela tinggi di sisi timur gedung, jatuh dalam garis-garis pucat di lantai keramik yang mengilap. Udara dingin dari pendingin ruangan membuat ujung jarinya sedikit kaku, sementara aroma kertas tua bercampur dengan bau samar pendingin ruangan dan kayu dari meja-meja panjang yang sudah bertahun-tahun dipakai mahasiswa. Raka duduk sendirian di salah satu meja dekat rak ilmu sosial, dengan tiga buku terbuka di hadapannya. Satu buku penuh dengan lipatan kecil pada beberapa halaman, satu lagi dipenuhi garis pensil tipis, dan yang terakhir hanya terbuka sebagai pembanding.

Ia sebenarnya tidak sedang terburu-buru menyelesaikan apa pun.

Ada tugas untuk minggu depan, tentu saja. Ada beberapa artikel yang ingin ia baca. Ada pula catatan kuliah yang harus dirapikan. Namun, kalau ia jujur kepada dirinya sendiri, sejak beberapa hari terakhir sebagian dari perhatiannya selalu tertinggal di tempat lain.

Atau, lebih tepatnya, pada seseorang.

Clarissa Anindya Kirana.

Anin.

Nama itu bahkan sudah memiliki bentuk yang berbeda di kepalanya. Tidak lagi sekadar nama seorang mahasiswi Ilmu Politik yang pernah berbicara di seminar fakultas dengan argumen yang membuatnya terdiam dari barisan belakang. Sekarang, setiap kali ia mendengar nama itu disebut di koridor atau melihat siluet seseorang yang sekilas mirip dengannya, tubuh Raka seolah bereaksi lebih dulu sebelum pikirannya sempat menyusul.

Bimo mungkin akan menertawakannya.

“Belum kenal juga udah kayak gini,” begitu kira-kira kata temannya kalau mengetahui seberapa sering Raka tanpa sadar mencari keberadaan Anin di antara kerumunan kampus.

Raka sendiri tidak punya jawaban yang cukup bagus untuk membantahnya.

Ia tahu dirinya tidak mengenal Anin. Ia tahu satu argumen cerdas di seminar tidak cukup untuk menyimpulkan seperti apa seseorang. Ia bahkan belum pernah berbicara langsung dengannya. Semua yang ada di kepalanya sejauh ini hanyalah serpihan kesan yang ia susun sendiri. Cara Anin berdiri saat berbicara. Cara perempuan itu memilih kata-kata. Cara dia tidak terdengar ragu ketika mengkritik pembicara yang memiliki jabatan lebih tinggi.

Itu saja.

Namun, entah mengapa, bagi Raka, itu sudah cukup untuk membuat sesuatu bergerak di dalam dirinya.

Ia sedang membaca ulang satu paragraf ketika suara kursi bergeser beberapa meja di depannya. Suara itu sebenarnya tidak keras. Hanya gesekan pendek antara kaki kursi dan lantai. Tapi ketika seseorang duduk sambil mengembuskan napas panjang dengan cara yang terdengar seperti orang yang baru saja kalah perang, Raka tanpa sengaja mengangkat kepala.

Dan selama beberapa detik, ia lupa bahwa ada kalimat di buku yang belum selesai dibacanya.

Anin duduk di sana.

Jarak mereka tidak terlalu jauh, mungkin tiga meja. Perempuan itu duduk sendirian dengan sebuah laptop terbuka di depannya. Rambutnya tergerai rapi melewati bahu, meskipun beberapa helai mulai jatuh ke sisi wajah karena ia berkali-kali mengusap dahinya. Di samping laptop terdapat dua buku, sebuah buku catatan, beberapa lembar kertas hasil cetakan, dan botol minum yang belum disentuh.

Raka mengenalinya bahkan sebelum otaknya selesai memastikan.

Ada sesuatu yang aneh tentang melihat seseorang yang selama ini hanya hidup sebagai sosok di kejauhan tiba-tiba berada beberapa meter dari tempat duduknya. Dalam ingatannya, Anin selalu tampak seperti seseorang yang sulit didekati. Terlalu rapi. Terlalu yakin. Terlalu tahu apa yang ingin dikatakannya.

Tetapi sore itu, perempuan itu sedang menatap layar laptop dengan wajah kusut.

Anin mengetik beberapa kata.

Berhenti.

Menghapus semuanya.

Mengetik lagi.

Lalu menghapus lagi.

Raka menundukkan pandangan kembali ke bukunya.

Jangan lihatin terus, pikirnya.

Ia mencoba membaca.

Dua kalimat.

Kemudian ia kembali melirik.

Anin sedang menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memutar-mutar pulpen. Keningnya berkerut. Bibirnya bergerak sedikit seperti sedang mengulang sebuah kalimat di dalam kepala. Beberapa detik kemudian, ia menjatuhkan pulpen ke meja dengan ekspresi kesal yang ditahan.

Raka hampir tersenyum.

Bukan karena senang melihatnya kesulitan. Justru sebaliknya. Ada sesuatu yang membuat sosok perempuan itu terasa jauh lebih nyata ketika ia sedang frustrasi. Untuk pertama kalinya sejak melihat Anin di seminar, Raka tidak melihatnya sebagai figur yang berdiri di atas panggung.

Dia juga bisa mentok.

Pikiran itu datang begitu saja.

Dan setelahnya, sesuatu yang lain muncul.

Mungkin aku bisa bantu.

Raka langsung menunduk lagi.

Tidak.

Jangan sok.

Ia tahu betul kebiasaan itu. Otaknya selalu bekerja lebih cepat daripada keberaniannya, lalu keberaniannya datang terlambat ketika kesempatan sudah lewat. Berkali-kali dalam hidupnya, Raka menemukan jawaban untuk sesuatu setelah percakapan selesai. Ia bisa memikirkan argumen yang bagus di kamar kos, tetapi memilih diam saat diskusi sedang berlangsung. Ia bisa membayangkan seratus cara membuka percakapan, tetapi ketika benar-benar harus melakukannya, tenggorokannya terasa seperti tertutup.

Apalagi sekarang.

Ini Anin.

Perempuan yang baru beberapa hari lalu ia yakini sebagai sosok yang mungkin berbeda dari perempuan-perempuan yang selama ini membentuk ketakutannya.

Tangannya bergerak untuk membalik halaman, tetapi matanya sudah tidak lagi membaca.

Dari tempat duduknya, Raka bisa melihat layar laptop Anin sekilas ketika perempuan itu memiringkannya sedikit. Judul dokumen tertulis dengan huruf besar. Sebuah esai tentang relasi antara ruang publik, representasi politik, dan pengalaman kelompok yang tidak selalu memiliki akses yang sama terhadap kekuasaan.

Raka berhenti.

Ia mengenal topiknya.

Bukan hanya mengenal. Ia pernah membaca beberapa teori yang berkaitan dengan pembahasan itu untuk tugas mata kuliah lain. Bahkan buku yang sedang terbuka di hadapannya sekarang memiliki satu bab yang secara tidak langsung bisa digunakan untuk membangun pendekatan konseptual terhadap persoalan tersebut.

“Ya ampun.”

Suara pelan itu keluar dari mulut Anin.

Raka menoleh lagi.

Perempuan itu sedang memandangi layar dengan kedua tangan menutup wajah.

Jantung Raka berdetak sedikit lebih cepat.

Sekarang.

Kalau mau, sekarang.

Ia menunggu beberapa detik.

Tidak ada yang terjadi.

Tentu saja. Tidak ada alasan apa pun yang akan terjadi kalau ia hanya duduk dan berharap keberanian datang sendiri.

Raka menelan ludah. Tangannya merapikan buku yang sebenarnya sudah rapi. Ia memasukkan pulpen ke sela halaman, lalu mengeluarkannya lagi. Kakinya bergerak sedikit di bawah meja.

Berdiri.

Jangan.

Berdiri.

Nanti aneh.

Dia juga nggak kenal kamu.

Justru karena nggak kenal.

Pikiran-pikiran itu saling bertabrakan dengan cepat, sampai akhirnya Raka merasa lelah hanya karena duduk diam. Ia mengembuskan napas, lalu berdiri sebelum dirinya sendiri sempat membatalkan keputusan itu.

Langkah pertama terasa biasa saja.

Langkah kedua juga.

Pada langkah ketiga, kesadarannya mulai menyerangnya.

Kamu pendek.

Dia pasti bakal lihat kamu dari atas.

Kamu ngapain sih tiba-tiba nyamperin?

Raka hampir berhenti.

Lalu ia teringat satu hal yang membuatnya terus berjalan.

Dia lagi butuh bantuan.

Setidaknya itu alasan yang masuk akal.

Ia berhenti di sisi meja Anin, tidak terlalu dekat. Cukup jauh agar tidak membuat perempuan itu merasa ruang pribadinya diserbu. Selama satu detik, Raka hanya berdiri dengan tangan di samping tubuhnya, sementara keberanian yang tadi memaksanya bangkit entah ke mana.

Anin belum menyadari keberadaannya.

Raka berdeham pelan.

Perempuan itu menoleh.

Dan untuk sesaat, Raka merasa seluruh tubuhnya kehilangan instruksi tentang apa yang harus dilakukan.

Tatapan Anin tidak menunjukkan jijik.

Tidak juga heran.

Hanya bertanya.

“Ya?”

Satu kata sederhana.

Namun Raka membutuhkan waktu hampir dua detik sebelum berhasil menjawab.

“Eh... maaf.”

Anin menunggu.

Raka langsung merasa bodoh.

“Maaf ganggu,” lanjutnya cepat. “Aku tadi nggak sengaja lihat judul tulisanmu.”

Anin melirik layar laptopnya, lalu kembali menatap Raka. “Oh.”

“Bukan maksudnya ngintip, ya,” kata Raka buru-buru. “Cuma... kebetulan kelihatan dari sini.”

Aduh.

Kenapa malah tambah panjang?

Ekspresi Anin berubah sedikit. Bukan tersinggung. Seolah ia sedang menahan senyum.

“Iya, nggak apa-apa.”

Raka mengangguk, tetapi setelah itu ia kembali terdiam. Kesempatan yang tadi ia pikirkan berulang kali sekarang ada tepat di depannya, dan ia hampir saja membiarkannya mati begitu saja karena tidak tahu bagaimana melanjutkan kalimat.

Akhirnya ia menunjuk layar laptop dengan gerakan kecil.

“Itu... kamu lagi kesulitan di bagian kerangka teorinya?”

Anin memandangnya beberapa saat.

“Kok tahu?”

“Kelihatan.”

“Kelihatan banget?”

Raka menatap meja.

“Lumayan.”

Anin akhirnya tersenyum kecil.

Senyum itu tidak besar. Tidak dramatis. Hanya sudut bibir yang sedikit terangkat. Tetapi entah mengapa, Raka langsung merasa seluruh ketegangan di tubuhnya berubah bentuk.

“Iya,” kata Anin kemudian. Ia menyandarkan punggung ke kursi. “Aku lagi mentok. Topiknya udah ada, argumennya juga sebenarnya ada. Tapi makin ditulis malah kayak... berantakan.”

“Boleh lihat?”

Kalimat itu keluar sebelum Raka sempat memikirkan apakah dirinya terdengar terlalu percaya diri.

Anin mengangkat alis.

“Kamu ngerti topiknya?”

Raka tidak langsung menjawab. Ia merasa pertanyaan itu wajar. Mereka benar-benar belum saling mengenal. Dari sudut pandang Anin, seorang laki-laki yang tiba-tiba datang dari meja lain lalu menawarkan bantuan bisa saja hanya sedang mencari alasan untuk mengajak bicara.

“Aku pernah baca beberapa referensi yang mirip,” katanya. “Kalau kamu nggak keberatan, mungkin aku bisa kasih pendapat. Kalau nggak cocok, ya anggap aja aku nggak pernah nyamperin.”

Anin menatapnya sekali lagi.

Kemudian ia menggeser sedikit kursi di sampingnya.

“Duduk aja.”

Jantung Raka langsung berdetak terlalu keras.

Ia berusaha agar langkahnya tetap normal ketika berjalan ke kursi itu. Begitu duduk, ia langsung sadar bahwa posisi mereka cukup dekat. Tidak sedekat itu sebenarnya. Masih ada jarak yang sopan. Tetapi bagi seseorang yang selama beberapa hari terakhir bahkan hanya bisa memandang perempuan ini dari jauh, jarak tersebut terasa seperti perubahan besar.

“Namamu siapa?” tanya Anin sambil memutar laptop sedikit ke arahnya.

Raka menoleh.

“Raka.”

“Raka...?”

“Raka Aditya Pratama.”

Anin mengulangnya pelan, seolah mencatatnya.

Lihat selengkapnya