Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #6

Langkah di Sampingnya

Sore mulai turun ketika Raka dan Anin akhirnya keluar dari pintu Perpustakaan Pusat. Cahaya matahari yang sejak tadi menembus jendela-jendela tinggi kini sudah berubah warna, tidak lagi putih menyilaukan, melainkan keemasan dan lembut, jatuh miring di atas trotoar kampus yang panjang. Di kejauhan, pohon-pohon angsana berdiri berderet seperti pagar tua yang menaungi jalan utama, daunnya bergerak perlahan setiap kali angin sore melintas. Mahasiswa hilir mudik membawa ransel, map, dan tumpukan buku, sebagian berjalan berkelompok sambil tertawa, sebagian lain menunggu ojek di dekat gerbang. Suasana kampus mulai berubah dari kesibukan akademik menjadi ritme pulang, ketika orang-orang sudah tidak lagi terburu-buru masuk kelas, tetapi juga belum benar-benar ingin meninggalkan tempat yang sepanjang hari mereka penuhi dengan suara.

Raka berjalan di sebelah Anin.

Kesadaran itu datang begitu sederhana hingga justru terasa mengganggu.

Dia berjalan di sebelah Anin.

Bukan beberapa meter di belakang. Bukan duduk berjauhan di auditorium sambil memperhatikannya dari barisan belakang. Bukan sekadar mengamati perempuan itu dari sudut perpustakaan sambil bertanya-tanya apakah suatu hari mereka akan benar-benar saling mengenal. Kali ini, langkah mereka bergerak di jalur yang sama. Kecepatan mereka hampir sama. Sesekali bahu Anin bergeser mendekat ketika perempuan itu menoleh untuk berbicara, lalu kembali lurus saat memperhatikan jalan di depan.

Dan justru karena itu, seluruh tubuh Raka seperti lupa bagaimana cara bersikap normal.

“Jadi,” kata Anin sambil menyesuaikan tali tas yang menggantung di pundaknya, “serius, tadi itu kamu langsung kepikiran teori itu dari awal?”

Raka menoleh sebentar. “Yang mana?”

“Ya ampun, sok lupa.” Anin memicingkan mata dengan ekspresi geli. “Yang tadi. Tentang esai aku.”

“Oh.” Raka mengangguk kecil, lalu kembali menatap lurus ke depan. “Nggak langsung, sih. Cuma kayaknya masalahnya dari awal bukan kamu nggak punya bahan. Kamu kebanyakan bahan, tapi belum nemu jalur buat ngerangkainya.”

Anin mengangkat alis. “Terus kamu bisa tahu cuma dari lihat layar laptop aku lima menit?”

“Kurang lebih.”

“Pede banget.”

Raka langsung menegang.

Anin tertawa kecil. “Eh, bukan gitu. Maksudku... keren.”

Kata terakhir itu ringan. Nyaris seperti tidak memiliki bobot. Hanya satu kata yang keluar begitu saja dalam percakapan sore hari, mungkin bahkan tidak akan diingat lagi oleh Anin setelah dia sampai rumah.

Namun bagi Raka, kata itu seperti sesuatu yang dilemparkan ke sebuah ruangan kosong dan terus memantul dari dinding ke dinding.

Keren.

Dia menundukkan kepala sedikit, berusaha menyembunyikan senyum yang mulai muncul tanpa izin. “Biasa aja.”

“Nggak biasa.”

Anin mengatakan itu sambil berjalan, tanpa berhenti, tanpa menoleh secara dramatis. Justru karena cara mengatakannya begitu alami, Raka semakin tidak tahu harus menjawab apa.

“Kalau aku jadi kamu,” lanjut Anin, “aku mungkin udah capek sendiri punya banyak hal di kepala.”

Raka tertawa kecil. “Aku juga sering capek sendiri.”

“Nah, berarti manusia.”

“Syukurlah. Aku kira aku selama ini lemari buku berjalan.”

Anin tertawa. Tawa itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat beberapa orang di depan mereka menoleh sesaat sebelum kembali pada urusan masing-masing.

Dan pada saat itulah Raka sadar bahwa dia mulai lupa memperhatikan jalan.

Bukan karena Anin.

Karena dirinya sendiri.

Dia langsung membetulkan langkah.

Anin mengenakan sepatu bertumit rendah sore itu. Tidak tinggi, sebenarnya. Tumitnya mungkin hanya beberapa sentimeter. Tetapi bagi orang lain, hal seperti itu tidak akan menjadi persoalan. Bagi Raka, perbedaan sekecil itu bisa berubah menjadi sesuatu yang memenuhi seluruh kesadarannya.

Sekarang, ketika berjalan di samping Anin, tinggi perempuan itu terasa lebih menonjol daripada biasanya.

Atau mungkin Raka saja yang tidak mampu berhenti menghitung.

Dia tidak benar-benar tahu.

Raka menatap bayangan mereka yang jatuh memanjang di atas trotoar. Cahaya matahari sore membuat dua sosok itu terlihat seperti gambar yang ditarik panjang. Dalam bayangan, perbedaan tinggi mereka tidak terlalu kentara. Bahkan ada satu momen ketika bayangan keduanya saling bertumpuk karena arah cahaya berubah.

Raka memperhatikan itu terlalu lama.

Sampai akhirnya Anin bertanya, “Kamu kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kamu dari tadi lihat bawah terus.”

“Oh.” Raka segera mengangkat kepala. “Nggak. Cuma... nggak kenapa-kenapa.”

Anin menatapnya beberapa detik. “Kamu kalau bohong kelihatan, tahu.”

Jantung Raka seperti tersandung.

“Aku nggak bohong.”

“Nah, makin kelihatan.”

“Aku cuma lagi mikir.”

“Mikirin apa?”

Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Apa yang harus dia katakan?

Aku lagi mikir apakah orang-orang yang lihat kita jalan bareng merasa aneh?

Aku lagi mikir apakah kamu sadar aku kelihatan pendek di sebelahmu?

Aku lagi mikir kenapa aku senang sekali bisa berjalan di sampingmu, tapi pada saat yang sama ingin segera menghilang karena takut orang-orang melihat kita terlalu lama?

Tidak ada satu pun kalimat itu yang keluar.

“Banyak,” jawabnya akhirnya.

Anin mengangguk seolah menerima jawaban tersebut. “Ya, itu sih aku udah tahu.”

Raka meliriknya.

“Kelihatan banget.”

“Apanya?”

“Kamu tuh kayak... selalu lagi mikir.”

“Emang kelihatan?”

“Banget.”

Raka mengembuskan napas pelan.

Dia tidak tahu apakah itu sesuatu yang seharusnya membuatnya senang atau justru malu. Selama ini dia selalu berusaha menjadi orang yang sulit dibaca. Tidak karena dia misterius atau sengaja ingin terlihat dingin, tetapi karena ada terlalu banyak hal dalam dirinya yang tidak ingin dia jelaskan kepada orang lain. Dia lebih nyaman membiarkan orang mengira dia pendiam daripada mengetahui bahwa kepalanya sering kali terlalu berisik.

Mereka terus berjalan.

Trotoar kampus semakin ramai karena banyak mahasiswa yang bergerak menuju gerbang utama. Ada yang mengobrol sambil membawa helm, ada yang berhenti untuk membeli minuman di gerobak kecil dekat taman, ada pula sepasang mahasiswa yang berjalan terlalu dekat satu sama lain sampai Raka refleks memalingkan wajah. Di sekitar mereka, kehidupan bergerak dengan cara yang terasa sangat normal.

Justru itu yang membuat Raka semakin sadar bahwa dirinya tidak merasa normal.

Seorang mahasiswa laki-laki bertubuh tinggi berjalan dari arah berlawanan bersama dua temannya. Ketika berpapasan, pandangan salah satu dari mereka sempat bergeser ke arah Raka dan Anin.

Hanya sepersekian detik.

Mungkin tidak ada arti apa-apa.

Tetapi Raka langsung merasakan bahunya mengeras.

Langkahnya berubah.

Tanpa sadar, dia sedikit memperlambat langkah.

Anin yang sebelumnya berjalan sejajar kini maju setengah langkah.

Raka segera mempercepat langkahnya lagi.

Bodoh.

Dia tahu dia sedang bertingkah aneh. Dia tahu tidak ada orang yang mungkin memperhatikan detail sekecil itu. Orang-orang punya hidup sendiri. Tidak ada yang cukup peduli untuk menghitung berapa sentimeter perbedaan tinggi antara dirinya dan perempuan yang sedang berjalan bersamanya.

Tetapi mengetahui sesuatu secara rasional tidak selalu berarti bisa mempercayainya secara emosional.

Raka pernah belajar itu dengan cara yang buruk.

“Raka.”

“Hmm?”

“Kamu kenapa jalannya berubah-ubah?”

Dia hampir tersandung.

“Berubah apaan?”

“Dari tadi.”

“Enggak.”

Anin berhenti.

Raka, yang sudah berjalan dua langkah lebih jauh, ikut berhenti dan menoleh.

Lihat selengkapnya