Malam datang bersama hujan yang tidak pernah benar-benar deras.
Gerimis turun sejak magrib, menitik di kaca jendela kamar kos Raka dan meninggalkan jejak-jejak kecil yang berkelok sebelum menghilang di kusen. Dari luar, suara kendaraan sesekali memecah jalanan yang basah, lalu kembali tenggelam di antara dengung kipas angin tua dan musik samar dari kamar sebelah. Lampu kamar Raka menyala sejak sore, tetapi buku yang terbuka di atas meja sudah hampir satu jam tidak disentuhnya. Sebuah artikel jurnal terhampar di depan laptop, halaman yang sama sejak tadi, sementara kursor di layar berkedip-kedip seperti sedang mengejek pemiliknya karena tidak menghasilkan satu kalimat pun.
Ponselnya bergetar.
Raka menoleh begitu cepat sampai kursinya bergeser sedikit. Refleks itu membuatnya sendiri merasa bodoh. Tidak ada alasan untuk selalu mengira setiap getaran berasal dari orang yang sama, pikirnya. Bimo kadang mengirim meme tidak lucu tengah malam. Grup kelas bisa tiba-tiba ramai karena ada tugas yang baru diingat seseorang. Bahkan operator seluler lebih sering menghubunginya daripada beberapa teman yang benar-benar ia kenal.
Namun, ketika nama itu muncul di layar, pikirannya mendadak berhenti.
Anin.
Dadanya seperti disentuh sesuatu yang kecil tetapi tepat mengenai tempat yang paling sensitif.
Raka mengambil ponsel itu.
Hanya satu kata.
Jempol Raka langsung mengetik balasan.
Tiga titik muncul, lalu hilang. Muncul lagi.
Raka menunggu.
Alis Raka langsung bertaut.
Balasan itu datang sedikit lebih lama.
Raka menatap layar beberapa detik.
Kalimat pendek itu seharusnya sederhana. Hanya informasi. Tidak ada permintaan. Tidak ada perintah. Anin tidak menulis, tolong belikan aku obat. Tidak pula menulis, aku butuh bantuan. Tetapi di kepala Raka, kalimat itu sudah berkembang menjadi serangkaian kemungkinan yang bergerak terlalu cepat.
Dia demam.
Belum makan.
Malam.
Di luar hujan.
Mungkin dia tidak punya siapa-siapa yang bisa dimintai tolong.
Pikiran terakhir itu membuat Raka langsung berdiri.
Kursinya mundur dan salah satu kaki kursi berdecit di lantai. Ia bahkan belum sempat memikirkan mengapa kemungkinan bahwa Anin mungkin memiliki teman, tetangga, atau siapa pun yang bisa membantunya tidak muncul sebagai pertimbangan utama. Yang muncul pertama justru dirinya sendiri.
Seakan-akan memang sudah menjadi tugasnya.
Raka mengambil jaket yang tergantung di belakang pintu. Jaket itu sudah agak tipis di bagian siku dan resletingnya kadang macet, tetapi masih cukup untuk menahan angin. Ia meraih dompet, memasukkan ponsel ke saku celana, lalu baru berhenti ketika menyadari sesuatu.
Apa dia harus menawarkan bantuan?
Pertanyaan itu membuat tangannya tertahan di gagang pintu.
Bisa saja Anin hanya sedang mengeluh. Bisa saja dia sekadar ingin ditemani mengobrol. Bisa saja kalau Raka tiba-tiba mengatakan akan datang membawa makanan dan obat, Anin justru merasa terganggu.
Atau mungkin lebih buruk.
Mungkin Anin akan berpikir dia terlalu berlebihan.
Raka berdiri diam selama beberapa detik, mendengarkan hujan di luar. Lalu layar ponselnya kembali menyala.
Pertanyaan itu menghapus semua keraguan dalam satu tarikan napas.
Raka langsung mengetik.
Sudut bibir Raka bergerak sedikit. Bukan senyum penuh, lebih seperti kebiasaan kecil yang muncul setiap kali melihat cara Anin berbicara santai kepadanya.
Beberapa detik.
Raka menatap kata itu.
Serius.
Entah mengapa, satu kata sederhana itu terasa seperti izin.
Padahal dari jendela, ia bisa melihat jalanan di depan kos mulai mengilap oleh air.
Kalimat itu membuat sesuatu di dalam dada Raka menghangat.
Kalau kamu nggak keberatan.
Seolah ada pilihan.
Seolah Raka sedang melakukan sesuatu yang benar-benar dibutuhkan.
Ia mengetik cepat.
Raka tidak menunggu balasan. Ia membuka pintu kamar, menuruni tangga kos dengan langkah cepat, lalu menuju tempat parkir kecil di samping bangunan. Motor tuanya berdiri di bawah kanopi seng yang bocor di beberapa bagian. Ada titik-titik air jatuh tepat di jok, membentuk lingkaran gelap.
Ia menyeka jok itu sekadarnya dengan telapak tangan.
Ketika mesin dinyalakan, motor itu batuk dua kali sebelum akhirnya hidup.
Raka mengenakan helm.
Baru setelah motor keluar dari halaman kos dan udara malam yang basah menyentuh wajahnya, sebuah pikiran muncul.
Kenapa aku segini semangatnya cuma buat beliin obat?
Ia langsung menepisnya.
Karena Anin sakit.
Itu saja.
Bukankah wajar membantu orang sakit?
Lampu-lampu toko di sepanjang jalan tampak buram karena terkena gerimis. Aspal memantulkan warna merah dan putih dari lampu kendaraan, sementara beberapa mahasiswa yang masih berada di luar berlarian kecil sambil menutupi kepala dengan tas atau map. Raka mengendarai motornya lebih cepat daripada biasanya, meskipun tidak sampai membahayakan. Sesekali ban motornya melindas genangan tipis dan air terciprat ke celana.
Ia tidak peduli.
Di kepalanya hanya ada satu gambaran.
Anin sedang sendirian di kamar kos.
Mungkin berbaring sambil menggigil.
Mungkin menatap langit-langit.
Mungkin lapar.
Pikiran itu cukup untuk membuat Raka kembali memutar gas.
Apotek kampus masih buka ketika ia tiba. Bangunannya kecil, dengan papan nama hijau yang sudah sedikit kusam di bagian ujung. Di dalam, lampu putih menyala terang dan membuat orang yang baru masuk dari luar merasa seperti berpindah dari malam ke tempat lain yang steril dan dingin.
Raka melepas helm.
“Mas, ada obat buat demam?” tanyanya kepada petugas di balik meja.
“Buat siapa?”
“Perempuan. Umur dua puluh.”
“Keluhannya apa?”
“Demam. Badan meriang. Belum makan juga.”
Petugas itu mengangguk sambil mengambil beberapa obat dari rak. Raka memperhatikan dengan serius ketika diberi penjelasan mengenai aturan minum. Ia bertanya lagi untuk memastikan obat mana yang harus diminum setelah makan dan mana yang tidak. Petugas itu menjawab dengan sabar.
“Kalau demamnya tinggi atau nggak turun, mending periksa ya, Mas.”
“Iya.”
Raka mengangguk.
Ia membayar, lalu memasukkan obat ke dalam kantong plastik. Setelah itu ia kembali ke motor, tetapi belum langsung pergi ke kos Anin. Ia berhenti di sebuah tempat makan yang masih buka di dekat perempatan.
Bubur ayam.
Pilihan paling aman untuk orang sakit, pikirnya.
Warung itu hampir kosong. Hanya ada dua mahasiswa di meja pojok dan seorang bapak yang sedang menunggu bungkusannya selesai disiapkan. Aroma kaldu hangat bercampur dengan bau tanah basah yang masuk dari depan warung. Raka memesan satu porsi bubur tanpa terlalu banyak sambal.
“Telurnya pakai, Mas?” tanya penjual.
Raka sempat berpikir.
“Pakai. Tapi jangan pedas.”
“Daun bawang?”
“Pakai.”
Ia berhenti.
“Eh, kalau orang demam enaknya gimana?”
Penjual bubur itu memandangnya.
“Ya, tergantung orangnya.”
“Bukan. Maksud saya, makanannya.”
“Bubur ya aman.”
Raka mengangguk, merasa pertanyaannya sendiri terdengar konyol.
Ketika bubur itu selesai dibungkus, ia kembali memeriksa ponselnya. Ada satu pesan baru.
Jantungnya berdebar sedikit lebih cepat.
Raka membaca pesan itu dua kali.
Lalu tiga kali.
Ia memasukkan ponsel kembali ke saku sebelum sempat memikirkan betapa berlebihan reaksinya terhadap kalimat tersebut.
Perjalanan menuju kos Anin sedikit lebih jauh dari apotek. Raka pernah beberapa kali melewati kawasan itu sebelumnya, tetapi malam ini ia merasa setiap belokan menjadi lebih panjang. Gang-gangnya sempit dan sebagian jalan masih berupa paving yang tidak rata. Hujan membuat beberapa bagian licin. Lampu jalan berdiri berjauhan, sehingga ada bagian gang yang terang, lalu beberapa meter kemudian kembali gelap.