Makasih Sudah Bertahan

Diva Amane
Chapter #8

Rutinitas yang Diterima Begitu Saja

Pada awalnya, semuanya masih terasa seperti kebetulan-kebetulan kecil.

Raka tidak pernah duduk suatu pagi sambil membuat keputusan bahwa mulai hari itu hidupnya harus mengikuti kebutuhan Clarissa Anindya Kirana. Tidak ada sumpah, tidak ada janji, bahkan tidak ada percakapan khusus yang mengubah posisi mereka menjadi sesuatu yang berbeda. Semua terjadi dengan cara yang jauh lebih sederhana dan, karena kesederhanaannya itu, justru sulit disadari ketika perlahan-lahan berubah menjadi kebiasaan.

Berawal dari satu pesan.

Lalu satu permintaan.

Kemudian satu lagi.

Dan tanpa Raka sadari, nama Anin mulai memiliki kemampuan aneh untuk menggeser seluruh susunan prioritas dalam kepalanya.

Pagi itu, misalnya, Raka baru saja duduk di salah satu bangku beton di depan gedung fakultas. Matahari belum terlalu tinggi, tetapi kampus sudah penuh oleh suara-suara yang saling bertumpuk. Ada mahasiswa yang berjalan tergesa sambil membawa map, ada yang duduk di bawah pohon sambil menunggu teman, dan ada pula yang sibuk memandangi layar ponsel dengan wajah serius seolah kehidupan mereka sedang ditentukan oleh satu pesan WhatsApp.

Raka membuka laptop.

Hari itu ia seharusnya menyelesaikan revisi tugas analisis sosial yang harus dikumpulkan sebelum pukul dua siang. Semalam ia sudah membaca ulang sebagian besar bahan, tetapi masih ada beberapa bagian yang ingin ia perbaiki. Raka termasuk orang yang sulit mengirim tugas begitu saja jika ia masih menemukan satu kalimat yang menurutnya bisa dibuat lebih tepat. Ia bisa menghabiskan dua puluh menit hanya untuk memindahkan satu paragraf, lalu mengembalikannya ke posisi semula karena menyadari susunan pertama ternyata lebih baik.

Baru saja ia mengetik dua kalimat, ponselnya bergetar.

Raka menoleh.

Nama itu muncul.

Anin.

Tangannya otomatis berhenti.

Pesan masuk.

Sudut bibir Raka bergerak.

Ia membalas hampir seketika.

Tiga titik muncul.

Jantung Raka, yang seharusnya tidak memiliki alasan apa pun untuk bereaksi terhadap kalimat sesederhana itu, langsung berdetak sedikit lebih cepat.

Raka melihat ke arah gedung tempat percetakan kecil langganan mahasiswa berada.

Tempat itu sebenarnya tidak dekat dari tempat ia duduk. Ia harus berjalan melewati dua gedung, menyeberang jalan kecil di belakang fakultas, lalu kembali lagi jika ingin masuk kelas tepat waktu.

Namun jawabannya sudah selesai diketik sebelum pertimbangan itu benar-benar terbentuk.

Raka melirik laptop.

Dokumen tugasnya terbuka.

Kursor masih berkedip di tengah kalimat.

Ia mengetik.

Padahal tidak.

Tetapi kata itu terasa lebih mudah ditulis.

Beberapa detik kemudian, file masuk.

Raka menutup laptopnya.

“Anjir.”

Suara dari samping membuatnya menoleh. Bimo baru saja datang sambil membawa tas ransel yang salah satu talinya putus di bagian ujung. Rambutnya masih agak basah, entah karena mandi terlalu terburu-buru atau karena tadi sempat terkena hujan sisa malam.

“Belum juga lima menit duduk, udah pindah agenda?”

“Bukan urusan lo.”

Bimo menjatuhkan tubuh ke bangku di sebelahnya.

“File siapa?”

Raka memasukkan laptop ke dalam tas.

“Temen.”

“Temen siapa?”

“Ya temen.”

Bimo menatapnya.

Raka tidak membalas tatapan itu.

“Anin?”

Raka berdiri.

“Gue mau print dulu.”

“Raka.”

“Apa?”

“Gue kenal lo dari semester awal.”

“Terus?”

“Kalau lo jawab pendek-pendek sambil buru-buru kabur, berarti jawabannya iya.”

Raka menghela napas.

“Cuma ngeprint.”

“Ya, gue nggak bilang lo habis transaksi narkoba.”

“Bim.”

“Oke, oke. Pergi sana.”

Raka berjalan meninggalkan bangku, sementara Bimo masih terdengar tertawa kecil di belakangnya.

Tempat percetakan sudah cukup ramai ketika ia tiba. Beberapa mahasiswa berdiri sambil menunggu nomor panggilan, sebagian lain memegang flashdisk atau lembaran revisi. Raka berdiri hampir lima belas menit, lalu mengeluarkan uang dari dompet untuk membayar hasil cetakan Anin.

Saat menunggu, ponselnya kembali berbunyi.

Raka membaca pesan itu.

Tidak ada tanda bahwa Anin ragu meminta tambahan bantuan.

Ia mengetik.

Raka memasukkan ponsel ke saku.

Entah kenapa, empat huruf vokal tambahan di akhir kata itu terasa cukup untuk menghapus kejengkelannya karena harus kembali mengantre.

Ketika hasil cetakan selesai, ia membawanya ke tempat penjilidan kecil di sebelah. Setelah semuanya selesai, Raka berjalan kembali ke fakultas Anin. Matahari sudah semakin panas. Ia mulai berkeringat di bagian punggung, sementara map berisi tugas Anin dipegang erat agar tidak tertekuk.

Di depan gedung, Anin sudah menunggu.

Hari itu ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, rambutnya dibiarkan jatuh melewati bahu. Ada dua temannya yang berdiri tidak jauh dari sana, tetapi begitu melihat Raka datang, Anin langsung melangkah menghampiri.

“Ya ampun, akhirnya!”

Raka menyerahkan map itu.

“Nih.”

Anin membuka sedikit bagian depan, memeriksa isi dokumen, lalu wajahnya langsung terlihat lega.

“Lengkap?”

“Lengkap.”

“Dijilid juga?”

“Iya.”

Anin memandangnya.

“Kamu beneran ngebantuin semuanya?”

Raka mengangkat bahu.

“Kan sekalian.”

“Makasiih, Rak.”

Anin tersenyum.

Senyum itu hanya berlangsung beberapa detik sebelum salah satu temannya memanggil namanya dari belakang.

“Anin, ayo. Dosen udah masuk.”

“Oh iya.”

Anin langsung berbalik, lalu kembali menoleh sebentar kepada Raka.

“Nanti aku ganti uangnya.”

“Nggak usah.”

“Serius?”

“Iya.”

“Thanks.”

Kemudian ia pergi.

Begitu saja.

Raka berdiri beberapa detik sambil melihat punggung Anin yang semakin menjauh. Salah satu temannya menoleh sekilas ke arahnya, mungkin hanya karena penasaran siapa mahasiswa yang baru saja mengantar tugas tersebut. Raka segera memalingkan wajah.

Tidak ada apa-apa.

Cuma membantu.

Ia kembali ke fakultasnya sendiri.

Ketika akhirnya membuka laptop, waktu sudah jauh lebih sedikit daripada yang ia rencanakan. Tugasnya belum selesai. Ada bagian analisis yang harus diperbaiki. Raka mengusap wajah, lalu mulai mengetik dengan cepat.

Namun, di tengah pekerjaannya, ponsel kembali berbunyi.

Ia menatap layar.

Anin.

Raka menghela napas kecil, hampir seperti seseorang yang tahu bahwa dirinya seharusnya tidak langsung membuka pesan itu.

Tetapi ia tetap membukanya.

Raka menghentikan ketikan.

Catatan itu ada.

Di kamar kos.

Artinya ia tidak bisa langsung memberikannya.

Namun, ia mengetik.

Kata-kata terakhir itu seharusnya cukup.

Nggak urgent banget.

Artinya Anin tidak benar-benar membutuhkan sekarang.

Raka bisa mengatakan bahwa catatannya ada di kos dan baru bisa dibawa besok.

Ia bahkan sudah mulai mengetik kalimat itu.

Lalu berhenti.

Sebaliknya, ia menghapusnya.

Pesan langsung dibaca.

Raka menatap kata-kata itu.

Kemudian tersenyum tipis.

Lihat selengkapnya